Home

Jaka & Dara
Sebuah cerita fiksi yang ditulis oleh Agus briyan, penulis copo
yang masih harus banyak belajar. Cerita ini hanyalah
sarana untuk mengilustrasikan makna di balik
kehidupan semu yang begitu penuh misteri. Perlu
anda ketahui, orang yang bijak itu adalah orang yang
tidak akan menilai kandungan sebuah cerita sebelum
ia tuntas membacanya.
.
Jika anda ingin membaca/mengunduh cerita lainnya
silakan kunjungi :
http://www.bloggerphotograpy.blogspot.com
Salurkan donasi anda melalui:

Malam minggu pas ivent valentine, cuaca sangat
cerah, bintang-bintang terlihat indah menghiasi
angkasa. Di sebuah kamar, seorang cewek remaja
sedang asyik berdandan di depan cermin yang
berbentuk oval. Rambutnya yang sebahu tampak
dikepang banyak kecil-kecil dan diikat dengan karet
warna-warni. Kini dia tengah menghias wajahnya yang
cantik. Setelah terlihat oke, cewek itu pun mengambil
botol minyak wanginya. SSS.. SSS… minyak wangi
tampak disemprotkan hampir ke sekujur tubuh.
“Nah, ini baru wangi,” katanya sambil tersenyum
manis.
Tiba-tiba cewek itu merasa ada sesuatu yang
kurang, lalu dengan serta-merta dia kembali
bercermin—memperhatikan bagian dadanya yang
tampak rata. Menyadari itu, si Cewek pun enggak
M
3
kehabisan akal, kemudian dengan dua bongkah
spoons—dia membuatnya menjadi lebih oke.
Kini pakaian ketat yang dikenakannya terlihat
benar-benar seksi. Rok mini yang dikenakannya pun
tampak seksi, serasi banget dengan pahanya yang
putih mulus. Maklumlah dia itu mau ke Valentine
Party. Pokoknya Kali ini dia harus dandan funky abis.
Soalnya, selain kepingin dapat gebetan, dia juga
enggak mau kalah funky dengan teman-temannya.
Kini dia melihat ke arah jam dinding yang ada di
kamar.
“Wah, udah jam delapan lewat. Tapi, kenapa
anak-anak belum nongol juga?” tanyanya dalam hati.
Dalam kegundahan itu, tiba-tiba kedua telinganya
mendengar klakson mobil yang sengaja dibunyikan
dengan irama khusus. TIN TIN… TIN TIN TIN…
“Nah… akhirnya itu anak-anak nongol juga,”
katanya dengan wajah ceria.
Lalu dengan semangat empat lima, cewek itu
segera meninggalkan kamar dan bergegas menuruni
4
tangga. Namun baru saja dia menuruni anak tangga
terakhir, tiba-tiba…
“Dara! Mau ke mana kamu?” tahan ibunya yang
sejak tadi memperhatikannya ketika sedang menuruni
anak tangga.
“Ma-mau pergi, Bu…”
“Iya… tapi mau pergi ke mana?” tanya ibunya.
“Ke pesta ulang tahun teman, Bu,” jawab Dara
bohong.
“Kalau begitu, sekarang juga ganti pakaianmu!
Selama ini Ibu sudah memberimu kebebasan
berbusana, dan sekarang sepertinya sudah
keterlaluan. Ibu benar-benar tidak suka jika melihatmu
berpenampilan seperti ini. Kalau saja ayahmu tahu,
pasti Ibu yang kena getahnya,” pinta sang Ibu seraya
memperhatikan dada Dara sambil geleng-geleng
kepala.
“Ya… Ibu. Sekali ini boleh ya! Soalnya temanteman
udah pada nunggu. Kalo kelamaan, nanti Dara
bisa ditinggal mereka.”
5
Sang ibu terlihat berpikir keras, “Hmm… baiklah,
kali ini Ibu izinkan. Pokoknya lain kali tidak boleh. Dan
ingat, kamu jangan pulang terlalu malam!” katanya
kemudian.
“Iya, Bu… ” Dara berjanji.
Kemudian cewek itu terlihat berlari ke muka
rumah dan bergegas menemui teman-temannya.
Pada saat itu, teman-temannya yang udah kesal
menunggu tampak menyambutnya dengan senyum
ceria.
“Gila! Keren juga tu dada, diapain sih?” tanya
temannya yang bernama Wita.
“Pokoknya ada deh,” jawab Dara merahasiakan.
“Wah, si Dara benar-benar seksi bo,” komentar
Seli kagum melihat dada Dara tampak seksi.
“Gue juga mau dong kayak gitu,” kata Dita iri.
“Mau tahu rahasianya? Nanti aja ya,” kata Dara
seraya masuk ke mobil. “Yuk, jalan!” ajaknya
kemudian.
Tanpa buang waktu, temannya yang bernama
Wita segera menginjak pedal gas dan ngebut seenak
6
kakinya. Dalam tempo yang enggak begitu lama,
akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Kini mereka
udah turun dan sedang menuju ke ruang pesta.
Dengan gaya yang dibuat-buat, mereka tampak
melangkah masuk. Beberapa cowok yang melihat
langsung terpana. Ada yang geleng-geleng kepala
karena kagum, dan ada juga yang melotot karena
melihat dada Dara tampak seksi.
Keempat cewek itu terus melangkah dengan
anggunnya. Suasana di dalam ruangan tampak
meriah, ada yang lagi berduaan di pojok ruangan, ada
yang lagi haha-hihi, ketawa-ketiwi, dan ada juga yang
lagi pada berantem. Pokoknya ramai banget deh. Apa
lagi pada saat itu suara musik yang minta ampun
kerasnya mengalun menghentak-hentak. Di dalam
kehingar-bingaran itu, tiba-tiba seorang cowok terlihat
datang menghampiri Dara. “Hallo manis! Elo seksi
banget. Mau enggak turun sama gue?” tanyanya
kepada cewek itu.
Dengan gaya malu-malu mau, Dara pun langsung
mengulurkan tangannya. Melihat itu, si Cowok pun
7
cepat-cepat menyambar uluran tangan Dara. Dan
enggak lama kemudian, keduanya udah nge-dance
mengikuti irama lagu yang kini terdengar begitu
melankolis. Dara memandang cowok itu dengan
tatapan genit. Mengetahui itu, si Cowok pun makin
merapatkan pelukannya. Kini keduanya tampak udah
begitu terlena menikmati lagu yang terus mengalun
merdu.
Wita, Seli, dan Dita tampak memperhatikan
mereka berdua. Enggak lama kemudian, Wita pun
mengikuti jejak Dara, dia turun bersama seorang
cowok yang mengajaknya nge-dance. Sementara itu
Seli dan Dita belum juga turun. Bukannya enggak ada
yang mau mengajak nge-dance, tapi karena mereka
masih malu-malu. Maklumlah, kedua cewek itu emang
baru pertama kali mengikuti pesta seperti itu.
Sebuah lagu telah berlalu, beberapa menit
kemudian dua buah lagu telah terlewati, kini sebuah
lagu ceria baru saja berkumandang. Seorang cowok
yang sejak tadi memperhatikan Seli tampak mulai
berdiri, dia melangkah mendekati Seli dan
8
mengajaknya nge-dance. Entah kenapa tiba-tiba Seli
mau saja diajak nge-dance sama cowok yang satu itu.
Apa mungkin karena cowok itu keren, atau karena
musiknya yang kebetulan menggugah, atau…
udahlah…, pokoknya Seli mau saja tuh diajak ngedance
sama cowok yang satu itu.
Sekarang kita lihat si Dita yang lagi duduk
sendirian. Dia benar-benar seorang cewek yang
pemalu banget. Seorang cowok mengajaknya turun,
namun dia menolaknya dengan senyuman manis.
Cowok berikutnya pun ditolak. Tampaknya Dita lebih
senang duduk sendiri sambil memperhatikan temantemannya
yang lagi asyik bergoyang mengikuti irama
yang membuai sukma. Sebenarnya dalam hati, Dita
berkeinginan juga untuk nge-dance seperti yang
dilakukan teman-temannya. Namun apa daya, kalo diri
merasa kurang PD. Entah kenapa bisa demikian.
Padahal kalo dilihat, enggak ada sesuatu pun yang
kurang. Dia kece, manis, dan body-nya pun oke.
Sudahlah, sebaiknya kita enggak perlu ngebahas
cewek itu lebih jauh, sebaiknya sekarang kita lihat
9
suasana pesta yang tampak makin meriah.
Sekelompok cowok keren baru memasuki ruangan.
Gayanya benar-benar membuat para cewek-cewek
pada jelalatan.
“Gila tu cowok-cowok, keren abis bo,” komentar
salah seorang cewek yang lagi ngobrol di sudut
ruangan.
“Mana, mana?” tanya cewek yang lain sambil
celingukan.
“Itu tu,” tunjuk cewek yang satunya.
Semua mata cewek yang lagi enggak ada
kegiatan terus memandangi cowok-cowok itu.
Sementara itu, Dara yang udah capek nge-dance, kini
terlihat sedang mojok berdua dengan cowok yang
nge-dance bersamanya tadi.
“Ngomong-ngomong, elo tinggal di mana?” tanya
cowok itu.
“Di bilangan Menteng,” jawab Dara bohong.
Padahal Dara tinggal di daerah dekat perkampungan
kumuh, yang kalo sore-sore dia suka ikut nongkrong
10
dengan cowok-cowok sekitar yang emang pada
bengal.
“O ya, siapa nama loe tadi?” tanya cowok itu.
“Dara Putri Amanah Ananda Cindy Atika,” jawab
Dara.
“O ya, itu… Habis panjang banget sih, susah
ngingatnya,” kata cowok itu.
“Makanya jangan diingat semua! Dasar bego!”
komentar Dara Asal.
Dara emang suka asal, padahal namanya cuma
‘Dara Putri Amanah’ kalo ‘Cindy Atika’ itu nama
ibunya. Maksud Dara sih biar jelas, kalo dia itu
anaknya Cindy Atika. Sementara itu di rumah Dara,
Ayah dan ibunya terlihat sedang berbincang-bincang
di ruang tengah.
“Dara pergi ke mana, Bu?” tanya sang suami.
“Katanya sih, ke pesta ulang tahun temannya,
Yah.”
“O ya, Bu. Hari ini, Dara tidak berbuat aneh-aneh
kan?”
11
“Hanya sedikit, Yah. Tapi, aku sudah memberinya
nasihat.”
“Apa yang dilakukannya kali ini, Bu?”
“Sama dengan kemarin-kemarin. Sore tadi dia
mengganggu anjing tetangga hingga menyalak tidak
karuan. Dan satu lagi, Yah. Sepertinya dia sudah
mulai konsen dengan penampilan dirinya.”
“Maksudmu?”
“Sepertinya dia mulai mencoba untuk menarik
perhatian lawan jenis, Yah.”
“Benarkah? Rupanya anak kita itu sudah mulai
dewasa rupanya. O ya, Bu. Kau selalu
mengarahkannya untuk selalu berpenampilan sopan,
kan?”
“Iya, Yah. Aku tidak lupa dengan pesanmu untuk
selalu mengarahkannya.”
“Terima kasih, Bu! Aku sangat senang karena kau
tidak lupa dengan pesan-pesanku.”
Si istri tampak tersenyum saja, walaupun dalam
hati dia merasa berdosa karena enggak
memberitahukan hal yang sebenarnya. Kalau saja dia
12
cerita, tentu sang Suami akan marah besar. Dia tahu
betul siapa suaminya itu, seorang yang tegas dan
tidak main-main dalam menerapkan pendidikan
kepada putrinya.
“O ya, Bu. Ngomong-ngomong, kapan ya putri kita
itu mau sadar mengenakan busana muslim? Selama
ini aku sangat mendambakan dia mau berbusana
muslim.”
“Aku juga, Yah. Aku ingin sekali dia sadar untuk
segera mengenakannya. Padahal selama ini aku
sering menganjurkan, namun sepertinya dia masih
juga tidak mau peduli.”
“Sabar saja, Bu! Kita emang tidak bisa terlalu
memaksa. Yang terpenting buat kita adalah terus
berusaha dan berdoa agar dia bisa mencintai busana
itu. Semoga Tuhan memberikannya rahmat dan
hidayah-Nya sehingga putri kita mau mengenakannya.

“Betul, Yah. Kalau dipaksa pun tentu tidak baik
akibatnya. Aku tahu betul siapa putri kita itu, tabiatnya
sama sepertimu. Setiap apa yang diyakininya benar
13
pasti akan dipertahankan mati-matian. Dia tidak
seperti gadis kebanyakan yang selalu patuh dengan
nasihat kedua orang tuanya, dia selalu berontak jika
nasihat orang tuanya dianggap tidak sesuai dengan
pandangannya. Aku terkadang tidak habis pikir, Yah.
Padahal sejak kecil dia sudah dibiasakan
mengenakannya, bahkan hingga duduk di bangku
SMP. Tapi, kenapa setelah duduk di bangku SMA dia
malah melepasnya.”
“Mungkin itu karena pengaruh lingkungan, Bu.
Bukankah kau dulu juga pernah seperti dia. Kau kan
juga sempat melepaskan busana muslim karena
suatu keadaan yang kau anggap tidak
memungkinkan.”
“Ah, Ayah. Itu kan masa lalu. Saat itu kan aku
emang masih belum bisa mempunyai keyakinan yang
teguh.”
“Mungkin saat ini Dara juga begitu, Bu. Waktu itu
saja aku sempat dibilang kolot sama Dara. Dan dia
mengungkapkan pendapatnya yang membuatku
sempat dibuat khawatir. Katanya sekarang sudah
14
tidak jamannya lagi wanita dikrubungi kayak
belimbing. Katanya lagi, yang terpenting itu prilaku,
bukannya kedok yang berkesan menutupi
kemunafikan. Aku heran, dari mana dia mendapat
pelajaran yang membuatnya mempunyai pola pikir
seperti itu.”
“Ya, maklum saja, Yah. Kita kan hidup di negara
demokrasi, yang mana nilai-nilai agama sering
dipandang sebelah mata karena dianggap tidak
relefan. Orang-orang lebih mengutamakan nilai
kebebasan individu atas nama HAM, kebebasan
berkreasi misalnya. Selama suara mayoritas
menganggap tidak merugikan orang lain, dan tidak
merusak kehidupan berbangsa tentu akan sangat
didukung. Walaupun sebenarnya hal itu bertolak
belakang dari nilai-nilai agama dan tanpa disadari
telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan
berbangsa.”
“Benar, Bu. Aku sangat sedih begitu tahu kalau
orang-orang yang mengaku beragama tapi tidak mau
mengutamakan nilai-nilai agama yang dianutnya.
15
Seakan nilai agama mereka nomor dua kan, tentunya
karena alasan yang kau kemukakan itu. Kalau Ayah
pikir-pikir, dunia ini emang sudah edan. Banyak sekali
orang yang bicara soal demokrasi, tapi mereka sendiri
tidak tahu apa itu demokrasi. Mau berdemokrasi tapi
selera mayoritas masih belum mendukung. Dan
akibatnya seperti hukum rimba. Yang kuat dia
menang, dan yang lemah tentu akan tersingkirkan.
Hukum sudah menjadi abu-abu. Segala persoalan
yang hitam-putih sudah sulit untuk dibedakan. Mana
yang hitam dan mana yang putih. Mereka seenaknya
saja menghitamkan yang putih dan memputihkan
yang hitam. Selama hal itu tidak merugikan suara
mayoritas tentu akan dianggap putih, mereka tidak
peduli bahwa hal itu sebenarnya hitam untuk sebagian
orang yang justru mengikuti ajaran agamanya. Salah
satu contohnya adalah perhelatan akbar olah raga
yang dengan bangganya di gelar dengan mengumbar
aurat.”
Sementara itu di pesta, Dara cs masih asyik
menikmati suasana kehingar-bingaran yang kayaknya
16
enggak mau berhenti, dan makin lama makin
bertambah hot. Beberapa cewek udah nge-dance di
luar batas ketimuran. Mereka udah berani bukabukaan.
Bahkan beberapa pasangan udah bukan lagi
nge-dance, melainkan melakukan aktivitas esek-esek.
“Wah, kok pestanya jadi kayak gini sih?” tanya
Dita risih, cewek itu merasa enggak nyaman melihat
beberapa muda-mudi tengah asyik esek-esek.
“Ya… namanya juga Valentine party, Ta.
Maklumin aja deh, soalnya emang begitu caranya
agar bisa saling ngebagi kasih sayang.”
“O, gitu ya. Wah, liat tuh! Wita malah ikut-ikutan
buka-bukaan segala. Kita pulang aja yuk, Ra!?”
“Bentar lagi, Ta. Baru juga jam setengah satu.”
“Ya ampun! Apa gue enggak salah liat…” Dita
terperanjat melihat Seli yang dikenalnya sama-sama
pemalu kini lagi asyik esek-esek di pojok ruangan.
Dita benar-benar enggak menyangka, ternyata pesta
itu udah merubah temannya hingga 180 derajat.
“Ra, apa elo juga mau seperti mereka?”
17
“Amit-amit deh, Ta. Gue kemari kan cuma mau
having fun. Bukannya mau cari-cari masalah.”
Sementara itu, Wita dan Seli masih asyik dengan
pasangannya masing-masing. Di bawah kelap-kelip
lampu disco yang berwarna-warni, mereka berdua
nge-dance sambil esek-esek. Pada saat itu, beberapa
pasangan terlihat udah meninggalkan ruangan,
mereka mau melanjutkan aktivitas di tempat tidur.
Pesta masih terus berlanjut, hingga enggak terasa
waktu udah menunjukkan pukul satu. Mengetahui itu,
Dara CS pun buru-buru meninggalkan ruangan yang
kini udah kayak kapal pecah, kemudian mereka
segera memasuki mobil dan langsung pergi
meninggalkan tempat itu. Namun, mereka bukannya
langsung pulang, eh malah nongkrong dulu di warung
tempat anak-anak gaul pada begadang.
“Hallo Dara, Wita, Seli, Dita? Apa kabar?” sapa
seorang cowok sambil berusaha membuka matanya
lebar-lebar.
“Hallo juga, Ver. Wah, tu mata udah turun banget,”
balas Dara seraya menoyor kepala cowok itu.
18
Cowok yang bernama Verdi itu pun langsung
terjengkang dan enggak bangkit lagi, rupanya dia
emang lagi mabuk berat. Sementara itu, Dara cs yang
masih cekikikan karena kejadian barusan terus
melangkah, hingga akhirnya mereka duduk di atas
sebuah bangku panjang.
“Mas, roti bakar keju dan jus jeruknya empat,”
pesan Dara kepada pelayan yang menghampirinya.
Rupanya cewek itu sengaja memesan jus jeruk
buat mengurangi pengaruh alkohol yang tanpa
sengaja udah masuk ke lambungnya.
Sambil menunggu pesanan, mereka tampak
membicarakan keempat cowok yang kini lagi duduk di
meja sebelah. Keempat cowok itu kayaknya BD
(Banyak Duit). Dara cs yang emang suka dengan
cowok-cowok seperti mereka langsung
memanfaatkan situasi.
Kini Dara memandang ke arah seorang cowok
yang kelihatan pendiam, kemudian mengerlingkan
matanya dan tersenyum gedit. Cowok yang pendiam
itu pun terlihat malu-malu. Melihat itu, Dara makin
19
enjoy. Dia senang banget menggoda cowok yang
demikian. Sekali lagi Dara mengerlingkan matanya,
dan lagi-lagi si cowok tampak tersipu malu. Lalu tanpa
takut dikatakan cewek gatel, Dara pun segera
mendatangi mereka.
“Hai, kalian… boleh enggak ikutan gabung?” tanya
Dara sambil tersenyum genit.
Keempat cowok itu tampaknya enggak bisa
menolak, soalnya mereka udah betul-betul terpikat
oleh kecantikan Dara yang tiada duanya.
“Boleh aja, kenapa enggak,” jawab seorang
cowok.
“Wooiy! Ayo ke sini semua!” teriak Dara
memanggil teman-temannya seraya duduk di sebelah
cowok yang terlihat pendiam.
Pada saat itu, keempat cowok tadi cuma terpaku
melihat ketiga teman Dara datang menghampiri.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Begitulah kata mereka
dalam hati, membayangkan masing-masing mendapat
satu cewek.
20
“O ya, kenalin! Gue Dara. Dan ini teman-teman
gue,” kata Dara memperkenalkan diri dan temantemannya.
Kemudian mereka pun tampak saling
berkenalan.
“Ngomong-ngomong, kalian pada mau ke mana?”
tanya Dara.
“O… kami baru aja pulang main billiard, setelah ini
kami mau langsung pulang,” kata salah seorang
cowok yang bernama Hengky.
“Lain kali, kita jalan bareng ya!” ajak Dara.
Kini keempat cowok itu tampak saling
berpandangan sesama mereka. Pada saat itu Dara
sempat melirik ke arah cowok yang terlihat pendiam
sambil tersenyum genit. Enggak lama kemudian, si
cowok yang pemalu tampak menganggukkan
kepalanya, dan seorang cowok yang bernama Berry
langsung angkat kaki, eh enggak deng… angkat
bicara, “Iya deh, lain kali kita jalan bareng,” katanya
berjanji.
Rupanya cowok yang pemalu itu adalah bos di
antara mereka, dia bernama Boy.
21
“Hey, Mas! Sebelah sini!” teriak Dara kepada
pelayan warung yang membawa pesanan mereka.
Enggak lama kemudian, mereka udah makan
bareng dalam satu meja sambil ngobrol ngalor-ngidul.
Enggak tahu ngobrolin apa, yang jelas mereka terlihat
begitu senang. Setelah puas makan dan ngobrol
bersama, akhirnya Dara cs pamit untuk pulang ke
rumah masing-masing.
“Eh Wit, cepetan dong dibayar!” kata Dara basabasi.
“O… biar kami aja yang bayar,” kata Boy sungguhsungguh.
“O ya, kalo begitu terima kasih banyak ya! Yuk
teman-teman kita pergi sekarang!” ajak Dara
bersemangat. Emang itulah yang diharapkan Dara cs,
makan dan minum gratis.
“Dag…” ucap cewek-cewek itu kepada keempat
cowok yang masih duduk di kursinya masing-masing.
Tau-tau Dara cs udah ada di mobil lagi, kini
mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah
masing-masing. Semula Wita sempat mengajak
22
teman-temannya itu untuk nongkrong dulu di tempat
kost temannya. Tapi saat itu Dara keberatan, dia
enggak mau kepergok disaat pulang ke rumah.
Soalnya sang Ibu emang biasa bangun pukul empat
pagi, dan kalo udah marah bisa membuatnya benarbenar
menderita—dikurung dalam kamar tanpa
fasilitas.
Setelah lumayan lama menempuh perjalanan,
akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Dara.
“Ati-ati di jendela ya, Ra!” pesan Wita.
“Dag… teman-teman, mmmuuaaah!” pamit Dara
seraya keluar dari mobil dan berdiri memperhatikan
mobil yang ditumpangi oleh teman-temannya tampak
melaju menjauhi tempat itu.
Kini Dara sedang berusaha untuk melompati
pagar rumahnya. Setelah berhasil melompati pagar
dengan sukses, cewek itu pun langsung menyelinap
ke samping rumah dan memanjat pohon belimbing
yang tumbuh di samping kamar.
Maklumlah, kamar Dara emang terletak di lantai
atas, dan pohon belimbing itu mempunyai dahan yang
23
mengarah mendekati balkon kamarnya. Hingga
akhirnya dia tiba di balkon dengan selamat, dan
sekarang dia mulai membuka jendela yang sengaja
enggak dikunci. Kemudian masuk dengan sangat hatihati
seperti pesan temannya Wita.
Nah, pembaca! Tau-tau hari udah pagi lagi nih.
Yuk kita lihat, udah jam berapa sih! O… pukul
sembilan pagi. Pantesss udah enggak kedengaran
lagi suara burung-burung yang berkicau merdu. Lihat
tuh, Dara yang lagi tidur pulas, idiiih ngiler lagi. Pasti
semalam dia lupa gosok gigi. ^_^
Tiba-tiba saja, pintu kamar Dara sudah digedor
nyokap. “Dara! Ayo lekas bangun dan cepat buka
pintunya!” teriak sang ibu dari balik pintu, dan jika
dilihat dari raut wajahnya beliau tampak begitu geram.
“Wah, gawat! Kena lagi deh,” ucap Dara dalam
hati.” Ya, Bu! Sebentar…!” sahut Dara.
24
Enggak lama kemudian, Dara membuka pintu
kamar, “Ada apa sih, Bu?” tanyanya pura-pura bego
seraya mengucek kedua matanya yang masih penuh
belek.
“Ke mana kamu semalam? Kan Ibu sudah pesan
jangan pulang malam-malam,” tanya ibunya
mengintrogasi.
“Kan… ke pesta ulang tahun, Bu,” kelit Dara.
“Jangan bohong, kamu! Ayo mengaku, semalam
kamu pulang jam berapa?” tanya sang Ibu dengan
wajah makin geram.
“Benar kok, Bu. Dara cuma ke pesta ulang tahun
dan pulangnya jam 10.00,” katanya masih juga
berkelit.
“Ya sudah, hari ini kamu tidak mendapat uang
saku. Dan hari ini kamu tidak boleh ke luar rumah.
Sini… berikan HP-mu ke Ibu!” pinta ibunya memberi
hukuman.
“Ya… Ibuuu, hari Minggu ini kan, Dara mau jalanjalan
ke Mal,” kata Dara kecewa.
25
“Pokoknya kamu tidak boleh keluar rumah, titik!”
kata ibunya seraya melangkah pergi.
Lantas dengan kecewa, Dara pun segera menutup
pintu kamar dan kembali ke tempat tidur. Dalam hati,
cewek itu terus memaki. Katanya, sang ibu adalah
orang yang jahat dan enggak berkeperimanusiaan.
Masa cuma gara-gara pulang kemaleman, dia enggak
boleh keluar. Emangnya menyita HP dan enggak
memberi uang saku, masih belum cukup buat
menghukumnya. Sungguh hari itu merupakan hari
yang paling enggak mengenakkan buat Dara.
Baginya, hukuman kali ini udah sangat kelewatan dan
membuatnya benar-benar bete. Pokoknya Dara udah
dibuat kesal karena enggak bisa CMDM alias cuci
mata di Mal.
Dara terus termenung bersama kegundahannya,
hingga enggak terasa waktu sudah menunjukkan
pukul sebelas pagi. Pada saat itulah, teman-temannya
yang semalam udah janjian tampak datang
menjemput. TIN TIN… TIN TIN TIN… terdengar bunyi
irama klakson ciri khas mereka. “Aduh, gimana nih…
26
Ibu emang tega,” keluh Dara seraya memandang ke
luar jendela.
Di dalam mobil, teman-teman Dara tampak kesal
menunggu. “Gimana sih itu anak, mana HP-nya pakai
dimatiin segala,” kata Wita sewot.
“Mungkin dia ketahuan, Wit,” duga Seli.
“Iya, Wit. Pasti Dara lagi dihukum,” timpal Dita.
“Cucian deh, Dara. Ya udah, kalo gitu kita cabut
aja!” usul Wita seraya menginjak pedal gas dalamdalam.
Mobil blazer biru langsung ngacir meninggalkan
rumah Dara. Sementara itu Dara terlihat sedang
melamun sambil terlentang di tempat tidurnya, sedang
kedua matanya tampak memandang ke langit-langit.
“Huh, Ibu emang tega dan enggak
berkeperimanusiaan. Kan bete kalo seharian kudu di
kamar terus. Mana sekarang TV gue dibawa pergi
juga, padahal kemarin-kemarin cuma stereo set gue
aja yang dibawa pergi. Kali Ibu emang udah sangat
kelewatan. Hari minggu ini kan seharusnya gue having
fun sama anak-anak, eh sekarang malah dikurung di
27
kamar tanpa bisa melakukan kegiatan yang
menyenangkan. Hmm… teman-teman gue sedang
melakukan apa ya? Mungkin saat ini mereka lagi
senang-senang.”
Dara membayangkan teman-temannya yang
sedang bersenang-senang, dan menurutnya mereka
sangat beruntung karena enggak mempunyai orang
tua seketat ibunya.
“Hmm… sekarang enaknya melakukan apa ya?”
Dara pun berpikir keras untuk mencari kegiatan
yang sekiranya bisa menghibur hatinya yang kini lagi
benar-benar bete. Lantas cewek itu pun segera
melangkah untuk melihat-lihat tumpukan komik yang
ada di atas meja belajarnya. “Aduh, bosen… yang ini
udah sepuluh kali gue baca, dan ini malah udah
keseringan. Nah ini aja, cerita ‘Candy-Candy’ ini udah
lama banget enggak gue baca. Tiba-tiba Dara teringat
pada masa lalunya, ketika setumpuk komik itu
dihadiahkan oleh pamannya disaat dia juara satu
ketika masih SMP.
28
“Hmm… dulu paman gue menghadiahkan komik
ini karena beliau menginginkan agar gue menjadi
cewek baik seperti si Candy-Candy itu. Hihihi…! Beliau
pasti kecewa banget kalo tahu gue enggak seperti
yang diharapkannya. Maaf Paman! Kayaknya aku
emang enggak bakat menjadi cewek lugu seperti dia.”
Seketika Dara kembali teringat ketika masih SMP,
saat itu dia masih menjadi cewek seperti yang ada di
komik itu, dimana setiap hari dia harus menjadi
makanan empuk teman-temannya yang usil. Hingga
akhirnya dia menjadi tertekan dan memutuskan untuk
balas dendam. Saat itu, Dara yang udah tertekan
berbalik menjadi 180 derajat. Dengan segala
ketidakpeduliannya, dia balik mengusili temantemannya
yang dulu pernah mengusilinya. Sayangnya
hal itu terbawa terus hingga sekarang, dimana
perbuatan itu dirasakannya sangat menyenangkan. Di
alam bawah sadarnya, Dara udah mengkondisikan
dirinya untuk menjadi cewek yang difensif, dengan
demikian dia merasa enggak akan diusili oleh orangorang
yang berniat mengusilinya. Selama ini dia
29
merasa hukum di sekolah adalah hukum rimba, siapa
yang kuat dialah yang akan berkuasa dan siapa yang
lemah maka akan tertindas. Menurutnya para pendidik
dan wali murid sama sekali enggak menyadari betapa
enggak enaknya menjadi orang-orang yang tertindas
itu. Andaipun ada yang berani mengadu, pelakunya
enggak diberikan sangsi yang sesuai. Akibatnya,
korban pun akan makin menderita karena mendapat
perlakuan enggak mengenakkan dua kali lebih berat
dari sebelumnya. Intinya adalah karena enggak
adanya perlindungan yang benar-benar menjamin si
korban buat enggak disakiti lagi.
Kini Dara tampak membaca komik yang pernah
membuatnya bercita-cita menjadi cewek baik. Namun
sekarang komik itu udah enggak mempunyai
kekuatan lagi untuk menggugah hatinya, alam bawah
sadarnya yang udah terkondisikan seperti itu telah
menutup hati nuraninya untuk bisa menerima apapun
pesan moral yang disampaikan. Kini komik itu
hanyalah sebagai hiburan saja, yang mana dia
30
menganggap si karakter utama adalah orang bodoh
yang enggak patut ditiru.
31
Dua
ara tampak begitu senang, soalnya pagi ini dia
akan kembali bertemu dengan teman-teman
sekelasnya. Dan seperti biasa, dia akan mengusili
mereka. ^_^
“Nah itu dia, seorang target sedang asyik duduk
melamun,” ucap Dara dalam hati.
Riko teman sebangkunya itu enggak menyadari
kedatangan Dara yang dengan perlahan banget udah
berhasil berada di belakangnya. Dan…
“Hayo!!! Lagi ngelamun jorok ya?” tanya Dara tibatiba
seraya menutup kedua mata cowok itu.
Si Riko pun langsung kaget bukan kepalang,
“Astaga naga… makan nasi pakai garam enak juga.
Aduh, siapa sih ini?” tanyanya dengan kedua mata
yang masih tertutup.
“Coba tebak, kalo betul dapat seratus!” kata Dara
dengan suara yang sengaja udah diubah sejak awal.
D
32
“Siapa sih? Wati ya?”
“Teeet… salah.”
“Mirna…”
“Teeet… masih salah.”
“Hmm… pasti si Linglung yang suka usil. Dara binti
Bobo eh Bobby.”
“Kasar!!!” kata Dara seraya menjitak kepala cowok
itu dan memberinya nilai seratus.
“Kok marah?” tanya Riko kesal.
“Habis pakai bawa-bawa nama orang tua segala.
Emangnya sederet kata-kata sebelumnya belum
cukup apa?” tanya Dara membela diri.
Belum sempat Riko berkata-kata, tiba-tiba bel
masuk terdengar meraung-raung. Lalu dengan segera
kedua muda-mudi itu masuk kelas dan bersiap-siap
untuk berjuang, menuntut ilmu untuk meraih masa
depan yang gemilang. Begitu semua udah duduk
manis di tempatnya masing-masing, ternyata sang
Guru belum juga muncul. Tak ayal, Dara dan temanteman
langsung ribut di kelas. Katanya, daripada bete,
lebih baik haha-hihi alias cekakan sambil becanda33
becindi. Namun suasana yang semula begitu riuh bak
pasar kaget, tiba-tiba menjadi sunyi-senyap bak
kuburan. Dan itu semua lantaran sang Ibu Guru yang
masuk kelas enggak bilang-bilang.
“Selamat pagi semua!” ucap sang Ibu guru yang
masih saja berdiri di ambang pintu.
“Pagi Buuuuuu…” jawab anak-anak kompak.
“Maaf anak-anak, hari ini Ibu datang agak
terlambat karena ada sedikit urusan,” kata Ibu guru
lagi seraya melangkah masuk. “O ya, anak-anak.
Sekali lagi Ibu minta maaf, pada jam pertama ini Ibu
tidak bisa mengajar kalian karena ada keperluan lain.
Jadi, pelajaran Bahasa Indonesia terpaksa diundur
dan digantikan dengan pelajaran kimia,” lanjut sang
Ibu guru lagi.
Setelah memberitahukan hal itu, Ibu guru
langsung pamit. Sementara itu di luar kelas, Pak
Gahar sang Guru Kimia tampak udah siap
menggantikannya. Sial banget buat Dara, jam
pelajaran pertama adalah pelajaran kimia. Padahal
pelajaran itu yang paling dibencinya, dan dia selalu
34
mendapat nilai jelek dengan pelajaran yang selalu
membuatnya pusiiiiiing. Pokoknya cewek itu selalu
dibuat bete oleh pelajaran yang satu itu. Selain harus
memikirkan rumus yang membuatnya pusing, dia juga
harus menghafalkan berbagai macam molekul.
Seperti biasa, Pak Gahar memasuki ruangan
dengan tampangnya yang gahar alias galak dan
mengerikan. Kini beliau sedang di depan kelas,
bersiap-siap mau mengajarkan mereka soal ilmu
kimia. Berbagai rumus yang membuat bete, satu per
satu diajarkan. #@z…. ~%&… Pusiiiiiing… enggak satu
pun yang Dara mengerti, semuanya emang sulit dan
membuat kepala cewek itu makin mau pecah.
Sejenak Dara melirik Riko yang duduk di sebelahnya,
dan kayaknya cowok itu juga mengalami hal serupa.
Tampangnya yang lumayan ganteng terlihat agak
kusut lantaran enggak bisa mikir. Sebentar-sebentar
dia garuk-garuk kepala, lalu mencoba corat-coret
sedikit, terus gigit-gigit ballpoint, dan akhirnya dia
memandang Dara dengan penuh curiga.
35
“Ada apa sih, Ra? Kok dari tadi elo ngeliatin gue
terus.”
“Eng… enggak kok, gue cuma…”
Belum sempat cewek itu bicara lebih lanjut, tibatiba
sepotong kapur tulis mengenai keningnya,
kemudian disusul dengan suara berat yang
memarahinya.
“Dara!!! Kamu sedang apa. Kenapa kamu belum
juga menjawab pertanyaan yang Bapak ajukan?”
“Ba-Bapak. Be-bertanya padaku… ka-kapan?”
tanya Dara memastikan, soalnya dia benar-benar
enggak nyadar kalo Pak Gahar udah mengajukan
pertanyaan.
“Makanya, kalau Bapak lagi mengajar pikiranmu
jangan ke mana-mana. Ayo, sekarang kamu maju ke
depan kelas dan berdiri dengan satu kaki!”
“Teng…! Ala mak. Kenapa jadi begini,” kata Dara
membatin.
Setelah pegal berdiri, akhirnya Dara diizinkan
untuk duduk kembali. Itu pun karena Pak Gahar udah
pergi lantaran udah saatnya ganti mata pelajaran. Dan
36
setelah bel istirahat berbunyi, cewek itu siap menjahili
orang sebagai pelampiasan atas kekesalannya
setelah dihukum tadi.
“Kurang ajar!” maki Dara dalam hati.
Sial betul dia hari ini, mau mengusili orang, eh
malah diusilin duluan.
“Dasar Retty tempayan dapur!”, maki Dara lagi.
Soalnya, si Retty yang gendut itu berhasil
mempermalukannya di tengah teman-teman. Saat itu,
wajah Dara pun langsung merah karena malu. Apa
lagi pada saat itu ada si Yosi yang sempat
memperhatikan wajahnya yang merona.
“Aduh, aku malu banget,” ucap Dara dalam hati
ketika melihat Yosi tampak senyam-senyum
memperhatikannya.
Padahal, Yosi itu kan cowok yang selama ini lagi
diincernya. “Dasar tempayan dapur, gendut, jelek…”
maki Dara berkali-kali. Soalnya dia sebel banget
dengan cewek yang bernama Retty itu, jadi wajar
dong kalo dia memaki melulu—soalnya itu manusiawi
banget. Betul enggak? Enggakkkkk…!
37
Pulang sekolah emang waktu yang paling
mengasyikkan, apa lagi kalo lagi berkumpul dengan
teman-teman, sambil ngeceng di Mal. Becanda and
ketawa-ketiwi, terus sesekali mengusili para Cowok
biar pada GR. Pokoknya asyik banget deh. Begitulah
kata Dara mengungkapkan rasa senangnya. Selama
ini cewek yang bernama Dara itu emang paling suka
membuat GR mahluk yang bernama cowok, dan hal
itu makin membuatnya percaya diri. Kalau dia itu
emang cantik dan manis. Soalnya setiap cowok yang
diperhatikan olehnya pasti langsung GR, bahkan
sampai tidak berkedip ketika melihat kecantikannya
yang tiada duanya. Tapi sayang… kali ini Wita, Seli
dan Dita enggak bisa ikut. Soalnya mereka ada acara
keluarga yang enggak mungkin ditinggalin, mereka
pun terpaksa pulang buru-buru lantaran orang tua
mereka udah mewanti-wanti, alias udah memberi
peringatan keras, bahwa siapa yang melanggar bisa
kena hukum. Sebenarnya kurang asyik juga, jika
mereka enggak ikut menebar pesona bersama Dara.
Tapi bagi Dara hal itu enggak mengapa, biarpun dia
38
seorang diri, dia PD saja tuh dengan yang namanya
cowok.
Nah, benar kan. Kini cewek itu sedang mengincar
seorang cowok yang lagi jalan sendirian. “Wow!
Tampangnya oke dan body-nya bagus juga, lumayan
atletis-lah. Cowok yang seperti itu tu yang paling asyik
dibikin GR, kalo dia suka padaku tentunya bisa
dimanfaatkan,” kata Dara dalam hati.
“Alo cowok, sendirian aja nih?” tanyanya sambil
cengar-cengir.
“Eng… eh iya, ada apa ya?” tanya cowok itu salah
tingkah.
“Elo Hari kan?” tanya Dara pura-pura kenal.
“Maaf! Gue Rino. Eng.. elo siapa ya?”
“Kenalin, nama gue Leni,” kata Dara menyamar.
“Gue Rino?”
“Iya, gue udah tahu. Kan tadi elo udah bilang.”
Cowok itu tampak tersenyum, lalu garuk-garuk
kepala, kemudian loncat-loncat. Enggak deh, cowok
itu cuma terlihat salah tingkah aja, enggak pakai
loncat-loncat.
39
“Maaf ya! Sekarang gue lagi buru-buru, lain kali
kita bisa ngobrol bareng,” kata cowok itu mencari
alasan karena udah gronggenk banget bo.
Mendengar itu, Dara pun cuma bisa tersenyum.
Kini cowok itu udah bergegas pergi. Sepeninggal
cowok itu, Dara kembali melanjutkan petualangannya.
Kini cewek itu tampak sedang melangkah di koridor
sebuah Mal, dan entah kenapa tiba-tiba ada seorang
cowok yang terlihat memperhatikan gerak-geriknya.
Cowok itu mengikuti dia semenjak memasuki pintu
Mal hingga akhirnya Dara berada di lantai tiga. Entah
mau apa dia sebenarnya, yang jelas hal itu udah
membuat Dara jadi bertanya-tanya. Sejenak Dara
melirik cowok itu, dan dia melihat cowok itu tampak
memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Hmm… kayaknya cowok itu naksir sama gue.
Mau apa lagi seorang cowok ngikutin cewek, kalo
bukan mau kenalan. Tapi anehnya, dari tadi kok dia
cuma ngikutin doang, layaknya seperti seorang
detektif yang lagi menguntit buruan,” duga Dara dalam
hati.
40
Kemudian Dara sengaja memperlambat
langkahnya, dan dia melihat cowok itu juga demikian.
Akhirnya Dara berhenti di sebuah counter pakaian
untuk melihat-lihat sejenak, dan lagi-lagi dia melihat
cowok itu juga demikian. Kini cowok itu terlihat
berhenti di counter sebelah sambil pura-pura melihatlihat
pakaian wanita. Walah, dia kepaksa banget
ngelakuin itu lantaran di situ enggak ada counter
pakaian cowok.
“Enggak salah lagi, dia emang ngikutin gue. Tapi,
kenapa dia masih belum juga mendekat?
Tampangnya emang keren, dan hal itu membuat gue
kepingin juga kenalan. Tapi… Entah kenapa, kok
sama cowok yang satu ini sikap gue jadi begini? Gue
kok bisa jadi kurang PD begini? Hmm… apa mungkin
ini karena cinta pada pandangan pertama, soalnya tu
cowok emang lebih keren ketimbang Yosi,” kata Dara
lagi dalam hati.
Setelah sekian lama menunggu, ternyata cowok
itu masih belum mendekat, dan hal itu benar-benar
membuat Dara penasaran. Setiap kali dia menatap
41
wajahnya, cowok itu selalu berpaling. Akhirnya Dara
pun mencoba mendekatinya, dan ketika udah berada
di dekatnya, eh cowok itu malah pura-pura enggak
peduli.
“Hmm… apa mungkin dia seorang cowok yang
pemalu dan enggak berani ngajak kenalan. Atau… dia
seorang yang akan menculik gue dan akan
memperkosa gue di suatu tempat. Ah, kayaknya
enggak mungkin. Gue liat tampangnya tampak begitu
baik, enggak ada sedikit pun tampang kriminal ada
padanya. Aduh, kenapa sih ada Cowok yang seperti
itu, kalo mau kenalan kenapa enggak langsung aja.
Kenapa pake main detektif-detektifan segala. Masa
mesti gue juga ngajak dia kenalan. Bisa-bisa… Ah,
udalah. Sebaiknya gue biarin aja, mungkin nanti dia
juga bakal mau kenalan,” kata Dara dalam hati.
Setelah sekian lama berkeliling, akhirnya kaki
Dara pun mulai terasa pegal. Sementara itu di
kejauhan, cowok yang mengikutinya masih tetap
seperti tadi. Akhirnya dengan sedikit kesal, Dara pun
enggak mempedulikannya. “Huh, udah cukup gue
42
memberi kesempatan, salah sendiri kalo dia enggak
mau memanfaatkannya. Ya udah kalo begitu,
mending sekarang gue pulang,” katanya lagi dalam
hati seraya melangkah pulang.
Malam minggu berikutnya di puncak pas, empat
orang cewek dan empat orang cowok tampak sedang
ngobrol bareng. Mereka adalah Dara cs dan Boy cs,
rupanya mereka sedang menikmati malam di puncak
yang berudara dingin. Enggak lama kemudian, Boy
terlihat menyendiri, dia duduk di dalam mobil sambil
menikmati segelas bir. Dara yang melihat Boy lagi
sendirian langsung menghampiri. “Kok sendirian aja,
boy?” tanyanya seraya duduk di samping cowok itu.
“Iya, Ra. Soalnya udara di luar dingin banget.”
“Iya, Boy. Di luar emang dingin.”
“Kalo gitu, minum aja bir ini,” tawar Boy seraya
menyodorkan gelas yang sedang dipegangnya.
43
“Enggak ah, gue enggak suka minum bir,” tolak
Dara.
Boy kembali menghirup birnya, sedang kedua
matanya tampak memperhatikan wajah Dara. Saat ini
dia begitu senang lantaran Dara mau menemaninya.
Namun sayang, enggak lama kemudian Dara udah di
panggil oleh teman-teman yang lain.
“Tuh, elo dicariin sama mereka,” kata Boy
memberitahu.
“Ok, Boy… Kalo gitu, gue tinggal dulu ya.”
“Yoi, deh.”
Kini Boy kembali sendirian di dalam mobil.
Setelah malam makin larut dan udara makin dingin,
akhirnya mereka kembali ke Jakarta untuk pulang ke
rumah masing-masing. Lagi-lagi Dara pulang larut
malam. Kali ini si Ibu tampak udah menantinya di
dekat jendela.
“Dara!!!”
“Ups…!”
“Kamu emang tidak pernah kapok ya!”
“Maaf, Bu! Soalnya…”
44
“Diam kamu!! Mulai saat ini kamu tidak boleh
keluar kamar!” kata sang Ibu seraya menyita semua
fasilitas yang ada di kamarmya.
Sungguh sial si dara, lagi-lagi dia harus dikurung
dalam kamar, tanpa HP, radio, dan TV tentunya.
Sementara itu di ruang tengah, sang Ayah yang baru
aja selesai tadarusan tampak sedang duduk santai.
Dan enggak beberapa lama, sang Istri terlihat datang
menghampiri. “Aduh, Yah. Aku sudah capek dengan
kelakuan Dara. Makin hari anak itu makin berani saja,”
keluh sang Istri seraya duduk di sebelah suaminya.
“Jadi aku mesti bagaimana, Bu?” tanya sang
suami
“Tidak tahu, Yah? Pokoknya aku mau Dara bisa
berubah. Selama ini aku sudah berusaha dengan cara
yang Ayah anjurkan. Tapi, makin diberi hati anak itu
malah makin membangkang.”
“Apa iya, Dara seperti itu, Bu?”
“Tentu saja, Yah. Selama ini kan aku yang sering
mengawasi dia, dan dia tidak pernah kapok dengan
hukuman yang kuberikan.”
45
“Apakah kau memberikan hukuman yang terlalu
keras padanya?”
“Tidak, Yah. Aku selalu memberi hukuman seperti
yang Ayah anjurkan. Itu Yah, dikurung dalam kamar
tanpa fasilitas. Sekarang pun anak itu sedang
menjalani hukumannya.”
“Baiklah… kalau begitu, aku akan coba bicara
dengannya,” kata sang suami seraya melangkah ke
kamar Dara yang ada di lantai atas.
Enggak lama kemudian, “Dara! Ayah mau bicara
denganmu, Nak. Boleh Ayah masuk?” tanya sang
Ayah yang tampak berdiri di muka pintu.
“Masuk aja, Yah! Dara juga mau bicara sama
Ayah.”
Setelah mendengar perkataan itu, sang Ayah pun
langsung bergegas masuk.
“Sayang… Ayah dengar, kamu sedang dihukum?”
“Iya, Yah. Ibu emang tega… masa Dara mesti
diam di kamar tanpa fasilitas. Kan bete, Yah. Coba,
kalo Ayah yang dikurung di kamar tanpa fasilitas, apa
Ayah enggak ngerasa Bete.”
46
“Dara… Dara… namanya juga sedang menjalani
hukuman. Kalau menjalani hukuman dengan diberi
fasilitas, rasanya kok enak juga ya. Dihukum tanpa
fasilitas saja, kamu tidak pernah jera. Apalagi dengan
fasilitas, kamu mungkin akan menganggapnya
dengan sebelah mata.”
“Terus apa bedanya, Yah! Kan hukuman yang
selama ini diberikan enggak pernah bikin Dara Jera,
lalu kenapa masih juga diberlakukan. Ayah pikir
setelah menjalani hukuman itu, Dara lantas berubah.
Enggak juga, Yah. Dara malah jadi makin kepingin
berontak karena selama ini Dara ngerasa enggak
dipercaya. Kalo Ayah mau tahu. Biarpun selama ini
Dara pulang larut malam, Dara tu enggak pernah
melakukan hal yang di luar batas. Lagi pula, Dara kan
pulang larut cuma malam minggu aja. Itu pun karena
Dara ngerasa bete karena selama satu pekan harus
belajar menuntut ilmu. Masa sih, Dara enggak boleh
refreshing untuk menghilangkan semua kepenatan
itu.”
47
“Bukan apa-apa, Sayang… kami bukannya tidak
percaya, tapi kami khawatir kalau kamu sampai
terjebak dengan hal-hal yang merugikan. Terus
terang, gadis seusiamu itu masih rentan dengan yang
namanya pengaruh lingkungan. Biarpun kamu sudah
bisa membedakan mana yang baik dan mana yang
tidak, tapi kamu itu belum bisa konsisten. Kamu itu
bisa dengan mudah tergelincir dengan hal-hal yang
Ayah dan ibumu khawatirkan itu.”
“Dara konsisten kok, Yah. Buktinya, hingga saat
ini Dara masih memegang teguh kata-kata Ayah untuk
enggak berbuat macam-macam. Hingga saat ini, Dara
tu enggak pernah bergaul dengan yang namanya
narkoba. Dan Dara tu enggak pernah bergaul dengan
cowok sampai di luar batas. Dara tu masih bisa
ngebedain mana yang pantas Dara lakukan dan yang
enggak.”
“Iya, Ayah percaya kalau anak Ayah masih
memegang teguh pesan-pesan orang tua. Tapi bukan
itu yang Ayah khawatirkan. Yang ayah khawatirkan,
kamu itu akan dijebak oleh orang-orang yang tidak
48
bertanggung jawab. Mungkin hingga hari ini kamu
masih beruntung karena bertemu orang-orang yang
baik. Coba, bagaimana jika kamu bertemu dengan
orang jahat yang ingin menghancurkan masa
depanmu, apa kamu tidak akan menyesal nantinya.”
“Tapi, Yah. Aku tu masih bisa ngebedain mana
orang yang mau berbuat jahat dan yang enggak.”
“Sudahlah, Sayang… kamu memang masih belum
bisa mengerti dengan hal-hal semacam itu. Kamu itu
masih labil dan segala tindakanmu masih penuh
dengan emosi. Egomu masih dominan ketimbang
nurani, jadi kamu akan sangat mudah untuk
tergelincir.”
“Ya udah, kalo Ayah pikir Dara emang seperti itu.
Soalnya, Ayah emang enggak pernah tahu, atau
mungkin enggak mau tahu soal kehidupan Dara yang
seperti itu. Andai aja Ayah mau mengerti, tentu Ayah
akan lebih bijaksana.”
Sang Ayah cuma geleng-geleng kepala
menanggapi perkataan itu. Walaupun dalam hati dia
paham betul apa yang dikatakan Dara, soalnya kan
49
dia dulu juga pernah muda dan melakukan itu semua.
Baginya, Dara emang belum bisa memahami katakata
‘lebih baik mencegah dari pada mengobati’ atau
‘sepandai-pandai bajing meloncat pasti akan jatuh
juga.’ Walaupun Dara mengerti tentang hal-hal yang
membahayakan jiwanya, namun selama setan masih
berkeliaran kemungkinan tergelincir akan sangat
mungkin terjadi.
Kini sang Ayah sedang menuruni anak tangga
sambil berpikir keras. Dalam benaknya dia kepingin
menempatkan putrinya itu pada sebuah tempat yang
aman dari hal-hal yang mengkhawatirkan dirinya.
Apalagi kalo bukan di sebuah institusi yang ketat dan
selalu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak
didiknya. Hingga akhirnya, hal itu pun mulai
dibicarakan kepada sang Istri.
“Bu, bagaimana kalau Dara aku masukkan ke
Pesantren saja.”
“Ke Pesantren, Yah.”
50
“Iya, Bu. Mungkin dengan lingkungan yang
mendukung dan teman-teman yang baik, dia bisa
berubah.”
“Kalau itu emang yang terbaik, aku sih setuju saja.
Tapi, bukankah Ayah tahu kalau watak anak kita itu
keras sekali. Bagaimana kalau dia memberontak dan
menjadi makin brutal.”
“Itu sudah aku pertimbangkan, Bu. Dan ini adalah
salah satu upaya kita agar dia bisa menjadi seperti
yang kita harapkan. Kalau pun tidak, kita kan sudah
berusaha. Apapun yang akan terjadi kemudian kita
cuma bisa pasrah, menyerahkan semuanya kepada
Sang Pengatur Segalanya. Dialah Tuhan yang Maha
Esa—Sang Pembolak-Balik Hati, yang berhak
menentukan baik tidaknya seseorang. Kita ini hanya
manusia yang cuma bisa berusaha sesuai
kemampuan, dan kita pun harus banyak berdoa agar
putri kita itu mendapatkan hidayah-Nya.”
51
Tiga
eminggu berada di Pesantren, Dara mulai
enggak betah. Padahal institusi itu sangat baik
dan bisa dipastikan membuat siapa saja yang
menuntut ilmu di tempat itu bisa menjadi orang-orang
yang baik. Tapi itu bukan buat Dara, institusi yang baik
itu emang bukan tempat yang cocok buat cewek
seperti dia, segala peraturan dan kedisiplinan yang
diterapkan benar-benar membuatnya seperti hidup
dalam penjara. Maklumlah, sebagai cewek
megapolitan yang modern dan hidup di era demokrasi
yang kebablasan membuatnya merasa teraniaya dan
enggak merdeka. Ini enggak boleh, itu enggak boleh.
Baginya di tempat itu dia sulit mengekspresikan diri,
yang menurut pandangannya terlalu mengekang dan
memenjarakan hak-haknya sebagai orang merdeka.
Bagaimana enggak, di tempat itu dia harus
mengenakan busana muslim yang menurut
S
52
pandangannya membuat dia enggak bisa bergerak
bebas, panas, dan masih banyak lagi alasan yang
dikemukakan. Enggak bisa pergi ke tempat-tempat
yang ia sukai buat bersenang-senang. Enggak bisa
bebas bergaul dengan lawan jenis sehingga membuat
hidupnya terasa benar-benar hampa, dan masih
banyak lagi.
Kini cewek itu tengah berbincang-bincang kepada
seorang seniornya yang dilihatnya selalu riang di
dalam kesehariannya. “Kak Sifa, kok kamu betah sih
tinggal di sini?” tanyanya heran.
“Kenapa enggak, di tempat ini kan aku bisa
mengekspresikan diri dengan bebas. Aku bisa
menulis puisi atau cerpen yang makin membuatku
lebih mencintai Tuhan, melantunkan salawat yang
indah sehingga hatiku terasa sejuk, membaca Al-
Quran dengan hikmat sehingga segala yang
terkandung di dalamnya benar-benar bisa aku
pahami, Sholat dengan khusuk sehingga makin
membuatku merasa bukan apa-apa, berorganisasi
dengan cara Islami sehingga membuatku menjadi
53
orang yang makin bertanggung jawab, dan masih
banyak lagi hal-hal yang menyenangkan yang bisa
aku lakukan. Jadi, enggak ada alasan buatku untuk
enggak betah. Bahkan aku kepingin selamanya
berada di tempat ini. Setelah lulus nanti, aku malah
kepingin untuk mengabdi di sini.”
“Apa?? Semua yang Kakak sebutin itu
menyenangkan, apa aku enggak salah dengar?
Bukankah semua itu cuma bikin bete? “
“Kamu benar, Ra. Jika hati seseorang masih
belum bersih, tentu hal-hal semacam itu emang
enggak menyenangkan. Baginya akan sulit untuk bisa
merasakan suatu kenikmatan yang sebetulnya bisa
dia rasakan. Dan itu emang enggak gampang, semua
harus melalui proses dan kesungguhan yang luar
biasa. Beruntung sejak kecil aku sudah berada di
tempat ini, sehingga aku belum sempat tercemar oleh
hal-hal yang merugikan. Dan karenanyalah aku
merasa bersyukur karena sudah diberi kesempatan
buat merasakan kenikmatan itu, terus terang walau
belum seperti yang kuharapkan.”
54
“Hmm… apa aku bisa seperti itu?” tanya Dara.
“Kenapa enggak, jika kamu mau sungguhsungguh
berusaha, Tuhan pasti akan memberikan
rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga apa yang kita citacitakan
menjadi tercapai.”
“Tapi rasanya kok sulit, ya.”
“Emang sulit. Tapi, kamu kan bisa melakukannya
perlahan-lahan, setahap demi setahap. Untuk
sementara lakukan saja yang bisa kamu lakukan, dan
terus berusaha untuk enggak mengulangi setiap
kesalahan yang pernah kamu lakukan.”
“Setahap demi setahap? Tapi bukankah di tempat
ini kita wajib ngelakuin hal-hal yang udah menjadi
ketetapan institusi.”
“Emm… emangnya, kamu benar-benar merasa
berat buat melakukan apa yang sudah menjadi
ketetapan di sini?” tanya seniornya yang bernama Sifa
itu dengan lembut.
Dara menganggukkan kepalanya.
Sifa pun tersenyum. “Apa kalau bukan di tempat
ini, kamu bisa melakukannya setahap demi setahap.”
55
Dara terdiam, dalam hati dia merasa enggak yakin
apakah dia bisa melakukannya atau enggak. “Aku
enggak tau,” jawabnya kemudian.
“Dara… kalau kamu mau tahu. Sebenarnya di
mana pun kita berada, kita bisa saja mewujudkan itu.
Yang terpenting adalah kita ‘mau’. Selama kita belum
mau, di mana pun kita berada tentu enggak ada
gunanya. Tapi terkadang kemauan itu ada setelah
adanya tekanan yang kita terima, semula hal itu kira
rasakan seperti paksaan yang membuat kita ingin
berontak, namun lama-kelaman kita akan
menyadarinya kalau hal itu justru membuat kita makin
lebih baik. Semisal, seorang cowok yang begitu lemah
dan enggak berotot kepingin memiliki tubuh yang
atletis. Karena keinginannya itulah akhirnya dia
memasuki sebuah tempat fitness yang terbaik, namun
ternyata dia sama sekali enggak mendapatkan apa
yang dia inginkan. Tentu saja hal itu terjadi karena dia
enggak mau konsisten melakukan apa yang sudah
menjadi ketetapan tempat itu. Soalnya, tempat-tempat
seperti itu emang kurang ketat dalam soal
56
kedisiplinan. Makanya, cowok itu pun dengan
seenaknya bisa melanggar apa yang sudah menjadi
ketetapan. Alhasil, semua enggak ada gunanya. Tapi,
ketika dia masuk militer, dia enggak bisa seenaknya
melanggar peraturan, semuanya ada sangsi yang
berat. Akhirnya, karena merasa terpaksa—dari pada
kena hukuman, maka mau enggak mau dia harus
melaksanakan peraturan yang udah ditetapkan itu.
Segala bentuk latihan terpaksa dia lakukan, walaupun
dia merasa begitu tersiksa. Alhasil setelah dia lulus
pendidikan, maka enggak diragukan lagi—dia akan
menjadi cowok yang gagah, dan dia akan menyadari
kalau tanpa itu semua mungkin dia enggak akan
menjadi cowok gagah seperti yang diharapkannya.”
Dara tampak mengangguk-angguk karena apa
yang dikatakan temannya itu emang benar. Tapi
sekali lagi, cewek yang bernama Dara itu tetap saja
pada pendiriannya semula. “Kak, kayaknya aku
emang belum siap, atau mungkin aku emang belum
mau. Entahlah, yang jelas semua itu masih terasa
berat buatku.”
57
“Kalo kamu emang belum bisa. Coba deh,
memohon kepada sang Pembolak-balik Hati buat
mengganti hatimu itu. Insya Allah, dengan sifat
penyayang-Nya, Beliau bisa memberikanmu hati yang
baik.”
Tiga minggu kemudian, di sebuah institusi
pendidikan yang nyaman. Langit terlihat cerah—dihiasi
oleh bintang-bintang yang indah bertaburan. Cahaya
rembulan pun cukup terang, membias di antara
rimbunnya pepohonan liar. Saat itu, Dara tampak
sedang mengendap-endap mendekati pagar setinggi
dua meter yang mengelilingi Pesantren. Kemudian
dengan begitu cekatan, cewek itu segera menaiki
sebuah pohon yang salah satu cabangnya tampak
melewati pagar. Dan dengan bergelantungan di
cabang itulah dia berhasil naik ke atas pagar dan
melompat turun menjauhi Pesantren.
58
Kini Dara mulai melangkah perlahan di bawah
terangnya sinar rembulan. Sementara itu di kejauhan,
terdengar lolongan anjing yang membuat bulu
kuduknya sempat berdiri. Namun begitu, cewek manis
itu terus nekad melangkah. Memasuki hutan lebat
yang menurut orang-orang dihuni oleh berbagai
macam mahluk halus.
Cewek itu terus melangkah dan melangkah,
melewati semak berduri dan lebatnya pepohonan liar.
Beberapa kali duri telah melukai kulitnya yang mulus,
membuat goresan-goresan merah agak memanjang.
“Ach…!” Dara terpekik. Lagi-lagi duri telah melukai
kulitnya. Sungguh dia seorang cewek yang betul-betul
nekad. Walaupun disetiap langkah ada bahaya
mengancam, tampaknya dia enggak takut sedikitpun.
Cewek itu terus melangkah dan melangkah, kedua
matanya terus fokus mencari jalan yang bisa dilalui.
Dan ketika matanya menatap ke suatu tempat, tibatiba
dilihatnya sesosok bayangan hitam tampak berdiri
di samping sebuah pohon. Tak ayal, saat itu juga Dara
59
langsung menjerit histeris. Lantas tanpa buang waktu,
cewek itu pun segera ambil langkah seribu.
Dara terus berlari dan berlari tanpa berani
menengok ke belakang sedikit pun, hingga akhirnya
dia tiba di tepi sebuah telaga yang enggak terlalu
besar. Kini cewek itu tampak tertunduk dengan kedua
tangan yang bertumpu di lutut, sedangkan nafasnya
tampak begitu tersengal-sengal.
“Sedang apa kamu di tempat seperti ini?” tanya
seorang tiba-tiba.
Saat itu juga Dara langsung terkejut dan berniat
kembali ambil langkah seribu. Namun belum sempat
dia berlari, tiba-tiba… “Hey, tunggu…!!! Aku tidak
akan menyakitimu!” seru orang yang bertanya tadi
menahannya.
Dara pun segera membatalkan niatnya, kemudian
cewek itu tampak memperhatikan sosok pemuda
yang kini tengah menghampirinya.
“Kenapa kamu lari? Aku kan cuma mau bertanya,”
tanya orang itu lagi.
60
“A-apakah kamu bu-bukan hantu?” Dara balik
bertanya.
“Ha ha ha…! Rupanya kamu habis melihat
hantu…”
“Kenapa kamu malah ketawa?” tanya Dara heran.
“Gimana aku enggak ketawa. Cewek yang takut
hantu kok bisa-bisanya berada di tempat seperti ini.”
“Terus terang, sebenarnya aku enggak suka
berada di tempat seperti ini. Namun karena suatu
sebab, aku terpaksa melakukannya.”
“Hmm… kamu pasti lari dari Pesantren itu ya?”
“Gimana kamu bisa tahu?”
“Soalnya enggak mungkin ada cewek setempat
yang berani keluar malam-malam begini. Mereka tahu
benar, kalo di sini banyak hantunya.”
“Mmm… kamu sendiri, bukan pemuda dari sini
kan?”
“O ya, kenalkan. Aku Handy dari Jakarta.”
“Eng, aku Dara. Juga dari Jakarta.”
Setelah saling mengenal. Kedua muda-mudi itu
melanjutkan obrolan mereka di tepi telaga itu hingga
61
pagi hari. Sementara itu di Jakarta, orang tua Dara
yang baru selesai menunaikan sholat Subuh tampak
sedang berbincang-bincang di beranda. Mereka
membicarakan Dara yang sudah satu bulan berada di
Pesantren.
“Yah, saat ini Dara sedang apa ya?” tanya sang
Istri.
“Mungkin saja dia sedang membaca Al-Quran.
Soalnya di tempat itu, jam segini semua anak didik
biasa diwajibkan membaca Al-Quran agar jiwa
mereka senantiasa tentram.”
“Syukurlah, Yah. Jika di sini, dia kan masih tidur
dan baru bangun kalau matahari sudah mulai
bersinar.”
“O ya , Bu. Bukankah hari ini kita mau
menjenguknya?”
“Betul, Yah. Aku sudah tidak sabar ingin segera
bertemu dengannya. Terus terang, selama ini aku
sangat merindukannya.”
“Aku juga, Bu. Aku sudah begitu merindukannya.
Seperti apa ya putriku itu sekarang.”
62
Kedua orang tua Dara terus berbincang-bincang
hingga enggak terasa sinar mentari tampak makin
terang menyinari halaman depan. Sementara itu di
tepi sebuah telaga, pantulan sinar mentari tampak
indah memantul di air telaga yang begitu jernih. Saat
itu Dara masih berbincang-bincang dengan pemuda
tampan yang bersamanya. Tampaknya dia sudah
semakin akrab dan tak canggung lagi berbicara
dengannya.
“Han, apa selama berpetualang menjelajahi
tempat-tempat angker, elo sering menjumpai makhluk
halus.”
“Sering banget, Ra. Bahkan hampir di setiap
tempat yang gue singgahi selalu ada penampakan.”
“Apakah mereka pernah ngelukain elo?”
“Ya, kadang-kadang aja. Itu pun karena gue
menantang mereka. Namun selama ini mereka
enggak pernah bisa ngelukain sampai begitu parah,
itu semua karena gue mempunyai bekal ilmu yang
cukup, dan tentu aja atas seizin Tuhan.”
“Kenapa elo menantang mereka?’
63
“Habis, gue kesal banget kalo mereka mencoba
menyesatkan orang-orang setempat dengan segala
tipu daya mereka. Sehingga orang-orang setempat
begitu menghormati mereka dengan cara memberikan
persembahan yang sebenarnya enggak pantas
dilakuin. Bahkan ada dari orang-orang itu yang sampai
menjadikannya Tuhan dan menyembah padanya.
Padahal, cuma Allah-lah sebaik-baiknya Tuhan yang
patut disembah.”
“O ya, Han. Mau enggak elo tunjukin gue di mana
jalan raya berada?”
“Tentu aja, Ra. Gimana kalo elo gue antar sampai
ke sana.”
“Wah, Han. Sebelumnya gue ucapin terima kasih
banyak ya!”
Pemuda itu pun tampak tersenyum, dan enggak
lama kemudian dia udah melangkah bersama Dara
menuju ke jalan raya. Setibanya di tempat itu, Dara
dan pemuda yang bersamanya tampak menunggu
angkot yang biasa melewati tempat itu. Dan ketika
sebuah angkot lewat, Dara pun segera menaikinya.
64
Sementara itu, pemuda yang tadi bersamanya tampak
melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Dara
pun membalas lambaian tangan pemuda itu sambil
tersenyum manis.
Kini cewek yang bernama Dara itu sedang berpikir
keras, mencari alasan, agar niatnya pergi ke rumah
neneknya yang berada di antara Pesantren dan
Jakarta bisa berjalan dengan lancar.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan
jauh, akhirnya Dara tiba di tempat tujuan. Saat ini dia
tengah berbicara dengan sang Nenek di ruang tamu.
“O… jadi kamu mau liburan di sini. Tapi… kenapa
ayah dan ibumu tidak mengantar?”
“Mereka terlalu sibuk, Nek.”
“Ya, paling tidak… nitip pesan begitu.”
“O ya, ada Nek.” Dara segera mengeluarkan
sepucuk surat dengan tanda tangan yang dipalsukan.
Sang Nenek pun segera membacanya. Enggak
lama kemudian, “Hmm… kini Nenek mengerti,”
katanya seraya memperhatikan Dara dengan dahi
sedikit berkerut. “Dara, kenapa wajahmu tampak
65
pucat, dan kenapa pula dengan kulitmu itu?” tanyanya
kemudian.
“Eng… mungkin ini karena aku kurang tidur, Nek.
Dan goresan di kulitku ini karena kecerobohanku yang
ketika bermain di kebun tetangga enggak
memperhatikan semak berduri.”
“O… begitu rupanya. O ya, Cu. Apa kamu sudah
lapar?” tanya sang nenek ketika menyadari waktu
sudah menunjukkan pukul 11. 45 WIB.
“Iya, Nek. Aku udah lapar banget.”
“Kalau begitu, ayo kita makan! Kebetulan, tadi
pagi Nenek sudah menumis jamur. Bukankah itu
makanan kesukaanmu.”
“Lho, kok Nenek masih ingat aja makanan
kesukaanku,” kata Dara enggak percaya.
“Bagaimana Nenek tidak selalu ingat. Waktu itu,
ketika kamu berusia 8 tahun, di saat nenek menginap
di rumahmu. Kamu selalu menangis jika Nenek
mencoba mengambil jamur yang disediakan oleh
ibumu. Sepertinya jamur itu hanya untuk dirimu saja.”
66
“Ah, Nenek. Aku sendiri udah lupa dengan
kejadian itu. Saat itu kan aku emang belum mengerti
tentang arti serakah.”
“Iya… Nenek mengerti. Tapi, bagi Nenek hal itu
sangat berarti. Terus terang, jika Nenek bertindak
serakah, maka Nenek selalu teringat akan hal itu. Dan
Nenek pun akhirnya sadar, kalau perbuatan itu tidak
sepantasnya nenek lakukan, karena jika Nenek
melakukannya berarti nenek sama saja dengan kamu
yang waktu itu masih anak-anak.”
“O ya, Nek. Kita jadi makan enggak?”
“Aduh, kenapa Nenek jadi lupa. Kalau begitu,
kamu tunggu di sini sebentar! Nenek mau
menghangatkannya dulu,” kata sang Nenek seraya
melangkah ke dapur.
Saat itu Dara tampak menunggu di ruang tamu
sambil memperhatikan goresan-goresan di kulitnya
yang mulus. Sementara itu di Pesantren, orang tua
Dara yang baru saja tiba tampak panik. Mereka benarbenar
khawatir dengan Dara yang enggak diketahui
keberadaannya. Kini mereka tengah bercakap-cakap
67
dengan Pengurus Pesantren untuk menyelesaikan
masalah itu.
“Bagaimana ini, Pak? Putri saya itu memang suka
nekad. Terus terang, saya benar-benar khawatir jika
sesuatu yang buruk menimpanya,” tanya ayah Dara
kepada Pengurus Pesantren itu.
“Tenang Pak Bobby! Beberapa santri sudah saya
kerahkan untuk mencarinya. Insya Allah dalam waktu
dekat Dara sudah bisa ditemukan.”
“Bukan apa-apa, Pak. Tempat ini kan dikelilingi
oleh bukit dan hutan lebat, karenanyalah aku benarbenar
khawatir.”
“Kalau begitu, sebaiknya Bapak terus berdoa agar
yang Bapak khawatirkan itu tidak terjadi.”
“Tentu saja, Pak. Saya pasti akan terus berdoa.
Namun begitu, kita juga perlu untuk melakukan usaha
yang maksimal.”
“Kalau begitu baiklah, sekarang saya akan
memerintahkan kepada beberapa santri lagi untuk
menyisir semua penjuru.”
68
“Terima kasih, Pak. Sekarang saya sudah agak
lega. Jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin,
dan ternyata apa yang kita harapkan tidak terjadi
maka itu sudah pasti karena kehendak-Nya.”
“Kalau begitu, mari kita mulai sekarang!” ajak
sang Pengurus Pesantren itu.
“Mari, Pak…”
Akhirnya mereka dan beberapa santri yang
diikutsertakan mulai bergerak menyisiri hutan, mereka
berpencar ke segala penjuru untuk menemukan Dara.
Setelah lama melakukan pencarian, akhirnya Pak
Bobby dan Pengurus Pesantren berjumpa dengan
seorang pemuda yang tampak tergesa-gesa
menghampiri mereka. Pemuda itu ternyata Handy,
pemuda yang waktu itu bertemu dengan Dara.
“Permisi, Pak. Apakah Bapak-Bapak sedang
mencari seorang gadis.”
“Betul, Nak. Apa kau melihatnya?” tanya Ayah
Dara menggebu-gebu.
69
“Betul, Pak. Bahkan aku sempat berbincangbincang
padanya. Sebenarnya, aku pun sedang
menuju ke Pesantren untuk memberitahukan hal ini.”
“Syukurlah kalau begitu. Nah, sekarang tolong
katakan! Di mana putriku itu kini berada?” tanya Ayah
Dara lagi.
“Hmm… jadi Bapak, ayahnya Dara?” tanya
pemuda itu.
“Betul, Nak.”
“Kebetulan, banyak sekali yang ingin kubicarakan
pada Bapak.”
“Eng.. kalau begitu baiklah. O ya, ngomongngomong…
bagaimana dengan keadaan Dara? Apa
dia baik-baik saja?”
“Tenang, Pak. Insya Allah, saat ini Dara sedang
baik-baik saja di rumah neneknya.”
“Be-benarkah yang kau katakan itu?”
“Betul, Pak. Itulah yang Dara katakan pada saya.”
“Pak, Bobby. Bagaimana kalau sekarang kita
kembali ke Pesantren untuk membicarakan masalah
ini,” ajak Pak Pengurus Pesantren.
70
“Baiklah, Pak. Kalau begitu, Mari…”
Akhirnya mereka kembali ke Pesantren untuk
membicarakan perihal Dara. Sementara itu di rumah
neneknya, Dara sedang termenung di atas tempat
tidur. Sepertinya cewek itu sedang memikirkan
sesuatu, “Maafin Dara, Nek! Dara udah berbohong
sama nenek. Soalnya kalo enggak begitu, nenek pasti
akan memberitahukan pada ayah dan ibu. Sekarang
pun Dara lagi bingung, gimana jika ayah dan ibu
sampai tahu Dara lari dari Pesantren. Mereka tentu
akan murka banget.”
Cewek itu terus merenung, namun karena kantuk
dan rasa lelah yang dirasakan, akhirnya cewek itu pun
tertidur. Dan dia baru terbangun ketika waktu sudah
menunjukkan pukul empat sore.
Kini cewek itu baru selesai mencuci muka dan
sedang menuju ke ruang tamu. Ketika dia tengah
membuka pintu depan untuk menuju teras, tiba-tiba…
“Dara! Sini, Cu!” panggil sang Nenek yang kini
dilihatnya tengah duduk di sofa yang semula luput dari
pandangannya.
71
“Iya, Nek!” sahut Dara seraya bergegas
menghampiri beliau dan duduk di sebelahnya. “Ada
apa, Nek,” tanyanya kemudian.
“Coba lihat ini!”
“Apa itu, Nek?” tanya Dara seraya duduk dan
terus memperhatikan sebuah benda yang sedang
dipegang oleh neneknya.
“Ini adalah kotak teka-teki peninggalan kakekmu.
Waktu itu kakekmu pernah berpesan, jikalau kamu
sudah berusia tujuh belas tahun maka kotak ini harus
diserahkan padamu. Bukankah sekarang usiamu
sudah tujuh belas tahun?”
“Benar, Nek”
“Nah, sekarang terimalah kotak ini.”
Dara pun segera menyambut kotak itu dan
memperhatikannya dengan seksama. Kotak yang
terbuat dari kuningan itu berbentuk kubus dengan
beberapa tombol yang juga terbuat dari kuningan.
Pada setiap sisinya terdapat beberapa bagian yang
bisa digeser dengan menekan salah satu tombol
tersebut. Jumlah tombol di semua sisinya berjumlah
72
27 tombol, sedang bagian yang bisa digeser
berjumlah 16 buah. Semua itu adalah kunci kombinasi
yang bisa membuka kotak tersebut.
“Dara… di dalam kotak itu ada kalimat ajaib yang
akan membuatmu hidup bahagia.”
“Tapi, Nek. Kayaknya aku enggak mungkin bisa
membuka kotak ini. Liat aja, kombinasinya begitu
banyak!”
“Insya Allah kamu bisa. Asal saja kamu mau
berusaha memecahkan teka-tekinya dengan hati yang
bersih.”
“Kenapa harus begitu, Nek.”
“Karena dengan hati yang bersihlah, akalmu bisa
digunakan dengan maksimal.”
Nenek dan cucunya itu terlihat terus berbincangbincang
hingga akhirnya, “Assalamu’alaikum!” seru
seseorang di luar rumah.
“Wa‘allaikum Salam…!” jawab sang Nenek seraya
menemui orang tersebut.
73
“Bobby, Cindy…” ucap sang Nenek gembira
seraya menyambut peluk cium dari putra dan
menantunya.
“Aduh… Aduh… Aku benar-benar tidak menduga
kalau kalian akan datang kemari. Padahal di surat
yang kalian titipkan pada Dara menyebutkan kalau
kalian itu sibuk sekali.”
Pak Bobby dan Istrinya tampak saling
berpandangan.
“Surat… surat apa maksud Ibu?” tanya Pak Bobby
heran.
“Lho… emangnya kalian tidak merasa menulis
surat untukku? Hmm… kini aku mengerti,” kata sang
Ibu seraya mempersilakan keduanya masuk.
Pada saat yang sama, Dara tampak tertunduk di
tempat duduknya. Pada saat itu juga kedua orang
tuanya langsung memeluk dan menciuminya berkalikali.
Dara yang semula merasa akan dimarahi menjadi
heran, dia benar-benar enggak menduga kalo kedua
orang tuanya akan bersikap demikian.
74
“Maafkan Ayah, Sayang…! Mulai saat ini ayah
tidak akan memaksakan kehendak Ayah lagi. Kamu
memang tidak seperti gadis kebanyakan, kamu
mempunyai tabiat yang keras namun belum bisa
berpikir panjang. Kini ayah sadar, karena sudah tidak
ada gunanya lagi jika terus memaksamu menjadi
seperti apa yang Ayah inginkan. Mulai sekarang,
lakukanlah segala keinginanmu yang kamu anggap
benar. Terus terang, Ayah tidak akan melarangnya.
Tapi ingat, kamu harus selalu berdoa pada Tuhan
agar senantiasa selalu melindungimu. Ayah dan Ibu
juga akan senantiasa berdoa agar kamu senantiasa
mendapat perlindungan-Nya.”
“Iya Sayang… Ibu juga tidak akan menghukummu
lagi. Tapi ingat, kamu jangan menyalahgunakan
semua kebebasan ini. Sekarang kan kamu sudah
dewasa, cobalah untuk mulai berpikir panjang untuk
menyaring segala pengaruh lingkungan.”
Dara tampak mengangguk-angguk saja. Dalam
hati dia merasa telah menang dengan mendapat
kebebasan seperti yang diharapkannya. Kini kedua
75
orang tuanya yang sudah pasrah itu hanya bisa
memohon perlindungan Tuhan agar senantiasa
melindungi putri mereka, bukankah selama ini mereka
udah berusaha untuk membimbing putri mereka agar
senantiasa berada di jalan yang lurus. Namun karena
hidayah emang belum sampai kepadanya, jalan yang
terbaik emang hanya mempasrahkan kepada Sang
Pembolak-Balik Hati dengan terus berdoa dan berdoa.
Karena doa adalah pengakuan kita akan kekuasaan
Tuhan. Kita sebagai manusia yang lemah dan tak
berdaya mutlak membutuhkan bantuan-Nya.
Karenanyalah kita dianjurkan untuk selalu berdoa dan
memohon bantuan hanya kepada-Nya.
Jika kita menghadapi segala masalah, maka
berdoalah. Mohon kepada-Nya untuk memberi
petunjuk dalam menyeselaikan masalah itu.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi
s.a.w selalu memohon perlindungan dari suratan
takdir yang buruk, dari ditimpa kecelakaan, dari
keghairahan musuh dan dari terkena bala.
76
Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
jika kita percaya akan keberadaan-Nya janganlah
meragukan segala pertolongan-Nya. Bagaimanapun
caranya Tuhan pasti akan menolong dengan cara-
Nya, dan pada waktu yang dikehendaki-Nya.
Itulah kenapa kita selalu dianjurkan untuk berdoa,
dan dengan doa itulah kita akan terselamatkan. Doa
itu membutuhkan keyakinan, yaitu keyakinan bahwa
Tuhan pasti akan mengabulkannya. Jika kita tidak
yakin, maka doa itu pun akan menjadi sia-sia.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila kamu berdoa,
janganlah berkata: Ya Allah, ampunilah aku jika
Engkau kehendaki. Tetapi hendaklah dia serahkan
permohonannya dengan senang hati, kerana Allah
tidak pernah segan untuk memberikan sesuatu
kepadanya.
(Inti Hadis ini, kita harus yakin dan tidak boleh
ragu-ragu. Kalimat “Jika engkau kehendaki” adalah
sebuah keragu-raguan, sepertinya Allah belum tentu
77
mengabulkan permohonannya itu, karena itu
janganlah ragu-ragu.)
Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya:
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila kamu berdoa,
maka hendaklah kamu berazam serta benar-benar
memohon kepada Allah s.w.t dan janganlah berkata:
Ya Allah, jika Engkau kehendaki maka
perkenankanlah kepada aku, karena sesungguhnya
Allah itu bukanlah kedekut (kikir).
(Inti Hadis ini sama dengan hadis di sebelumnya,
yaitu kita harus yakin dan tidak boleh ragu-ragu. Kita
harus yakin kalau setiap permintaan kita akan
dikabulkan, karena Allah itu tidaklah kikir. Allah itu
Maha Pemurah.)
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w bersabda: Doa seseorang itu akan
dikabulkan selagi dia tidak terburu-buru (minta segera
dikabulkan) menyebabkan dia berkata: Aku berdoa
tetapi tidak dimakbulkan.
(Inti hadis ini, kita tidak boleh berputus asa akan
doa yang belum juga dikabulkan. Kita dianjurkan
78
untuk terus berdoa, sampai akhirnya Tuhan
mengabulkannya. Tuhan lebih mengetahui apa yang
terbaik buat kita, dan kapan hal itu akan dikabulkan.
Karenanya selalu berprasangka baiklah kepada
Tuhan. Andai saja doa kita tidak juga dikabulkan, itu
tandanya doa kita bisa berdampak buruk buat kita,
karenanyalah doa kita itu akan di simpan agar menjadi
tabungan kebaikan untuk bekal kita di akhirat kelak.)
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku
adalah berdasarkan kepada sangkaan hamba-Ku
terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-
Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, niscaya
Aku juga akan mengingatinya dalam diri-Ku. Apabila
dia mengingat-Ku dalam suatu kaum, niscaya Aku
juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang
lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekati-Ku
dalam jarak sejengkal, niscaya Aku akan
mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia
mendekati-Ku sehasta, niscaya Aku akan
mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia
79
datang kepada-Ku dalam keadaan berjalan seperti
biasa, niscaya Aku akan datang kepadanya dalam
keadaan berlari-lari kecil
Jika kita mencermati hadist itu kita akan
menyadari betapa Tuhan sangat mencintai kita dan
karenanyalah enggak sepantasnya kita berprasangka
buruk kepada-Nya.
(Maaf kalo ada yang ngerasa bete, penulis
bukannya bermaksud menceramahi pembaca yang
mungkin sudah paham betul. Namun dikarenakan,
enggak semua orang mengerti maka penulis merasa
berkewajiban untuk memberikan keterangan yang
sekiranya bisa bermanfaat. O ya, gimana kalo
sekarang kita pindah bab aja? )
80
Empat
ada minggu yang cerah di depan sebuah Mal,
Dara cs lagi pada nongkrong sambil haha-hihi.
Saat ini mereka sedang merayakan hari kebebasan
Dara yang Kini udah makin enggak bisa dikontrol. Kini
cewek itu udah merasa menang karena ayah dan
ibunya enggak akan berani lagi macam-macam
padanya. Setelah peristiwa itu, kedua orang tuanya
emang udah pasrah dan enggak berani menanggung
risiko kehilangan anak yang mereka cintai.
“Liat tu, cowok ganteng begitu eh ceweknya malah
kayak tempayan dapur,” komentar Dara pada
sepasang muda-mudi yang lagi jalan sambil
bergandengan tangan.
Saat itu juga Dara langsung mengeluarkan secarik
kertas dan menuliskan sebaris kata, kemudian
dengan serta-merta dia melangkah ke belakang
cewek itu dan menepuk punggungnya seraya
P
81
menempelkan secarik kertas yang udah dilumuri
permen karet dan bertuliskan ‘aku cewek gila’.
“Ira! Ups… Sorry ya!, aku kira si Ira. Habis dari
belakang mirip banget sih,” ucap dara ketika si cewek
menoleh ke arahnya.
Kemudian sepasang muda-mudi tadi kembali
melanjutkan langkahnya, Dara pun ketawa kecil
sambil menutup mulutnya dan segera kembali
bergabung dengan teman-temannya.
“Gila loe, Ra. Usil banget sih,” komentar Dita.
“Kalo enggak usil, bukan ‘Dara’ namanya,” kata
Dara bangga.
“Elo ngiri ya, ngeliat tu cewek digandeng sama
cowok ganteng,” komentar Wita.
“Eh… sorry ya, gue enggak ngiri tu. Gue bisa
dapatin yang sepuluh kali lipat lebih ganteng dari pada
cowok tadi,” ucap Dara PD.
“Eh, kita ke atas yuk!” ajak Seli.
Mereka pun setuju dengan ajakan Seli. Kemudian
dengan segera mereka melangkah menuju ke lantai
atas—ke bioskop 21.
82
Sementara itu di sebuah kafetaria, empat orang
cowok tampak asyik menikmati makan dan minum
sambil becanda-becindi. Mereka itu adalah Jaka cs
yang sedang santap siang di sebuah kafetaria. Sambil
menikmati makanannya, cowok yang bernama Jaka
tampak melirik sana-sini—mencari pemandangan
bagus. Kini mata Jaka melihat ke arah sebuah meja
yang ditempati oleh dua orang cewek cantik yang
mengenakan rok mini.
“Nah itu baru seksi, nunduk dikit pasti keliatan
deh,” kata Jaka dalam hati seraya memandang ke
arah cewek-cewek itu, kemudian dia menjatuhkan
bungkus rokoknya. “Lho mana segitiganya, sial…
pake hot-pant lagi,” umpat Jaka dalam hati seraya
kembali duduk tegap.
Teman-temannya yang melihat kelakuan Jaka
cuma pada cengengesan, mereka tau benar si Jaka—
mata keranjangnya lagi kumat.
“Jangan cengar-cengir kalian!” kata Jaka kesal.
“Pink, yellow apa totol-totol?” tanya Jekky.
83
“Elo liat aja sendiri! Sial gue ketipu,” umpatnya
lagi.
“Hehehe… hot-pant ya,” komentar Randy
menebak sambil cengengesan.
“Yup! Mana ijo lagi. Pokoknya sial banget deh,
padahal gue udah ngebayangin pink kalo enggak
white,” kata Jaka sambil garuk-garuk kepala.
Mereka pun melanjutkan obrolan sambil terus
menikmati pizza dan es teler. Seusai menikmati
makan dan minum Jaka cs tampak asyik ngeceng
sambil menggoda setiap cewek yang lewat.
“Dewi? Ratna? Silvi?” panggil Jaka kepada cewek
manis yang lewat di depannya. “Sayang…! Manismanis
tapi budeg,” sindirnya kemudian.
Teman-teman Jaka cuma cengar-cengir melihat
aksi si Jaka, soalnya mereka selalu lihat-lihat dulu jika
mau menggoda cewek. Enggak seperti si Jaka, di
mana saja, kapan saja, kalo ada cewek yang ditaksir
pasti langsung digoda.
“Hallo manisss! Kalo enggak nengok janda,” kata
Jaka asal.
84
Lantaran enggak mau dibilang Janda, cewek itu
pun menengok, kemudian menghampiri Jaka yang
lagi senyam-senyum sendirian.
“Eh! Kalo mau kenalan yang sopan dong! Jangan
begitu caranya,” kata si cewek kesal.
“Jalan-jalan nyari kedondong, kenalan dong!” ajak
Jaka seraya mengulurkan tangan sambil
cengengesan.
“Sorry ya! Gue enggak minat punya teman kayak
loe,” kata cewek itu dengan wajah yang terlihat kesal.
“Huh, bukannya minta maaf. Malah cengengesan
kayak enggak ngerasa bersalah,” umpatnya dalam
hati.
“Lho tadi salah, begini juga salah. Mau loe kenalan
yang seperti apa sih?” tanya Jaka pura-pura bego.
“Huh, dasar…” kata cewek itu seraya melangkah
pergi.
“Mantaaap! Eh, Neng? Kok marah?? Kita kan
belum kenalan!” teriak Jaka.
Tampaknya cewek tadi enggak mempedulikannya,
dia terus saja menjauh.
85
Di ruang tunggu bioskop 21, Dara cs lagi dudukduduk
menunggu pintuuu… teatre satuuu… telaaah
dibukaaa… bagi anda yang tidak memiliki karciiis…
pasti cuma mau ngeceng doaaang…! (Lho kok jadi
ngelantur.)
“Ra, si Tom Cruise dalam film ini, pokoknya oke
banget deh,” komentar Seli.
“Sok tahu loe, Sel! Kayak yang udah nonton aja,”
kata Dara.
“Gue kan udah liat cuplikannya di televisi,” kata
Seli meyakinkan.
“Kalo gue sih enggak peduli tu sama cowok yang
satu itu, yang gue mau liat cuma aktingnya si Alicia
Silverstone. Itu loh, cewek penampilannya selalu oke
di setiap film yang dibintanginya. Kalo aja gue jadi dia,
akan gue uber-uber si Leonardo Decaprio,” kata Dara
berandai-andai seraya menyimpan kotak teka-teki
yang baru diutak-atiknya.
“Elo mau pacarin, Ra,” tanya Wita.
86
“Enggak. Gue mau getok kepalanya pake
penggorengan. Ya… dipacarin dong, bego amat sih
loe,” kata Dara ketus.
Kedua temannya yang lain langsung ketawa
cekikikan, sedangkan si Wita sedikit kesal lantaran
jawaban Dara yang kedengarannya mengejek. Ketika
sedang asyik-asyiknya membicarakan bintang-bintang
film itu, tiba-tiba terdengar “Perhatian-perhatiaaan…
pintu teatre satuuu… telah dibukaaa… bagi anda yang
telah memiliki karcis… dipersilakan masuuuk…!”
Dengan segera Dara cs bangkit dari tempat duduk
dan melangkah menuju ke penjual popcorn, setelah
membeli popcorn dan cola mereka pun memasuki
ruang bioskop.
Sementara itu di tempat lain, seorang cowok
tampak sedang berhadapan dengan seorang cewek.
Kata orang, hidup emang perlu perjuangan. Seperti
yang dilakukan Jaka saat ini, ketika dia kepingin
banget mendapatkan hati seorang cewek yang
ditaksirnya. Dengan sikap cuek dan sedikit usil, cowok
itu berusaha dengan gigih untuk mendapatkan
87
cintanya. Akibatnya kini cewek itu sedang marahmarah
di hadapannya.
“Eh elo pikir, elo itu siapa. Seenaknya berbuat
begitu. Itu namanya pelecehan seksual, melanggar
HAM tau!” kata cewek itu dengan mata melotot.
Jaka yang dimarahi bukannya minta maaf eh
malah cengengesan, sambil garuk-garuk kepala
cowok itu mulai angkat bicara. “Eh, Neng. Kalau
enggak mau digoda kenapa memakai pakaian yang
mengundang begitu. Enggak salah kan, kalo naluri
gue sebagai cowok tiba-tiba jadi bernafsu lantaran
ngeliat body loe yang seksi,” kata Jaka terus terang.
Dengan memasang wajah kesal, si cewek lantas
pergi dari hadapan Jaka—dia benar-benar telah dibuat
jengkel.
“Sial… brengsek…,” umpat Jaka seraya
menendang sebuah tempat sampah.
“Sudah, Ka! Jangan marah begitu,” kata Randy
menenangkan.
“Sialan enggak? Baru segitu aja, udah dibilang
melanggar HAM. Apa dia pikir sehabis ngeliat body88
nya yang seksi pikiran gue jadi biasa aja, enggak juga
tu. Gue malah jadi penasaran. Entar juga di rumah,
gue mau main sabun—biar enggak penasaran.”
Teman-temannya pun langsung pada
cengengesan melihat kepolosan Jaka, yang dengan
terus terang akan melakukan, maaf… ‘Onani’ setiap
habis melihat cewek cantik dengan body seksi.
“Emang betul, apa yang dibilang Jaka. Di jalanan
emang banyak cewek yang sengaja mengundang
perhatian para Cowok. Kalo mereka digoda dan
dilecehin katanya melanggar HAM. Tapi kalo mereka
bikin hati para Cowok jadi dag-dig-dug enggak
dipermasalahin,” kata Randy mendukung.
Akhirnya mereka pun segera meninggalkan
tempat itu dengan diiringi lagu Tipe-X yang berjudul
‘biar enggak penasaran’ yang terdengar mengalun
berapi-api.
Hari ini pikiran lagi enggak karuan
Nyesel tapi sengaja nonton film begituan
Otak penuh hayalan juga bayang-bayang
89
Ingin cepat lepaskan bingung cari saluran
Lalu cari solusi yang sehat dan alami
Bukan enggak punya uang sumpah haram jajan
Biar sedikit bandel utamakan kesehatan
Belum sempat pikir panjang
setan langsung kasih jalan
Sebentar meditasi lalu segera beraksi
Pasang kuda-kuda enggak lupa ambil posisi
Semua berinteraksi timbulkan tegangan tinggi
Saat gelombang datang
terdengar burung kecil bernyanyi
kini semua lancar aman dan terkendali
hilang segala peluh otakpun segar kembali
emang yang mengganggu perlu cepat lepaskan
bisa jadi bahaya kalau lama disimpan
Makanya buang… makanya buang…
jangan ragu-ragu
Makanya buang… makanya buang…
bisa mengganggu
Makanya buang… makanya buang…
jangan ragu-ragu
90
Makanya buang… makanya buang… tapi awas
jangan sampai ada yang tau
Selama ini Jaka emang dikenal oleh temantemannya
sebagai seorang cowok yang mata
keranjang dan agak usil, dia emang enggak seperti
temannya-temannya yang lain. Kalau enggak bisa
menghilangkan rasa penasarannya dia selalu
melakukan… Lagi-lagi maaf… ‘Onani’. Enggak seperti
Randy yang selalu melakukan puasa Senin-kamis,
atau juga teman-temannya yang lain yang emang
suka pada jajan, pada nyari pekcun atau anak-anak
burespang yang lagi pada bete.
91
Lima
sok harinya, di sebuah warung yang terlihat
nyaman dengan dinding yang terbuat dari
anyaman bambu, dan semua dekorasinya yang
menggunakan bambu, terlihat beberapa muda-mudi
tampak menikmati santap siangnya.
Di sudut ruangan, terlihat Jaka cs sedang
menikmati ayam goreng. Sedangkan di sudut yang
lain, Dara cs lagi menikmati siomay dan mie ayam.
Sambil makan, si Dara tampak mencoba membuka
kotak teka-tekinya. Sungguh cewek itu masih dibuat
penasaran oleh kotak teka-teki itu. Padahal, dia
sendiri tidak yakin kalau bisa membukanya.
“Eh, bukankah mereka ketiga cowok yang waktu
itu di valentine party,” kata Wita tiba-tiba.
Seketika semua mata tertuju ke arah ketiga cowok
itu.
E
92
“Benar, Wit! Itu emang mereka,” timpal Dara
seraya menyimpan kotak teka-tekinya.
Dara cs terus memperhatikan ketiga cowok itu.
Sedangkan Jaka cs masih belum sadar kalo lagi
diperhatiin, soalnya mereka itu lagi rakus-rakusnya
menyantap ayam goreng.
“Habis ini kita ke mana lagi, Ka?” tanya Randy
seraya menggarot ayam yang dipegangnya.
“Mmm… gimana kalo kita main Billiard,” saran
Jaka dengan mulut penuh makanan.
“Kita main cekian atau main biasa aja?” tanya
Jepri seraya meneguk minumannya.
“Main biasa aja deh, soalnya gue lagi enggak
punya modal,” jawab Jaka seraya mencaplok
sepotong mentimun yang diiris kecil-kecil.
“Payah loe, Ka. Kenapa sih belakangan ini elo
bokek melulu?” tanya Jekky.
“Habis, ortu gue belum pulang juga, Jek. Padahal
kan, duit simpenan gue udah habis. Selama ini aja,
gue kepaksa minjem sama adik gue,” kata Jaka terus
terang.
93
“Makanya, elo sih kelewat boros. Masa, duit buat
sebulan udah habis dalam seminggu,” komentar
Randy.
“Emangnya ortu loe ke mana sih?” tanya Jepri.
“O… mereka lagi di Amrik, katanya sih mau mengupgrade
nyokap gue,” jelas Jaka.
“Gile nyokap loe, Ka. Pake di-upgrade segala.
Gue kira, cuma komputer doang yang di-upgrade.
Emangnya, apaannya sih yang di-upgrade?” tanya
Jekky.
“Enggak tau, tu. Mulanya sih nyokap gue enggak
mau, tapi karena bokap gue maksa terus, kepaksa
deh nyokap gue menurut,” jawab Jaka polos.
“Eh, ngomong-ngomong… kayaknya dari tadi kita
ada yang merhatiin deh,” kata Randy tiba-tiba.
“Siapa, Ran?” tanya Jaka celingukan.
“Itu tu, cewek-cewek yang ada di pojok sana,”
jawab Randy.
Seketika semua mata memandang melihat ke
arah Dara cs. Saat itu, di pojok warung, Dara cs
94
tampak senyam-senyum genit sambil ketawa
cekikikan.
“Loh, bukankah mereka yang waktu itu di
valentine party,” komentar Jepri.
“Benar, Jep. Enggak salah lagi, itu emang
mereka,” sambung Jekky.
“Valentine Party! Kapan kalian ke pesta itu, kok
enggak ngajak-ngajak gue sih?” tanya Randy.
“Wah, kalo itu sih udah lama banget, Ran,” jawab
Jekky.
“Sorry, Ran! Waktu itu kan elo mau menghadiri
acara penting yang diisi oleh ustad kondang. Masa sih
kita tega mengajak orang yang lagi mau berbuat baik,”
jelas Jaka. “O ya, kalo gitu… kita samperin mereka
yuk!” ajaknya kemudian.
Mereka pun serentak berdiri dari tempat duduknya
sambil membawa makanan masing-masing.
Kemudian meletakkannya di meja yang bersebelahan
dengan meja Dara cs. Setelah itu, mereka segera
mengangkat meja tersebut dan mendempetkannya di
95
meja Dara cs. Saat itu, para pelayan cuma gelenggeleng
kepala melihat kelakuan mereka.
“Boleh kan kita-kita gabung?” tanya Jaka sambil
tersenyum.
“Kalian tu seharusnya nanya dulu, baru gabung.
Kalo udah kayak gini, mau bilang apa. Ya udah, kalo
emang mau gabung,” kata Dara ketus.
“O ya, kenalin! Gue Jaka dan mereka temanteman
gue,” ucap Jaka.
“Lah iya, tentu aja mereka teman-teman elo. Masa
badan kurus-kurus kaya begitu bodyguard-loe.
Enggak mungkin kan. Tapi… ada sih satu yang bisa
dibilang bodyguard,” kata Dara sambil mengerlingkan
matanya kepada Randy. “Hmm… kayaknya gue udah
enggak asing ngeliat tampangnya. Kalo enggak salah,
gue pernah ngeliat dia. Tapi… di mana ya?” tanyanya
kemudian.
“Oh ini si Randy, dia emang seorang karateka,”
kata Jaka memperkenalkan.
96
Pada saat yang sama, Randy tampak senyamsenyum.
“Alamak… ternyata emang dia, cewek yang
pernah gue ikutin di Mal,” kata Randy dalam hati.
Kemudian Jaka cs dan Dara cs tampak saling
berkenalan. Lalu dalam tempo sekejap, mereka sudah
ngobrol ngalor-ngidul.
“Eh, malam itu kan. Elo keliatan seksi banget.
Tapi, sekarang kayaknya ada yang kurang deh. Apa
ya…” kata Jaka mengomentari penampilan Dara yang
saat itu lagi enggak menggunakan tipuan.
“Eh, ayo cepetan ngomong! Apanya yang
kurang?” desak Dara.
Jaka bukannya menjawab malah ketawa
cekakakan, teman-temannya juga pada ikut
cekakakan. Saat itu Wajah Dara tampak bersemu
merah dibuatnya. Hingga akhirnya mereka menjadi
makin akrab dan berani saling mencandai. Mereka
terus berada di warung itu hingga waktu menunjukkan
pukul empat sore.
97
“Eh, ngomong-ngomong… kami pergi dulu ya,
kami mau main billiard nih,” pamit Jaka. “O ya, kalian
mau ikut enggak?” tanyanya kemudian.
“Sorry, deh! Kalo main bowling kita mau,” tolak
Dara.
“Ya udah, kalo gitu kita pergi duluan,” kata Jaka
seraya mengajak teman-temannya pergi.
‘”Woiiiy, makanan kalian kan belum dibayar!” seru
Dara.
“Kalian aja yang bayar,” kata Jaka seraya berlalu
dari ruangan itu.
Pada saat yang sama, keenam cewek itu cuma
saling berpandangan sesama mereka. Sepertinya
mereka benar-benar bingung dengan tingkah Jaka cs.
“Gila banget, baru tumben gue ketemu cowokcowok
yang kayak begitu,” komentar Wita.
“Kalo tau begini, mendingan tadi di usir aja,” timpal
Dita.
“Elo sih, Ra. Mau aja diajak gabung,” komentar
Seli.
98
“Lho, bukankah mereka yang udah gabung
duluan,” bela Dara.
“Udah-udah…! Jangan ribut! Terpaksa kita yang
harus bayar makanan mereka. Habis mau gimana
lagi,” ujar Wita bijak.
Sementara itu di dalam mobil Kijang, Jaka cs lagi
cekakan. Mereka benar-benar puas bisa ngerjain
cewek-cewek tadi.
“Cucian deh mereka,” komentar Jepri.
“Hahaha…! Emang enaaak?” timpal Jekky.
“Emang, sekali-sekali cewek-cewek genit and
mata duitan kayak mereka perlu juga dikerjain,” kata
Jaka seraya melihat keluar jendela. SUIT.. SUIIIT…!!!
Suit Jaka letika melihat cewek kece dengan body
seksi tengah berdiri di tepi jalan.
Saat itu, semua mata langsung tertuju ke arah
Jaka memandang, kecuali Randy yang lagi nyetir dia
cuma sekilas melihat. Kalau dia melihat terus, bisabisa
tu Kijang nyebur di kali yang ada di kiri jalan.
“Itu baru namanya, cewek… Eh, Ran! Putar lagi
yuk!” pinta Jaka.
99
“Enggak ah, entar juga ada lagi yang kayak
begitu,” tolak Randy.
“Huuuh! Payah loe,” kata Jaka menggerutu.
Kedua temannya yang lain cuma cengengesan,
mereka terus melaju dengan Kijang yang udah penyok
di sana-sini. Sementara itu di tempat lain, Dara cs
terlihat lagi asyik ngeceng di Mall! Mereka berempat
yang bak bidadari baru turun dari Khayangan tampak
berdiri sambil bersandar di langkan. Dengan gaya
yang genit mereka mengoda para cowok-cowok yang
terlihat culun. Mereka senang banget kalo cowokcowok
culun itu merasa GR.
“GR ni jrenk…” begitulah kata mereka begitu
melihat si cowok salah tingkah.
Kini mereka mulai melangkah dengan gaya yang
dibuat-buat, melenggak-lenggok memancing mata
para cowok yang emang lagi pada CMDM. Sesekali
mereka tampak tersenyum genit kepada para cowok
yang kebetulan lagi pada nongkrong itu.
SUIT… SUIIIT…!!! Para cowok merespon senyum
dan lenggokkan mereka.
100
Namun mereka terus melangkah tanpa
mempedulikan cowok-cowok itu. Pada saat yang
sama, di Mal terdengar lagu Tipe-X mengalun
mengiringi perjalanan mereka.
Lihat senyum manis di atas bibir bergincu
Kedip mata merayu jelas coba menggangu
Tawanya terpasang bukan tanpa tujuan
Satu korban terjerat itulah harapan…
Wangi farfum semerbak membius pusat saraf
Hadirkan bayangan tuk lepas keresahan
Bergejolak, semua coba berontak
Ketika tak kuasa ku langsung lari mengelak…
Sementara itu di tempat Billiard Jaka cs tampak
sedang bermain cekian. (Lho katanya tadi cuma mau
main biasa? – Tadinya sih emang main biasa, namun
karena Jaka merasa tertantang oleh ajakan Jekky,
akhirnya Jaka pun terpaksa meminjam duit pada Jepri
dan akhirnya, jadi deh mereka main cekian. Oke deh
dilanjut …)
101
Kini giliran Jaka membidik sebuah bola dengan
nomor 8, sesuai dengan kartu yang sedang
dipegangnya. STACK SERRR… Bola putih
menggelinding menuju ke bola 8 dengan kencang,
dan TRACKKKK… Bola putih menerjang bola 8
dengan keras, kini bola 8 mengarah ke lubang yang
ada di sudut. Dan… dan… TEK TEK… TEK TOK…
Ternyata pukulan tadi godek, bola 8 gagal memasuki
lubang.
“Sial… pake godek lagi,” umpat Jaka.
“Hehehe, minggir…!” kata Rino dengan wajah
senang.
Mereka terus bermain cekian sampai lupa waktu,
pokoknya kalo udah main cekian mereka lupa segalagalanya.
Termasuk lupa kalo udah menang. Yang kalo
di tanya. “Elo menang berapa?” Terus dijawab
“Enggak kok, gue kalah.” Nah kan lupa, padahal yang
ditanya udah menang banyak.
Kini Jaka tengah berusaha membidik bola yang
diincarnya. Dan setelah dipukul, lagi-lagi bola itu
godek dan enggak berhasil memasuki lubang. Jaka
102
pun tampak kesal dan duduk sejenak sambil
menyedot minumannya. Ketika baru menaruh
minuman itu kembali, tiba-tiba HP-nya berbunyi.
“Hallo…!” sapanya.
“Heh! Elo lagi ngapain?” tanya orang yang
menelepon.
“O… lagi main cekian,” jawab Jaka. “Eh, elo siapa
ya?”
“Ini gue, Dara. Huh dasar! Kalau main judi aja…
mau deh ngeluarin duit. Tapi, kalo buat makan…
cewek deh di suruh bayar. Dasar kampret loe.”
“Sorry, sorry… begitu aja kok ngambek, lain kali
kami deh yang bayar.”
“Eh, ngomong-ngomong… malam itu elo merhatiin
itu-gue ya?” tanya Dara malu-malu.
“Itu-loe’? Apaan sih…?” tanya Jaka bingung.
“Itu… Yang tadi elo bilang di warung.”
“O… itu, hehehe emang… sialan loe. Gue ketipu,
tau…” kata Jaka.
“Eh, Ka. Gimana kalo minggu depan kita ketemu
lagi?” ajak Dara.
103
“Mmm… gimana ya… nanti deh gue hubungi loe
lagi.”
“Ya udah, kalo gitu sampai nanti, bye…” pamit
Dara.
“Bye…” balas Jaka seraya mematikan HP-nya dan
memasukannya ke dalam saku.
“Siapa, Ka?” tanya Randy.
“Dara…” jawab Jaka
“Kenapa, Ka? Dia ngamuk-ngamuk ya?” tanya
Randy.
“Mulanya sih iya, tapi kemudian dia malah ngajak
kita untuk ketemu lagi.”
Usai main cekian, mereka pun segera membahas
masalah itu sambil menikmati minuman dingin.
Sementara itu di sebuah cafetaria, Dara cs lagi asyik
ngobrol bareng.
“Gimana, Ra. Apa mereka mau?” tanya Wita.
“Tenang… Mereka pasti mau. Soalnya nanti Jaka
mau menghubungi gue lagi,” jelas Dara
“Kalo mereka mau, kita bisa membalas perbuatan
mereka kepada kita,” kata Wita.
104
“Iya, Wit. Jika kita menjalankan rencana A, pasti
mereka tau rasa,” kata Seli.
Dita cuma terdiam mendengarkan pembicaraan
mereka sambil menyedot colanya. Sedangkan Dara,
Wita, Seli terus berbicara sambil sesekali menikmati
cola dan kentang gorengnya masing-masing.
105
Enam
eminggu kemudian, di sebuah fast food
restaurant. Dara cs tampak lagi ngobrol sambil
menikmati ayam goreng masing-masing. Sesekali
Dara tampak mengeluarkan kotak teka-teki dan
mencoba membukanya, namun lagi-lagi dia
mengalami kegagalan. Enggak lama kemudian, Jaka
cs muncul di tempat itu, rupanya mereka memenuhi
ajakan Dara waktu itu.
“Hallo semua! Sorry ya, kalo lama menunggu!”
sapa Jaka seraya duduk di situ.
“Wah, gue kira kalian enggak jadi datang,” kata
Dara seraya menyimpan kotak teka-tekinya.
Sedang asyik-asiknya ngobrol, tiba-tiba beberapa
orang datang ke tempat itu.
“Apa-apaan nih, Ra. Kenapa kalian mengundang
orang lain juga?” tanya Boy.
S
106
“Enggak kok, Boy. Kami enggak mengundang
mereka, mereka aja yang tau-tau udah duduk di sini
dan ngajakin kita-kita ngobrol. Padahal, sebelumnya
kita-kita udah bilang kalo lagi nungguin teman. Eh
mereka malah cuek aja, mereka bilang ‘Siapa peduli’”
“Eh, Ra! Ngomong apaan loe. Hmm… jadi, ini
jebakan,” kata Jaka sewot.
“Eh, kalian semua. Emangnya kalian belum kenal
sama kita-kita ya?” tanya Berry, orang yang paling
dijagokan di Boy cs karena dia juga seorang karateka.
“Sorry, Bang! Ini cuma salah paham.”
“Alaaah… diam loe! Jangan banyak bacot!!”
Tiba-tiba BAK-BUK-BAK-BUK seketika itu juga
terjadi perkelahian yang seru, mereka semua pada
adu jotos. Pada saat itu, Dara cs tampak asyik
memberi semangat kepada Boy cs. Namun, enggak
lama kemudian para security segera datang
mengamankan tempat itu. Pada saat yang sama,
Dara cs segera menghilang dengan menggunakan
asap ninja (Enggak denk, mereka cuma buru-buru
kabur, soalnya takut ditanyai sama para petugas).
107
Beberapa menit kemudian, Jaka cs dan Boy cs udah
berada di ruang security untuk di periksa. Mereka
benar-benar udah pada babak-belur.
“O… jadi begitu ceritanya, rupanya kalian baru
saja dikerjain sama cewek-cewek.”
“Benar, Pak. Mereka emang udah sangat
keterlaluan.”
Tak lama kemudian, Jaka cs dan Boy cs saling
berjabatan tangan, mereka berdamai dan saling
kenalan.
Kini Boy cs sudah pergi dari tempat itu, sedangkan
Jaka cs langsung berangkat menuju ke sebuah taman
untuk membicarakan soal Dara cs.
“Enaknya diapain ya mereka?” tanya Jaka.
“Kita perkosa aja rame-rame!” usul Jepri.
“Gila loe, bisa-bisa kita masuk penjara,” tolak
Randy.
“Eng… gimana kalo kita culik, terus kita tinggalin di
tengah hutan!” usul Jekky.
“Itu sama juga, Jek. Kita bakalan masuk penjara,”
tolak Randy lagi.
108
“Hmm… gimana kalo kita pacarin aja,” celetuk
Jaka.
“Ngaco loe, Ka. Masa pacaran sama cewek yang
udah bikin kita jadi babak belur begini,” komentar
Jekky.
“Maksud gue, kita pacarin. Terus kalo udah puas,
kita putusin,” jelas Jaka.
“Wah, boleh juga tu, Ka.” Jepri setuju.
“Tapi, apa mereka mau pacaran sama kita?” tanya
Jekky.
“Kita kan cowok, Jek. Kita punya 1001 cara buat
naklukin mereka,” jelas Jaka.
“Gimana kalo nantinya malah kita yang cinta berat,
terus kita yang diputusin?” tanya Jekky.
“Itu enggak mungkin, Jek. Masa kita bisa jatuh
cinta sama cewek-cewek begitu,” jelas Jaka.
“Udahlah, gimana kalo kita lupain aja! Lagi pula,
semua itu kan emang karena perbuatan kita juga,”
usul Randy.
Mereka terus ngobrol soal Dara cs. Sementara itu
di sebuah cafetaria, Dara cs lagi asyik merayakan
109
kesuksesan besar karena telah berhasil membalas
perbuatan Jaka cs. Mereka ketawa haha-hihi sambil
makan kentang goreng, dan tiba-tiba UHUK-UHUK
EHEK-EHEK. Dara keselek kentang goreng, habis dia
makan sambil ketawa sih.
“Nah, sekarang gimana?” tanya Wita yang baru
saja menepuk-nepuk punggung Dara.
“Ah, lega sekarang. Sialan banget, baru aja
senang sedikit, udah sial.” Dara menggerutu.
“Kualat lue, Ra,” komentar Seli.
“Iya, kasihan juga kan tu cowok-cowok. Biarpun
mereka udah bikin kita kesal, tapi enggak seharusnya
kan kita berbuat begitu,” timpal Dita.
“Alaaah… cowok kayak mereka enggak perlu
dikasianin. Biar aja, itu menjadi pelajaran buat mereka
agar jangan semena-mena sama cewek. Kalo enggak
digituin, mereka pasti akan mengulangi lagi sama
cewek-cewek lain. Emangnya, mereka pikir kaum
cewek itu lemah apa?” jelas Dara.
Akhirnya, ketiga teman Dara bisa mengerti kenapa
mereka harus berbuat begitu, hingga akhirnya mereka
110
malah bangga karena telah berhasil melakukan
perlawanan kepada cowok-cowok yang udah
menganggap mereka lemah.
Malam harinya, dengan wajah yang masih babak
belur Jaka cs tampak memasuki sebuah diskotik.
Mereka sengaja pergi ke tempat itu untuk menghibur
diri lantaran sakit hati plus sakit karena udah dibuat
babak-belur. Agar enggak terlalu sakit, mereka pun
mabuk-mabukan sehingga lupa diri. Hanya Randy
saja yang enggak ikutan mabuk, dia tampak duduk
termenung sambil mengusap-usap wajahnya yang
dirasakan sakit. Begitulah Randy, pemuda baik yang
salah memilih teman. Akibatnya, dia pun harus ikut
menderita karena ulah teman-temannya. Benar apa
kata Ustad Sanusi, kalo dekat tukang minyak wangi
maka kita akan ikut wangi namun bila dekat pandai
besi maka kita akan terkena percikan api.
111
Ketika waktu udah menunjukkan sekitar pukul
01.30 WIB pagi. Jaka cs bukannya langsung pulang
tapi malah memasuki jalan Melawai untuk mencari
Burespang (bubaran restoran jepang) istilah mereka
untuk para cewek yang baru pulang kerja dari restoran
jepang. Kini Kijang biru yang mereka tumpangi
tampak berputar-putar—mencari sasaran, sialnya
enggak seorang Burespang pun terlihat. Tiba-tiba
Jaka melihat dua orang cewek yang cukup manis, tapi
sayang mereka bukan Burespang. Mereka abal-abal
yang lagi menunggu untuk diangkut.
“Manis…” godanya.
Kedua cewek itu cuek aja, mereka terus
melangkah menuju ke sebuah mobil sedan yang
cukup mewah. Kijang biru terus melaju, dan tiba-tiba
Randy menghentikan mobilnya di dekat cewek-cewek
yang lagi pada nongkrong di depan Restoran.
“Tu Burespang, Ka,” unjuk Randy.
“Ah, itu sih bukan,” jelas Jaka.
Jaka orangnya emang sok tahu, dan temantemannya
pun percaya saja. Soalnya mana ada
112
Burespang pada jam segini, begitulah pikir temantemannya.
Mereka emang agak terlambat, dan para
Burespang udah pada pergi semua.
“Udah, Ka. Mendingan kita cari Boy aja, bukankah
kita udah janji mau ketemu dia malam ini,” usul Jepri.
“Betul, Ka. Kayaknya burespang emang udah
pada pulang semua. Liat aja di mana-mana udah
sepi,” timpal Jekky.
“Oke deh, kalo gitu. Yuk, Ran! Kita cabut,” pinta
Jaka dengan wajah kecewa.
Kini Kijang biru kembali melaju dan akhirnya
keluar jalan Melawai untuk menuju ke jalan Mahakam.
Sambil tengok kiri-kanan, mereka terus mencari-cari
cewek yang barangkali saja ada yang bisa diangkut.
Tiba-tiba Jekky melihat sebuah Kijang merah milik
Boy tampak diparkir di pinggir jalan.
“Ran! Stop, Ran!” teriak Jekky, “Liat tu! Mobil si
Boy. Ayo kita gabung!”
Lalu tanpa buang waktu, mereka pun segera
memarkir mobilnya agak jauh dari mobil Boy cs.
113
Kebetulan saat itu si Boy melihat mereka dan segera
menghampiri.
“Kok baru datang?” tanya Boy.
“Iya, soalnya tadi kami ke diskotik dulu,” jelas
Jaka, “O ya, Di mobil loe ada siapa aja?” tanyanya
kemudian.
“Ada Siska, Lita, Lara, dan Lola.”
“Siapa mereka?” tanya Jaka.
“Anak-anak Burespang. Yuk, gue kenalin!” tawar
Boy.
“Nanti aja deh, Boy. O ya, setelah ini elo mau ke
mana?” tanya Jaka.
“Biasa… ke Maduma,” jelas Boy.
“Ya udah, kalo gitu kita ketemu di sana,” jelas
Jaka.
“Enggak kenalan sama mereka dulu?” tanya Boy.
“Di sana aja deh,” jelas Jaka lagi. “Yuk, Boy!
Sampai nanti”
“Oke deh,” kata Boy seraya melambaikan tangan.
Jaka cs langsung meluncur ke Maduma.
Beberapa menit kemudian, Jaka cs tampak mulai
114
memasuki gerbang Parkir Timur Senayan. Kini
mereka tengah melaju menyusuri jalan yang lurus. Di
kiri-kanan jalan terlihat mobil-mobil yang di parkir
berjajar. Suara musik terdengar keras dan
menghentak-hentak. Para muda-mudi terlihat
bergerombol di dekat mobilnya masing-masing,
mereka semua lagi pada senang-senang—ada yang
lagi pelukan, ciuman, maupun cuma ngobrol-ngobrol
sambil makan-minum dan haha-hihi. Para pedagang
dadakan tampak mengais rezeki di tempat itu, juga
para pengamen jalanan yang enggak mau
ketinggalan—mereka menawarkan tembang pelipur
lara. Pokoknya suasana benar-benar ramai.
‘MADUMA’ (Masuk Duduk dan Mabuk) itulah plesetan
dari tempat nongkrong yang pernah ada di situ, tapi
ada juga yang bilang, (Makan duduk dan Main). Mainnya
bebas, boleh main klakson, main gas, dll. Tapi
kata seorang cowok, yang enak itu mainin cewek,
walah… walah…. Seorang bences bilang, kalo
MADUMA itu (Mabuk Duduk dan Mati). Bagaimana
enggak mati, kalo mabuknya sampai over dosis.
115
Kini Jaka cs udah memarkir mobilnya dan
langsung berlari ke tempat gelap untuk pipis. Enggak
lama kemudian, dia udah kembali dan segera
nongkrong bersama teman-temannya sambil makan
dan minum untuk menikmati suasana malam yang
ramai. Mereka terus ngobrol sambil terus menunggu
Boy cs.
Saat lagi bete menunggu, tiba-tiba seorang cewek
dengan body yang aduhai tampak memperhatikan
Randy. Jaka yang mengetahui hal itu langsung
berbisik. “Ran, ada cewek yang minat ama elo tuh,”
katanya memberitahu.
“Ah, males, Ka. Tu cewek pasti lagi mabuk
Pletokan. Sama, kayak loe juga, bau naga.”
“Payah loe, Ran. Ada cewek yang mau, malah
dicuekin. Eh, Jek, Jep! Kalian mau cewek enggak?
Tuh, di sana ada yang ngasih kode.”
Jekky dan Jepri segera melihat ke arah yang
dimaksud. Dan enggak lama kemudian, keduanya
udah menghampiri cewek itu.
“Hi, boleh kenalan enggak?” tanya Jekky.
116
“Boleh aja,” katanya sambil tersenyum genit.
“Gue Jekky, dan yang ini Jepri.”
“Gue Rini.”
“Rin, kita makan dulu yuk. Soalnya gue lapar
banget nih!” ajak Jekky.
Lantas tanpa ragu, cewek itu pun mengikuti
mereka berdua menuju penjual hamburger.
Sementara itu, Jaka dan Randy tampak santai
menikmati suasana malam yang asyik. Saat itu, tibatiba
Randy melihat seorang cewek yang lagi mabuk,
kayaknya dia lagi marah-marah dengan seorang anak
kecil berusia 12 tahun. Dengan bahasa Inggris si
cewek berkata-kata, dan anak kecil yang ternyata
seorang anak jalanan cuma terdiam—dia sama sekali
enggak ngerti dengan ucapan si cewek. Kemudian si
cewek mencium anak itu, dan anak kecil itupun
kayaknya menikmati. Sampai beberapa kali mereka
berciuman, hingga akhirnya anak kecil itu pergi
dengan ber-highfive kepada si cewek. Kayaknya anak
itu emang udah biasa nongkrong di tempat itu, dan dia
bertingkah enggak seperti anak seusianya.
117
“Ran, itu si Boy!” ujar Jaka tiba-tiba.
Mereka terus memperhatikan Kijang merah yang
melaju dan akhirnya parkir agak jauh dari situ.
Bersamaan dengan itu, Jekky dan Rino baru saja
kembali, sedangkan cewek yang bersama mereka
tadi, kini sedang menaiki sebuah mobil sedan yang
akan meninggalkan tempat itu.
“Dag Jekkyyy, Jepriii, Emmmuuuah!” teriak si
cewek dengan sun jauhnya.
“Jek, Jep, Ran, yuk kita temui Boy cs!” ajak Jaka.
Setelah berkata begitu, Jaka cs segera
melangkah untuk menemui Boy cs, mereka berjalan
sambil lihat kiri-kanan. Selintas Jaka melihat seorang
cewek yang lagi berdiri bersandar pada seorang
cowok, mereka berdiri saling berhadapan.
“Enak kaliiiii,” bisik Jaka berkomentar.
Randy tampak menelan air liur, kayaknya dia juga
mau disenderin sama cewek kayak begitu.
Maklumlah, dia itu kan seorang cowok normal yang
kalo ngeliat hal seperti itu tentu membuatnya kepingin.
118
Enggak lama kemudian, mereka tiba di tempat Boy cs
lagi pada nongkrong.
“Eh, kenalin nih teman-teman gue,” kata Boy
mengenalkan Jaka cs kepada anak-anak Burespang.
Kemudian Jaka cs tampak menyalami cewek-cewek
itu dan memperkenalkan diri.
“Gue heran, elo semua kok pada babak-belur,
emangnya kalian habis tauran di mana?” tanya salah
satu Dari mereka yang bernama Lola.
“Sebenarnya kita tauran enggak sengaja, lantaran
cuma sial aja. Dan karena tauran itulah kita-kita malah
jadi kenal sama kalian,” jawab Jaka.
“Kok bisa begitu?” tanya cewek Burespang yang
lain.
Jaka pun segera menceritakan pertemuannya
dengan Boy cs, namun dia enggak menceritakan
bagian dimana dia mengerjai Dara cs. Hingga
akhirnya Boy, Berry, Gero, Cepi, Jaka, Randy, Jekky,
Jepri, Siska, Lita, Lara, dan Lola pada ngedepor di
jalanan, mereka ngobrol and becanda-becindi—saling
cela and pada haha-hihi.
119
Hari makin pagi dan Maduma pun tampak mulai
sepi, namun begitu Jaka cs masih tetap bertahan.
Sekitar pukul 4.00 WIB, mereka baru bergegas untuk
mengantarkan cewek-cewek burespang ke rumahnya
masing-masing. Dua cewek di angkut boy cs, dan
yang dua lagi diangkut Jaka cs.
Esok harinya, sekitar pukul 12 malam. Kijang biru
lagi-lagi terlihat memasuki jalan Melawai. Kali ini, Jaka
cs mau mencari sasaran baru. Maklumlah, mereka
emang udah niat banget mau cari burespang, dan
karenanyalah mereka sengaja datang lebih awal.
Sambil menunggu bubaran, Jaka terlihat membuka
halaman tabloid dewasa. Bukannya membaca ceritacerita
yang hot, tapi dia malah melihat angka-angka
undian gelap. Dengan sebuah ball-point dan buku
kecil, Jaka mulai memainkan angka-angka itu. Dia
ngecak dengan antusias banget, soalnya nomor
besok harus tembus. Kalau enggak, bisa-bisa
120
dompetnya kosong. Sekarang Jaka emang lagi
miskin, soalnya dana dari orang tua belum juga turun.
Untuk mengisi bensin kijangnya kemarin saja, dia
mesti minta sama Burespang.
Sedang serius-seriusnya ngecak, tiba-tiba lampu
yang ada di depan restoran padam. Jaka pun
menghentikan kegiatannya, soalnya saat itu restoran
emang udah mau tutup—dan sebagian burespang
tampak udah pada keluar. Jaka melihat body-body
seksi keluar satu per satu. Dia tampak
memperhatikan setiap wajah mereka dengan
seksama.
“Wah… Enggak ada yang bening, Ran.” Jaka
berkomentar.
“Kita pindah ke restoran di yang itu yuk!” ajak
Jaka.
Kini mereka melangkah menuju restoran yang ada
di seberang jalan, sedang mata mereka tampak terus
mengamati cewek-cewek burespang yang berlalu
lalang.
“Nah! Ini baru bening-bening,” komentar Jaka lagi.
121
“Hallo manis,” sapa Jaka kepada cewek yang
benar-benar oke.
Si cewek tampak cuek saja, terus ngeluyur tanpa
menengok sedikitpun.
“Hallo!” kata Jaka lagi kepada cewek yang lain.
Lagi-lagi si cewek cuek saja. Setelah sekian lama
menyapa dan enggak ada yang nyangkut, akhirnya
Jaka mulai putus asa. “Gila banget, Ran. Masa sih
enggak ada yang bisa diajak kenalan.”
“Mungkin mereka burespang baik-baik, Ka.”
“Mungkin juga, Ran.”
“Wah, Ka. Kayaknya mereka high class, lihat aja
tu yang pada menjemput. Mobilnya cing… enggak
kuaaat,” jelas Jepri.
“Pantesss,” komentar Jaka.
“Eh! Itu kan Lola, Ka,” komentar Jepri ketika
melihat salah satu burespang yang ada di depan
restoran sebelah, “Panggil gih, Ka”
“Enggak ah, Jep. Itu namanya menyalahi kode etik
pergaulan.”
“Lho, emangnya kenapa?” tanya Jepri heran.
122
“Soalnya, kita kan lagi nyari cewek yang baru.
Entar kalo mereka tau, mereka enggak mau lagi sama
kita.”
“Cuek aja, Ka. Bilang aja kita lagi nungguin Boy,”
celetuk Jekky.
“Oke deh,” kata Jaka seraya teriak emanggil Lola
dengan suara keras dan segera menyembunyikan
wajahnya dengan tabloid yang sedang dipegangnya.
Di kejauhan Lola terlihat celingukan, “Siapa sih
yang manggil-manggil,” katanya sedikit kesal.
“Sudah sana, Ka! Buruan samperin!” pinta Randy.
“Enggak ah,” tolak Jaka.
“Emangnya kenapa?” tanya Randy.
“Enggak lihat apa, tu? Di sana ada mobil Boy.
Entar kita disangka ngerebut jalur, lagi.”
Akhirnya Jaka cs, pergi diam-diam dan langsung
menuju ke MADUMA. Mereka berniat menemui Boy
cs di tempat itu.
123
Sudah seminggu lamanya Jaka cs dan Boy cs
nongkrong bareng. Hingga akhirnya Jaka cs ngerasa
bosen juga. Bukan bosen sama cewek-cewek itu, tapi
bosen lantaran Boy cs yang keseringan sama cewekcewek
itu. Kini mereka berniat banting setir untuk
mengajak cewek-cewek itu tanpa sepengetahuan Boy
cs. Namun Jaka cs enggak akan melakukan aksi itu
sekarang, soalnya malam ini mereka mau melakukan
sebuah aksi yang berbau supra natural (Sebuah aksi
yang berhubungan dengan dunia lain alias
berhubungan dengan dunia gaib). Namun sebelum
melakukan aksinya itu, Jaka cs mampir dulu di
sebuah Restoran cepat saji yang ada di Menteng.
Betapa terkejutnya Jaka cs ketika mengetahui
Dara cs juga berada di tempat itu. Pucuk di cinta ulam
pun tiba. Begitulah kata mereka yang kini teringat
kembali akan kejadian tempo hari, dimana saat itu
wajah mereka udah dibuat babak-belur. Akhirnya Jaka
cs enggak jadi mampir, mereka malah bersembunyi di
dalam mobil sambil menunggu Dara cs pergi dari
tempat itu.
124
Setelah menunggu agak lama, akhirnya Dara cs
keluar restoran. Dan begitu mereka melaju dengan
mobilnya, Jaka cs pun segera mengikuti. Hingga
akhirnya, di sebuah jalan yang agak sepi, Jaka cs
tampak menyalip dan menghadang mobil Dara cs.
“Wah… Gawat, Ra. Sepertinya itu mereka,” ucap
Wita panik.
“Gimana dong, Ra? Sepertinya mereka mau
berbuat jahat,” kata Dita ketakutan.
“Aduh, Ra. Jangan-jangan, mereka mau…” timpal
Seli khawatir.
“Mau apa, Sel?” tanya Dita makin ketakutan.
“Tenang…. kalo mereka macam-macam, kita
tabrak aja. Mobil Wita kan gede,” jawab Dara santai
seraya menyimpan kotak teka-tekinya yang masih
belum juga bisa dibuka.
“Enak aja loe. Elo senang ya, kalo gue kena
damprat ortu,” tolak Wita.
“Oke deh, kalo begitu lebih baik kita kabur aja,”
usul Dara.
“Kabur? Kabur ke mana, Ra?” tanya Seli.
125
“Ke mana kek, pokoknya kabur. Oke, Wit! Siapsiap
mundur!”
“Hallo Semua. Apa kabar?” sapa Jaka seraya
memperhatikan mereka sambil tersenyum ramah.
Mereka yang di dalam mobil pada bingung dan
saling berpandangan, dalam hati keempat cewek itu
tampak bertanya-tanya.
“Eng… eh… hehehe…! Baik,” jawab Dara sambil
cengengesan.
“Kita ke cafe yuk!” ajak Jaka.
“Kalian mau balas dendam ya?” tanya Dara
curiga.
“Enggak kok, kita-kita kan udah ngelupain
kejadian kemarin,” jawab Jaka meyakinkan.
“Beneran nich…?” tanya Dara ragu.
“Iya, Ra. Masa gue bohong sih,” jawab Jaka lagi.
“Kok kalian enggak marah sih?” tanya Dara heran.
“Mulanya sih kami marah, tapi setelah kami pikirpikir
kami juga sih yang salah,” jelas Jaka.
“Makanya jangan suka ngerjain orang. Kalau
begitu maafin perbuatan kami ya!” ucap Dara.
126
“Udah kami maafin kok. O ya, gimana? Mau ikut
ke cafe enggak?” tanya Jaka lagi.
“Oke deh, kalo begitu kita mau,” jawab Dara.
Jaka cs segera masuk ke mobil dan meminta
Dara cs jalan lebih dulu. Setelah mobil Dara cs
melaju, Jaka cs pun segera mengikuti. Hingga
akhirnya mereka sampai di sebuah cafe. Sambil
mendengarkan life musik mereka ngobrol ngalorngidul
soal kegiatan masing-masing.
Sepulang Dari cafe, Jaka cs enggak langsung
pulang. Tapi, mereka mau melaksanakan sebuah aksi
yang sebelumnya udah mereka rencanakan. Saat ini
mereka tengah melangkah memasuki sebuah rumah
tua yang udah lama enggak ditempati pemiliknya.
Rupanya mereka mau main dadu jailangkung untuk
mencari kode undian gelap. Semua itu ide Jaka yang
udah mulai putus asa karena setiap kali ngecak
sendiri, nomor yang dipasangnya enggak pernah
tembus. Padahal, udah beberapa kali Randy mencoba
menasihati, tapi Jaka tetap saja ngotot. Katanya sekali
ini saja, kalo tembus dia enggak akan masang undian
127
gelap lagi. Karena Jaka udah berjanji, akhirnya Randy
pun enggak keberatan.
Kini cowok-cowok itu udah duduk melingkar di
hadapan batok kelapa yang menutupi dua buah biji
dadu, kecuali Randy yang tidak mau ikut terlibat—dia
cuma memperhatikan ketiga temannya dari tempat
yang agak jauh. Berbagai persyaratan yang sengaja
dibeli Jaka siang harinya udah dipenuhi dengan baik.
Seperti minyak apel jin, kembang tujuh rupa, jajanan
pasar plus kopi pahit kopi manis, cerutu, dan
kemenyan. Sekarang mereka mulai emanggil
jailangkung untuk memasuki batok kelapa itu dan
menggerakkan kedua dadu yang berada di dalamnya.
Pada saat itu Randi cuma mengawasi, dia enggak
mau terlibat untuk memanggil jin fasik yang akan
memainkan kedua dadu itu.
Kini ketiga cowok yang akan melakukan
permainan itu masih duduk mengelilingi dadu
jailangkung. Saat itu suasana benar-benar tampak
mencekam, bau kemenyan dan aura negatif yang
menyelimuti tempat itu sempat membuat bulu kuduk
128
cowok-cowok itu merinding seketika. Apa lagi
ditambah dengan udara dingin serta lolongan anjing
yang terdengar di kejauhan. Namun begitu, ketika
cowok yang kini udah menjadi teman setan itu terus
melanjutkan aksinya. Saat itu Randy sungguh sangat
menyesalkan tindakan teman-temannya. Padahal, dia
sudah memberi tahu kalo perbuatan itu sudah
menduakan Tuhan, dan dosa karena perbuatan itu
enggak akan diampuni.
“Jailangkung… jailangkung… datang ngocok dadu,
datang ngocok dadu!” ucap Jaka, Jepri, dan Jekky
bersamaan.
Dan enggak lama kemudian, terdengarlah suara
kedua dadu yang bergerak di dalam batok kelapa
yang menutupnya. Setelah enggak terdengar suara,
Jaka segera membukanya.
“Empat”
“Jailangkung… jailangkung… datang ngocok
dadu, datang ngocok dadu!”
Enggak lama kemudian, kejadian serupa terjadi
lagi.
129
“Tujuh”
Begitulah mereka mengulanginya sampai empat
kali.
Sehingga mendapat empat digit angka yang
diyakini akan tembus
“Semuanya 4732”
“Hore!!! Kita berhasil. Lihat nih, kita dapat empat
angka,” kata Jaka gembira.
“Besok kita akan tajir man,” timpal Jepri senang.
“Yup, besok kita bakal pesta besar-besaran cing,”
sambut Jekky.
Saat itu Randy cuma bisa geleng-geleng kepala
sambil mendoakan teman-temannya yang sudah
menduakan Tuhan itu mau bertobat dan enggak akan
mengulanginya lagi. Randy menduga apa yang
dilakukan oleh teman-temannya itu disebabkan oleh
kebodohan mereka, bukan lantaran mereka emang
sudah paham betul namun masih nekad juga mau
melakukannya.
Setelah mendapat apa yang Jaka inginkan,
akhirnya mereka segera pergi meninggalkan tempat
130
itu. Namun mereka bukannya langsung pulang, tapi
malah mampir dulu ke sebuah gardu hansip yang
biasa dipakai nongkrong oleh teman-teman
sekampung Jaka. Di tempat itulah, Jaka tampak asyik
main judi bersama keenam temannya, sementara itu
Randy dan beberapa orang teman Jaka yang bokek
tampak cuma menonton saja.
“Mati… ” kata Jaka seraya meletakkan kartunya.
“Ah, payah loe. Dari tadi mati terus,” komentar
salah satu temannya yang menonton.
“Habis mau gimana lagi, kartu gue jelek terus sih,”
jelas Jaka seraya memperhatikan keenam temannya
yang masih main.
“Gimana?” tanya Jepri.
“Gue mati,” kata salah seorang dari mereka.
“Lanjut, Jek!”
“Lima ribu,” gertak Jekky.
“Ikut, siapa takuut,” kata Jepri.
“Gue mati,” kata salah seorang yang melihat
kartunya enggak ada harapan.
“Gue ikut deh,” kata Codek agak ragu.
131
“Gue ikut,” kata Parman yakin.
“Buka deh!”
“Murni gede,” ucap Jepri
Mendengar kata itu yang lain langsung terlihat
lemas.
“Hahaha narik lagiiii,” ucap Jepri senang, karena
dia udah tiga kali menang berturut-turut.
Para cowok-cowok itu terus bermain judi hingga
pagi hari, Randy yang emang udah mengantuk berat
tampak tertidur di pojok gardu. Untunglah hari itu
enggak ada penggerebekan polisi. Coba kalo ada,
Randy yang enggak ikutan main pasti juga akan ikut
diciduk lantaran berada di tempat yang salah.
Esok malamnya, sekitar pukul tujuh malam. Jaka
cs terlihat tengah nongkrong di sebuah warung yang
biasa dijadikan tempat mangkal penjual undian gelap.
Hari ini, Jaka, Jekky, dan Jepri mau memasang
nomor yang didapatnya kemarin. Di tempat itu,
132
beberapa orang terlihat sedang asyik memasang
undian gelap. Mereka terlihat antusias banget.
“45, nomor itu kayaknya bakal keluar, Har,”
komentar salah seorang dari mereka.
“Enggak ah, gue mau pasang nomor 65.
Sepertinya itu nomor jitu,” tolak pemuda yang
dipanggil ‘Har’ itu.
Sementara itu, beberapa orang yang juga mau
memasang tampak asyik mengutak-atik angka—
’ngecak’ istilah mereka. Orang-orang itu tampak
serius memainkan angka dengan mistik lama maupun
mistik baru. (Mistik adalah istilah mengganti angka
tertentu dengan angka yang menjadi pasangan pada
nilai mistiknya. Kalau masih bingung, jangan dipikirin!
Enggak ada gunanya. Lebih baik dilanjut aja…) Ketika
sedang serius-seriusnya ngecak, tiba-tiba sebuah
sepeda motor melintas dengan suara yang keras
banget, WOEEET… WOEEEEEET. Kontan saja
mereka terkejut seketika itu juga.
“Sialan! Gue sumpahin tabrakan loe!” umpat salah
seseorang yang dibikin kaget.
133
“Iya… mampus juga tu orang,” timpal temannya
yang juga terkejut.
Enggak jauh dari warung itu, terlihat beberapa
orang yang sedang mencari-mencari ‘kode alam’—
istilah mereka ketika melihat hal-hal yang sekiranya
jarang ada.
“Nah tu, ada kode alam. Orang gila minta rokok.
Lekas elo tanya nomor yang bakal keluar!” suruh
salah seorang pada temannya.
Kemudian orang yang disuruh itu segera
mendekati orang gila yang baru saja minta rokok.
Emang jaman ini udah edan, orang waras minta
nomor sama orang gila. Sebenarnya yang waras itu
siapa? Dan yang gila itu siapa? Entah kenapa di
masyarakat masih ada saja yang namanya undian
gelap. Biarpun sudah sering di gerebek polisi, undian
gelap itu tetap saja masih ada—walaupun tidak
seramai dulu. Dan itu karena usaha polisi yang tak
kenal lelah untuk memberantasnya, namun entah
sampai kapan pihak aparat itu mau terus konsisten
sehingga membuat undian gelap itu hanya tinggal
134
kenangan. Di saat undian gelap mau tinggal nama,
kini muncul undian terselubung yang berupa kuis
interaktif di televisi. Sekilas emang seperti kuis,
namun jika dicermati dengan baik hal itu adalah judi.
Coba bayangkan, untuk mendapatkan hadiah
pemirsanya diharuskan menjawab pertanyaan yang
mudah sekali, yaitu melalui SMS yang harganya Rp.
2000/SMS. Kuis itu terus berkesinambungan dan
dengan hadiah yang terus meningkat. Keinginan
mendapat hadiah dengan cara mudah dan dengan
mengeluarkan modal yang relatif murah dan terus
berkesinambungan adalah judi. Ya judi… apapun
bentuknya selama masih ada bandar dan ada
pemainnya yang sama-sama mau untung cepat
adalah judi. Semua itu emang udah menjadi dilema di
tengah-tengah masyarakat. Maklumlah, masalah ini
kan emang udah ada sejak jaman kuda gigit besi. Dan
hal itu emang enggak gampang buat diatasi. Dan cara
mengatasinya emang enggak mungkin dengan cara
yang batil, mengadakan undian resmi atau membuat
lokalisasi misalnya. Mungkin yang terbaik itu cuma
135
dengan jalan membuat para pelakunya sadar kalo
perbuatan itu emang enggak baik buat dilakukan,
yaitu dengan menciptakan kondisi lingkungan yang
sehat (Islami). Semoga dengan demikian, pikiran yang
semula sakit bisa menjadi sehat dan akhirnya bisa
membuang kebiasaan buruk itu. (Ups…!!! Sorry…
Kenapa penulis malah jadi ngebahas masalah yang
pelik itu. OK, sebaiknya sekarang kita pindah bab
aja…)
136
Tujuh
nam bulan kemudian. Sepulang dari latihan
band di sebuah studio di Jakarta, Jaka cs
mampir di sebuah warung pinggir jalan. Seusai makan
mereka tampak berbincang-bincang dengan
akrabnya.
“Elo sih, Ka. Kalo suka sama cewek enggak
ngaca dulu, hehehe…” kata Jekky seraya ketawa
mengejek.
“Dara itu kan cewek matre. Mana mau dia sama
loe yang dekil. Biarpun elo orang kaya, tetap aja dia
enggak bakalan percaya,” timpal Jepri.
“Habis gimana dong, gue kan udah terlanjur
sayang,” kata Jaka sambil menggaruk-garuk kepala
yang emang banyak kutunya.
“Terlanjur sayang? Hahaha… basiiii…” Jepri
ketawa.
E
137
“Ka, dengar nih! Jatuh… banguuun aaaku
mengejaaar muuu…” sindir Jekky dengan
mengalunkan sepenggal lagu dangdut.
“Ka, kacian deh loe,” timpal Jepri.
“Huh, kalian ini bukannya ngebantu teman. Tapi,
malah mengolok-olok terus,” ucap Jaka sedikit kesal.
“Tenang, Ka…! Kita-kita akan bantuin elo kok,”
kata Randy memberi harapan. “Tapi… ada syaratnya.
Elo harus mau ngejalanin strategi yang akan gue
terapin,” sambungnya kemudian.
“Benar, Ka. Randy tu kalo soal strategi mengambil
hati cewek emang jagonya,” timpal Jekky.
“Tapi, kalo soal praktek, enggak jamin deh… Elo
tahu sendiri, siapa si Randy,” sindir Jepri.
Saat itu juga Randy langsung melirik Jepri, “Eh,
Jek. Selama ini gue tu bukannya enggak bisa dapatin
cewek, tapi gue emang belum ketemu aja sama
cewek yang pas,” belanya kemudian.
“Iya, iya… gue percaya,” kata Jepri.
“Eh, Ka. Elo tu sebenarnya keren. Tapi sayang,
elo kurang bisa ngurus diri. Gue janji akan ngebantu
138
loe buat ngerubah penampilan loe itu,” sambung
Randy berjanji.
“Janji ya…! Kalian akan ngebantu gue,” kata Jaka
dengan wajah berseri-seri.
“Beresss…!” jawab ketiga temannya serempak.
Jaka emang udah menelan ludahnya sendiri.
Waktu itu dia bilang enggak mungkin jatuh cinta, eh
sekarang malah dia yang tergila-gila. Sementara itu di
tempat lain, di sebuah kamar yang cukup besar. Dara
cs sedang memperbincangkan Jaka cs.
“Elo yakin, Ta?” tanya Dara.
“Iya, Ra. Kayaknya gue emang jatuh cinta sama
Jaka,” jawab Dita terus terang.
“Udah deh. Lupaian aja. Cowok dekil gitu aja pake
didemenin. Mending elo deketin si Jekky, kalo enggak
si Jepri,” usul Dara.
“Huss… si Jekky itu inceran gue. Mendingan
Randy, kalo enggak si Jepri aja,” saran Wita.
“Enak aja. Jangan si Randy! Jepri aja?” jelas
Dara.
139
“O, jadi selama ini elo naksir Randy, Ra?” tanya
Wita.
“Eng… gimana ya?”
“Udah deh, terus terang aja!”
“Iya, gue emang suka sama Randy.”
“Ra, Wit. Gu-gue mau bilang, ka-kalo gue suka
sama Jepri.”
“Wah, kalo begitu. Mau enggak mau, Dita emang
harus sama Jaka dong,” kata Dara pasrah.
“Betul, Ra. Biarpun Jaka itu dekil. Tapi, kalo Ditanya
sendiri suka, kenapa enggak?”
“Sebenarnya bukan soal itu, Wit. Tapi… aduh,
gimana ya… gue sendiri juga bingung.”
Saat itu Dara benar-benar bingung. Soalnya, dia
tahu benar kalo Jaka enggak mencintai Dita. Waktu
itu kan Jaka pernah mengutarakan isi hatinya kepada
Dara. “Udah ah, mendingan kita main tissue ramalan
aja yuk!” ajak Dara kemudian.
Lantas Dara segera mengambil tissue dan mulai
meramal teman-temannya, dia ingin tahu apakah
cowok yang mereka pilih itu cocok dengan
140
kepribadian masing-masing. Wita yang sangat
percaya dengan ramalan langsung minta diramal lebih
dulu. Dengan bersemangat cewek itu menulis
beberapa nama cowok yang sedang diincernya pada
potongan kertas kecil, kemudian potongan kertas itu
digulung hingga enggak seorang pun bisa melihatnya.
Selanjutnya setiap gulungan kertas yang berisi nama
itu diletakkan di dalam setiap lipatan tissue yang juga
digulung sehingga enggak mungkin bisa keluar dari
lipatan. Hingga akhirnya Wita menyerahkan lima
gulung tissue yang berisi nama-nama itu kepada
Dara, dan Dara pun segera menyambutnya seraya
berkonsentrasi.
“Ya Allah atas kuasa-Mu tunjukanlah kepada kami
siapa di antara nama-nama di dalam gulungan tissue
ini yang pantas berdampingan dengan Wita,” ucap
Dara dalam hati penuh keyakinan.
Ajaib… setelah tissue-tissue itu di buka satupersatu
ternyata nama yang keluar dari lipatan tissue
itu adalah Jekky.
141
Betapa senangnya Wita saat itu, ternyata dia
emang enggak salah memilih. Seli yang udah sejak
tadi kepingin diramal akhirnya meminta kepada Dara
untuk segera diramal juga. Dara yang enggak mau
mengecewakan temannya itu lantas segera
meramalkannya. Hingga akhirnya nama yang keluar
dari lipatan tissue itu ternyata si Jepri. Mengetahui
kedua temannya udah diramal, Dita pun enggak mau
ketinggalan. Dia kepingin juga diramal apakah dia
akan bernasib sama seperti kedua temannya, yaitu
sesuai dengan pilihan mereka. Lagi-lagi Dara
melakukan ramalan, dan hasilnya kali ini cukup
mengejutkan Dara. Dia benar-benar enggak
menduga, kalo Dita ternyata cocok dengan Jaka.
“Tuh, benerkan. Jaka cocok sama gue,” ucap Dita
senang.
“Iya… iya… Elo emang cocok sama dia, gue doain
deh semoga elo bisa jadian sama dia,” komentar Dara
yang saat ini masih sedikit bingung. Dalam hatinya
cewek itu pun masih terus berpikir keras, “Gue heran,
kenapa malah Jaka yang keluar. Apa ramalan ini
142
emang udah enggak benar. Padahal selama ini gue
udah yakin betul kalo ramalan ini enggak bakal
meleset, karena gue kan mintanya sama Tuhan
bukannya minta sama setan. Hmm… Apa ini karena
tipu daya setan yang sengaja melakukan keajaiban itu
sehingga gue jadi sesat.”
“Ra, sekarang elo dong diramal!” pinta Dita
membuyarkan renungan Dara.
“Emangnya kalian ada yang bisa ngeramal?”
tanya Dara.
“Lho, emangnya elo enggak bisa ngeramal diri loe
sendiri, Ra?” tanya Dita Heran.
“Enggak bisa, Ta. Waktu itu gue pernah coba, tapi
enggak pernah berhasil. Enggak ada satu pun dari
nama-nama yang gue tulis bisa keluar dari lipatan
tissuenya,” jelas Dara.
“Wah, sayang banget ya. Kita-kita jadi enggak
bisa tahu apakah Dara cocok sama Randy,” ucap
Wita kecewa.
“Udalah mendingan kita main kartu aja yuk. Yang
kalah, dicoret lipstick!” ajak Dara.
143
Wita, Seli, dan Dita langsung setuju. Lantas ke
empat cewek itu pun main kartu di kamar itu hingga
akhirnya Ibunya Dara mengetuk pintu kamar dan
mengingatkan kepada cewek-cewek itu untuk segera
menunaikan sholat Ashar.
Esok malamnya, Jaka cs terlihat tengah
mengantar cewek-cewek Burespang ke tempat
kostnya. Sesuai dengan tekad mereka waktu itu, kini
Jaka cs udah enggak bersama Boy cs lagi. Selama ini
mereka emang lebih suka menjemput Burespang
tanpa melibatkan Boy cs, soalnya dengan demikian
mereka bisa lebih berkuasa atas cewek-cewek itu.
Kini Kijang yang mereka tumpangi mulai memasuki
gang yang menuju ke tempat kost.
“Ka, sebelum mengantar Siska dan Lita pulang.
Gimana kalo kita main dulu di tempat kost gue?” usul
Lola.
“Iya, Ka. Main aja dulu… ” timpal Lara.
144
“Oke deh, kalo itu emang mau kalian”
Setibanya di tempat kost, Jaka cs langsung diajak
bermain remi oleh keempat cewek itu. Namun saat itu
mereka enggak main dengan uang, tapi mereka main
corat-coret wajah menggunakan lipstick. Selama
permainan itu, Jaka berkali-kali kena coret dan
wajahnya pun terlihat lucu banget.
Sekitar pukul dua pagi, Jekky dan Jepri diminta
untuk mengantar Siska dan Lita ke tempat kost
mereka, sedangkan Jaka dan Randy menunggu di
tempat itu. Maklumlah, kedua cowok itu udah sangat
mengantuk dan mau tidur sejenak. Saat itu, Lola dan
Lara pun enggak keberatan kalo kedua cowok itu tidur
di tempat mereka. Maklumlah, mereka itu emang
udah biasa mengajak cowok-cowok tidur dalam satu
ruangan. Saat itu Jaka sempat dag-dig-dug ketika
melihat kedua cewek itu tidur dengan mengenakan
pakaian yang cukup mengundang. Beberapa kali
cowok itu sempat menelan ludah karena menahan
gejolak nafsu yang begitu menggebu-gebu.
Sementara itu, Randy juga mengalami hal serupa.
145
Cowok itu, sampai-sampai malah enggak bisa tidur
karena pikiran kotor yang ada di kepalanya.
Beberapakali cowok itu sempat memperhatikan kedua
cewek itu dengan nafsu bergelora.
Kini cowok itu berusaha menghilangkan segala
pikiran kotor yang ada di kepalanya, dia pun berusaha
keras untuk enggak memperhatikan cewek-cewek itu
lagi. Namun makin dia berusaha, keinginan untuk
melihat makin menjadi-jadi. “Aduh! Celaka dua belas.
Kalo begini terus bisa-bisa…” begitu cowok itu melihat
kepada kedua cewek itu.
“Ja-Jaka…” pemuda itu sempat tertegun ketika
melihat Jaka tengah bercumbu dengan salah seorang
cewek. Lantas dengan segera pemuda itu menegur
Jaka yang kayaknya udah lupa diri. “Ka, elo apa-apan
sih!”
“Ah, elo, Ran. Ganggu aja sih. Enggak boleh liat
teman senang dikit. Kalo elo mau, sama Lara aja!
Kayaknya dia juga lagi horni tuh.”
“Ngaco loe! Ayo bangun!” pinta Randy seraya
menarik lengan Jaka menjauhi Lola.
146
“Aduh, Ran. Kenapa sih?” tanya Lola.
“Udah, mendingan elo tidur lagi aja. Gue sama
Jaka mau keluar sebentar beli rokok.”
Setelah berkata begitu, Randy pun segera
mengajak Jaka keluar dari tempat kost untuk menuju
ke sebuah warung yang buka 24 jam.
“Ka, elo udah gila ya? Ingat enggak ucapan loe
tempo hari kalo elo enggak bakal berbuat macammacam.”
“Sorry, Ran! Gue udah enggak kuat.”
“Ka, sejujurnya. Gue juga enggak kuat. Tapi biar
gimana juga, kita enggak boleh ngelakuin itu. Dosa,
Ka. Empat puluh tahun ibadah kita enggak diterima.”
“Iya, Ran. Untung aja ada elo. Kalo enggak, udah
kecebur deh.”
“Sekarang kita mesti kudu ati-ati. Selama ini kan
kita udah sering bikin dosa, terus kalo kita sampe
kecebur, terus ibadah kita enggak diterima selama 40
tahun. Gimana cara kita menghapus dosa-dosa kita
itu,” jelas Randy mengingatkan.
147
Dan karena Jekky dan Jepri tidak juga datang
menjemput, kedua pemuda itu lantas terpaksa
nongrong diwarung hingga matahari bersinar.
Sekitar pukul enam pagi, Jekky dan Jepri datang
menjemput mereka.
“Kok lama banget, Jek?”
“Sorry, Ran. Begitu tiba di sana gue dan Jepri
disuruh mampir sebentar. Eh terus kita disuruh
menginap. Elo tahu sendiri kan, kalo gue udah disuruh
menginap pasti tuh cewek lagi horni. Ya, kebetulan
gue juga lagi horni. Nah, selanjutnya elo tahu sendiri
deh…” jawab Jepri.
“Iya, Ran. Habis mau gimana lagi. Eh, Ran!
Ngomong-ngomong gimana semalam?” tanya Jekky.
“Brengsek loe, berdua. Elo pikir gue sama Jaka
senang-senang ama tuh cewek-cewek… Eh, kalo elo
mau tahu. Gue ama Jaka terpaksa begadang di
148
warung sampe pagi lantaran elo kelamaan
ngejemput.”
“Loh, emangnya kalian di usir sama mereka?”
tanya Jekky lagi.
“Enggak, Jek. Gue terpaksa ninggalin mereka
karena gue enggak mau sampe kecebur. Gue takut
dosa, Jek,” jawab Randy.
“Elo, Ran. Dari dulu masih takut aja. Kalo ada
kesempatan kayak gitu lagi, sikat aja. Ngapain elo
pakai takut segala, emangnya dosa keliatan apa?”
jelas Jekky.
“Betul, Ran. Mumpung masih muda, nikmatin aja.
Itung-itung cari pengalaman,” timpal Jepri.
“Udah ah. Gue enggak mau ngomongin soal itu.
Elo berdua emang udah enggak beres,” ucap Randy
kesal.
Dalam hati Randy merasa kasihan kepada kedua
temannya. Dengan alasan karena masih muda
mereka melakukan perbuatan yang seharusnya
enggak dilakukan. Mereka enggak sadar kalo
perbuatan mereka itu berisiko terkena berbagai
149
penyakit, terutama penyakit aids. Dan mereka enggak
sadar bahwa umur di tangan Tuhan, dan bagaimana
jika ketika ajal menjemput, sedang diri berlumur dosa,
apa nantinya mereka bisa selamat dari siksa neraka.
Sejak kejadian di tempat kost, Jaka dan Randy
udah mulai menjaga jarak dengan Jekky dan Jepri.
Kini keduanya udah enggak mau lagi mendengarkan
ajakan mereka untuk nongkrong di Parkit maupun di
Jasika. Apalagi jika diajak menjemput burespang,
mereka menolak keras. Kedua pemuda itu udah
berjanji untuk berhati-hati dalam bergaul, soalnya
mereka enggak mau terpeleset sampai keluar jalur.
Hari ini Jaka dan Randy berniat menemui Dara,
karena katanya Jaka udah kangen berat bo. Sialnya
hari ini mobil Jaka lagi mengalami kerusakan, dan
karenanyalah mereka pun terpaksa harus naik bis
kota. Saat ini Bis kota tampak penuh, dan mereka pun
terpaksa berdesakan. Namun hal itu justru membuat
150
Jaka tampak senang. Bagaimana enggak, saat ini di
depannya persis berdiri seorang cewek cantik yang
begitu seksi, cewek itu berdiri membelakanginya. Jaka
pun merasa senang jika mobil yang ditumpanginya
tiba-tiba ngerem mendadak, membuatnya terhuyung
dan terpaksa memepet cewek yang berdiri di
depannya. Itulah yang dinamakan pelecehan enggak
sengaja, alias enggak bermaksud melecehkan. Hal
itu terjadi begitu saja dan tanpa disangka-sangka,
rasanya emang sulit buat dihindari. Apalagi Jaka itu
cowok normal yang emang lagi masa kritis, alias dara
mudanya lagi menggebu-gebu. Katanya, dari pada
entarnya nyesel dan penasaran terpaksa dinikmati
saja. Begitulah, Jaka lagi ngawur. Sementara itu,
Randy juga mengalami hal serupa. Namun begitu, dia
berusaha menghindar. Tapi apa daya, cowok itu pun
akhirnya pasrah karena sama sekali enggak bisa
bergerak akibat sesaknya penumpang. “Maaf ya
Mbak!” ucapnya. Setelah Randy berkata begitu,
akhirnya si cewek pun enggak lagi
mempermasalahkannya, kayaknya dia emang harus
151
pasrah dengan keadaan yang demikian. Dalam hati
dia sangat mendambakan adanya bis khusus wanita
yang bisa melindunginya dari hal-hal semacam itu,
atau adanya perbaikan sistem transportasi sehingga
para penumpang enggak harus berdesakan lagi.
Bis yang di tumpangi oleh Jaka dan Randy terus
melaju dan melaju, hingga akhirnya cewek ada di
depan Jaka turun dari bis. Pada saat itulah, Jaka
tampak berusaha keras bergeser ke tengah mengikuti
Randy yang sudah bergerak lebih dulu, hingga
akhirnya dia bisa bernafas lega. Kini dia tengah berdiri
menghadap ke arah seorang cewek cantik yang
sedang duduk di kursi penumpang. Tiba-tiba matanya
tertuju kepada bagian dada yang tak sepatutnya
dilihat, pada saat yang sama wanita itu tampaknya
enggak menyadari atau malah enggak peduli.
Semula, Jaka merasa risih jikalau ada yang
melihat kelakuannya, namun lama-kelamaan dia cuek
juga. Toh di sebelahnya seorang cowok juga tampak
serius sedang memperhatikan seorang cewek yang
ada dihadapannya. Edan, inilah yang dinamakan
152
rejeki nomplok yang bak buah simalakama. Yang kalo
enggak dilihat terus bisa malah kebayang-bayang dan
membuat pikiran jadi tambah ngeres. Tapi kalo dilihat
terus malah makin ketagihan. Randy yang sempat
memperhatikan kelakuan Jaka cuma geleng-geleng
kepala, dia memaklumi karena emang susah juga
kalo hidup di kota megapolitan seperti Jakarta ini,
dimana banyak banget cewek yang berbusana
menggoda. Sebenarnya apa maksud mereka
mengenakan busana itu, apakah karena emang lebih
enak atau emang karena biar bisa diperhatikan lawan
jenisnya. Dan jawaban itu tergantung kepada
pelakunya masing-masing, apa sebenarnya motifasi
mereka mengenakan busana itu.
Bis yang mereka tumpangi masih terus melaju.
Namun, sekarang bis itu sudah mulai kosong. Jaka
dan Randy pun akhirnya bisa duduk berdampingan.
“Ran, besok kita naik bis ini lagi yuk!” ajaknya kepada
Randy.
“Lho, emangnya mobil loe belum bisa diambil.”
153
“Udah sih, tapi… Kayaknya enakan naik bis
deh…”
“Tumben loe ngomong begitu, Ka. Padahal
semula elo paling enggak mau kalo diajak naik bis.”
“Semula sih emang iya, tapi sekarang gue udah
berubah pikiran.”
Saat itu, Randy yang udah bisa menebak pikiran
Jaka kembali bicara, “Hmm… rupanya elo tadi begitu
menikmati perjalanan selama berdesakan tadi kan?”
“Ja-jadi elo tadi memperhatikan gue ya?” tanya
Jaka dengan raut wajah yang berubah merah karena
malu.
“Ka, dengar ya. Kalo tadi mungkin Tuhan masih
mau memaafkan dosa loe, karena ketidaksengajaan.
Tapi, kalo elo udah niatin, kayaknya Tuhan akan
memberikan ganjaran yang sesuai buat loe.”
“Ah, elo, Ran. Jangan nakut-nakutin gue dong!”
“Gue bukan nakut-nakutin elo, Ka. Tapi emang
begitu hukumnya. Selama kita masih bisa menghindar
ya emang harus menghindar, tapi kalo kita udah
berusaha tapi enggak bisa itu namanya terpaksa. Dan
154
Keterpaksaan itu pun ada tingkatannya, seperti apa
yang gue lakukan tadi itu adalah keterpaksaan orang
awam. Walaupun gue tahu sebenarnya gue bisa
menghindar dengan turun dari bis, namun karena gue
takut kita terlambat sampai tujuan akhirnya gue pun
memilih enggak turun dari bis. Ka? Kalo gue jadi elo.
Gue lebih memilih pake mobil sendiri daripada harus
naik bis cuma lantaran kepingin melecehkan cewek.”
“Elo benar, Ran. Tapi kayaknya gue enggak bisa
ngelupain kejadian tadi. Terus terang, gue kepingin
banget kalo hal itu bisa terulang lagi.”
“Itulah nafsu. Yang kalo terus diturutin emang
enggak bakal ada puasnya, kepingin lagi dan kepingin
lagi, hingga akhirnya menjadi kebiasan yang sulit buat
dihilangkan. Seperti kebiasaan loe main sabun, sulit
kan buat dihilangkan.”
“Lagi-lagi elo benar, Ran. Jangan sampe deh hal
tadi menjadi kebiasan baru buat gue.”
“Bagus deh, kalo elo sadar,” komentar Randy
seraya memperhatikan dua orang cowok yang baru
saja memasuki bis.
155
Rupanya kedua cowok itu merupakan pengamen
yang dalam kondisi mabuk. Kini salah seorang dari
mereka tampak mulai memainkan gitarnya,
sedangkan yang satunya sudah siap menyanyi. Ketika
orang itu menyanyi sungguh sangat enggak enak buat
didengar. Suaranya yang fals terdengar enggak
harmonis dengan petikan gitar temannya yang juga
fals. Dan setelah satu lagu selesai, si vocalist yang
fals itu pun segera mengeluarkan bungkus permennya
yang akan digunakan untuk mengumpulkan uang.
Beberapa cowok yang kesal tampak enggan memberi,
termasuk Jaka dan Randy, namun beberapa cewek
yang tampak ketakukan segera memberikan uang
sekedarnya.
Usai menagih uang, si vocalist fasl tadi kembali
mendekati temannya yang masih berdiri di depan.
Kedua orang itu enggak segera turun, mereka terus
berdiri sambil memperhatikan seorang cewek remaja
yang begitu manis dan seksi. Cewek remaja itu
tampak berdiri menghadap keluar jendela. Kemudian
si vocalist fals tadi tampak mendekati cewek itu dan
156
berdiri di belakangnya. Betapa terkejutnya si cewek
ketika menyadari si Vocalist fals itu ternyata telah
memepetnya. Si cewek pun segera menghindar,
namun sialnya si vocalist fals itu terus memepetnya. Si
cewek yang emang menyadari orang yang ada di
belakangnya itu sedang mabuk tampak ketakutan.
Kini si vocalist fals itu bukan hanya memepetnya
dari belakang, namun sebelah tangannya mulai
menggerayangi paha si cewek. Dengan ketakutan
yang amat sangat, cewek itu pun segera menyetop
mobil tersebut dan beranjak turun. Walaupun cewek
itu menyadari kalo dia masih sangat jauh dari tempat
tujuan, cewek itu lebih memilih turun dan naik mobil
lain ketimbang harus digerayangi oleh seorang cowok
mabuk.
Randy yang semula berniat membantu cewek itu
mengurungkan niatnya, dia bersyukur karena cewek
itu sudah mengambil putusan yang tepat. Jadi, dia
emang enggak perlu mengambil tindakan yang dapat
membuat keributan. Enggak lama kemudian, naiklah
dua orang pengamen lain yang kali ini tampak lebih
157
simpatik. Keduanya menyapa para penumpang
dengan sopan dan akhirnya menyanyikan tembang
nasyid yang diiringi oleh sebuah rebana. Suaranya
yang begitu merdu sungguh sangat menghibur,
sekaligus memberi masukan yang positif sehingga
membuat hati yang mendengarnya terasa tentram.
Seusai menyanyikan dua buah tembang, orang yang
memainkan rebana tampak membalik rebananya dan
menjadikannya sebagai tempat menampung uang.
Pada saat itu, banyak sekali orang yang merasa
terhibur dan akhirnya mau menyisihkan sedikit
uangnya sebagai ucapan terima kasih. Jaka dan
Randy pun enggak mau ketinggalan untuk
memberikan uang sekedarnya kepada kedua cowok
yang emang pantas diberikan imbalan.
“Ran, kita turun di sini kan?” tanya Jaka tiba-tiba.
Randy pun memperhatikan sekitarnya. “Betul, Ka.
Ayo lekas kita turun!”
Enggak lama kemudian, kedua cowok itu pun
terlihat menuruni bis dan melangkah menuju ke
sebuah gang.
158
“Elo yakin ini gangnya, Ran?” tanya Jaka ragu,
soalnya waktu itu mereka baru pertama kali pergi ke
rumah Dara, dan waktu itu pun datangnya malam hari.
“Enggak salah lagi, ini emang gangnya. Lihat tu
graffiti di tembok itu. Life is a game. To be a good guy
for the winner or to be a bad guy for the loser.”
“Yup! Emang enggak salah lagi. Kalo gitu, ayo..!”
ajak Jaka bersemangat.
Kedua cowok itu pun kembali melanjutkan
langkah memasuki gang yang hanya bisa di lewati
oleh satu mobil. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah
Dara. Saat itu, Dara yang udah menunggu di teras
rumah langsung menyambutnya. “Kok baru nyampe?”
tanyanya kemudian.
“Ya, maklum aja, Ra. Namanya juga naik
angkutan umum, yang kadang-kadang suka ngetem
agak lama, ditambah lagi dengan kemacetan yang
emang udah menjadi rutinitas,” jelas Jaka.
“Iya, Ra. Maafin kami ya! Kami pasti udah bikin
kesal elo karena menunggu kelamaan?” ucap Randy.
159
“Ah, enggak apa-apa, Ran. Gue maklum kok. Ya
udah, kalo gitu ayo masuk!”
Ketiga muda-mudi itu pun segera melangkah
menuju teras.
“Hallo, Ta! Apa kabar?” sapa Jaka yang melihat
Dita lagi duduk sendirian.
“Baik…” jawab cewek itu tersipu-sipu. “Lho kalian
cuma berdua?” tanyanya Heran.
“Iya, Ta. Kami udah enggak berteman lagi sama
Jekky dan Jepri,” jawab Jaka seraya duduk di kursi
yang berhadapan dengan Dita.
“O… kalian lagi marahan?”
“Enggak… kami cuma enggak mau berteman lagi
dengan mereka lantaran pergaulan mereka sudah
kelewat batas,” jelas Randy seraya duduk berhadapan
dengan Dara.
“Benar, Ran. Gue juga udah males main sama
Wita dan Seli. Soalnya pergaulan mereka juga udah
terlalu jauh. Sejak pesta malam itu, kayaknya Wita
udah makin rusak. Kini mereka udah mulai ngajakin
160
untuk melakukan seks bebas dan mendekati
narkoba,” timpal Dara.
Dita pun segera menimpali. “Iya, Ran. Selama ini
Wita sering mengajak kita-kita ketempat yang enggak
benar. Pernah waktu itu, Wita nganjurin gue buat
ngelepasin keperawanan gue karena alasan
persahabatan. Soalnya waktu itu Wita lagi enggak
punya uang buat beli narkoba, dan saat itu dia benarbenar
membutuhkan pertolongan gue yaitu dengan
menjual keperawanan gue. Gue benar-benar enggak
habis pikir, apakah persahabatan itu berarti harus
mengorbankan sahabatnya sendiri?”
Randy pun segera menanggapi pertanyaan itu.
“Elo benar, Ta. Kalo gue pikir itu sih bukan sahabat.
Setahu gue sahabat itu justru akan mengorbankan
dirinya demi kebaikan sahabatnya. Bukan malah
melibatkannya kepada hal-hal yang dapat merugikan
sahabatnya. Sahabat adalah teman dekat yang
membawa temannya menuju kebaikan, dan dia
melakukan semua itu hanya karena Allah semata.
Karena sahabat baik adalah orang yang benar-benar
161
mencintai kita. Dia sangat peduli dengan segala
kesulitan kita dan akan mengesampingkan
kesulitannya sendiri. Betapa ruginya jika kita enggak
mempunyai sahabat yang selalu mengingatkan dan
mengajak kita kepada hal-hal yang baik. Untuk
mencari sahabat baik emang enggak gampang, kita
perlu menyelidiki apakah sahabat kita selama ini
adalah sahabat yang baik atau bukan, jangan-jangan
hanya orang yang cuma mengambil keuntungan dari
diri kita. Soalnya sahabat baik itu enggak pernah
menghitung-hitung segala kebaikan yang pernah dia
lakukan kepada kita. Dengan demikian kita pun juga
harus bersikap sama, tentunya jika kita masih mau
dianggap sahabat baik olehnya.”
“Hmm… pantes waktu itu elo enggak ada di
valentine Party. Apa waktu itu karena Jaka enggak
mengajak elo, Ran?” tanya Dara.
“Betul, Ra. Waktu itu Gue emang enggak diajak
lantaran gue mau menghadiri acara yang emang
bermanfaat. Itulah yang gue suka sama Jaka, selama
ini dia enggak pernah memaksakan kehendaknya
162
pada gue untuk melakukan hal yang enggak-enggak.
Kalaupun dia mau melakukan perbuatan yang enggak
benar, dia melakukan untuk dirinya sendiri tanpa
pernah mempengaruhi gue. Selama ini, gue pun
enggak pernah memaksa Jaka buat ninggalin apa
yang gue anggap enggak benar itu, paling gue cuma
bisa memberi masukan agar pikirannya bisa terbuka.
Soalnya gue masih memaklumi Jaka yang emang
belum bisa ninggalin itu semua karena darah
mudanya. Selama ini pun, gue sering mengikuti Jaka
karena gue peduli sama dia. Terus terang, gue
enggak mau kalo Jaka sampe bergaul di luar batas.
Namun begitu, Jaka pun enggak pernah lupa buat
ngingetin gue jika gue sampe khilaf melakukan hal-hal
yang enggak-enggak. Pernah waktu itu gue sampe
khilaf karena coba-coba mau meminum minuman
keras. Namun saat itu Jaka memberi peringatan kalo
gue enggak sepantasnya melakukan itu. Pokoknya
kita berdua selalu saling ngingetin, namun enggak
pernah saling maksain.”
163
Jaka pun segera menimpali. “I ya, Ra. Randy
emang sahabat gue yang terbaik. Itulah kenapa
hingga saat ini, gue pun masih mau main sama dia.
Enggak seperti Jekky dan Jepri yang selalu ngajakin
gue untuk berbuat yang enggak-enggak. Untung aja
selama ini ada Randy yang selalu ngingetin gue. Kalo
enggak, mungkin sekarang gue udah rusak banget.”
“Hmm… Persahabatan seperti itu tu yang gue
mau. Enggak seperti si Wita dan Seli yang malah
menyuruh gue menjual keperawanan. Untung aja saat
itu ada si Dara yang berani mengambil sikap,
sehingga keperawanan gue tetap terjaga,” ungkap
Dita.
Saat itu juga, Dara langsung menimpali. “Ya,
untung aja saat itu gue ingat dengan perkataan bokap
gue. Kalo kita ini emang masih labil dan gampang
terpengaruh. Sekarang gue baru sadar kalo ternyata
emang ada orang yang semula kelihatan baik namun
pada kenyataannya enggak, begitu pun sebaliknya.
Gue benar-benar enggak nyangka kalo orang-orang
164
yang gue anggap baik justru mau menjebak gue dan
Dita untuk mengikuti jejak mereka.”
“Ya… kita emang masih beruntung karena masih
dilindungi oleh Tuhan, yang dengan perantara hamba-
Nya melindungi Hamba-Nya pula.”
Ke empat muda-mudi itu terus berbincang-bincang
dengan akrabnya, hingga akhirnya Dara
mengeluarkan kotak teka-tekinya. “Eh, kalian bisa
buka kota ini enggak?” tanya Dara kepada Jaka dan
Randy.
Jaka segera mengambil kotak itu dari tangan
Dara, kemudian dia tampak memperhatikannya
dengan seksama. “Wah, ini sih rumit, Ra. “
“Coba sini gue lihat!” pinta Randy seraya
mengambil kotak itu dari tangan Jaka. “Wah, ini
emang rumit, Ra. Soalnya kombinasinya banyak
banget, dan sepertinya emang enggak mungkin bisa
dibuka dalam waktu singkat. Ra, terus terang gue
enggak mungkin bisa, soalnya butuh waktu lama
banget buat mencatat semua kemungkinannya,” jelas
Randy seraya mengambalikan kotak itu pada Dara.
165
Setelah puas berbincang-bincang, Jaka dan
Randy akhirnya pamit pulang karena saat itu mentari
tampak mulai kembali ke peraduan ibu pertiwi.
166
Delapan
ua bulan telah berlalu. Jaka dan Randy yang
udah enggak berteman lagi dengan Jekky dan
Jepri, serta Dara dan Dita yang udah enggak
berteman lagi dengan Wita dan Seli, kini sudah
membentuk kelompok baru. Sekarang Jaka cs terdiri
dari Jaka, Randy, Dara, dan Dita. Mereka berempat
udah berkomitmen untuk enggak melanggar normanorma
agama.
Kini Jaka, Randy, dan Dara tengah menginap di
rumah Dita untuk menemaninya. Maklumlah, orang
tua Dita sedang pergi keluar kota dan akan kembali
minggu depan. Sekitar pukul tujuh pagi, keempat
muda-muda itu baru bangun dari tidurnya.
“Ta, elo punya makanan apa? Gue lapar nih,”
tanya Jaka.
“Iya, Ra. Gue juga lapar,” timpal Randy.
D
167
“Aduh sorry, ya. Ketika berangkat, nyokap gue
enggak sempat belanja makanan instant. O ya, kalo
enggak salah di kulkas masih ada pizza bekas
semalam.”
“Enggak mau, Ta! Gue lagi males makan junk
food. Liat nih! Perut gue udah mulai gendut,” tolak
Randy.
“Gue juga enggak mau, Ta. Mana enak pizza
dingin,” timpal Jaka.
“Nanti deh, gue minta ama nyokap gue buat beli
kulkas yang ada pemanasnya.”
“Wah… Kelamaan, Ta. Kalo gue mesti nunggu
nyokap loe pulang dulu.”
“Hmm… gimana kalo kita cari makanan di luar
aja,” usul Randy.
“Makan apa kita pagi-pagi begini?” tanya Dita.
“Gimana kalo sarapan bubur,” jawab Dara.
“Ayo deh,”
Lantas mereka berempat bergegas mencari
makanan. Enggak lama kemudian “Tuh Ka, di depan
ada warung bubur,” kata Randy.
168
“Ayo deh, lekas! Gue udah laper banget nih,” kata
Jaka seraya mempercepat langkahnya. Randy pun
mengikuti dengan mempercepat langkahnya.
“Aduh, Ka. Pelan-pelan dong! Gue capek tau,”
Dara menggerutu, dia tampak ketinggalan di
belakang.
Akhirnya Jaka dan Randy sampai di warung bubur
dan udah masuk lebih dulu. Sementara itu Dara dan
Dita tampak sedang digoda oleh dua orang Cowok.
“Pagiii pagiii nyabuuu, siang malaaam nyabuuu,”
canda seorang Cowok yang bermata sipit
menyanyikan langunya Alam.
“Neng caem, mau dong ikutan nyabu,” kata
Cowok yang bermata cekung.
Dara berhenti sebentar, kemudian dia menatap
kedua Cowok itu. “Kalian pagi-pagi udah godain
cewek, emangnya enggak ada kerjaan lain apa?”
tanyanya sedikit kesal.
“Duh, Eneng manis. Kalo lagi marah tambah caem
aja,” canda si Mata sipit.
169
“Iya… bikin kita-kita pengen kenalan aja,” timpal si
mata cekung.
“Huh, enggak usah ya,” ucap Dara sewot seraya
masuk ke dalam warung mengikuti Dita yang udah
masuk lebih dulu.
Di dalam warung Jaka dan Randy asyik ketawa
cekakakan, rupanya mereka melihat perlakuan kedua
cowok tadi. Sedangkan Dita tampak senyam-senyum
saja.
“Lho, kok kalian malah pada ketawa, bukannya
ngebantuin gue!” kata Dara menggerutu.
“Habis elo emang kece. Mereka bukan cowok
namanya, kalo ngeliat elo enggak ngegodain,” kata
Jaka sambil tersenyum.
“Iya, Ra. Besok-besok pake cadar aja! Biar orang
bertanya-tanya—Ini cewek, kece apa enggak sih?
Mereka pasti mikir dua kali buat ngegoda elo,” usul
Randy.
“Benar, Ra. Elo lagi bete, lagi cemberut, lagi sedih,
enggak bakal ada yang tau,” timpal Jaka.
170
“Benar juga kalian, mulai sekarang gue mau pake
cadar,” ungkap Dara serius.
“Di rumah juga?” tanya Randy enggak percaya.
“Lah iya… pokoknya ya, di mana aja,” jawab Dara
yakin.
“Wah, kalo gitu kita enggak bisa ngeliat
kecantikan loe lagi dong,” canda Randy.
“Enggak ngeliat wajahnya juga enggak apa-apa,
kan masih bisa ngeliat body-nya,” kata Jaka ngelantur.
“Eh… Bicara apa loe, Ka? Jadi, selama ini elo
suka ngeliatin body gue ya?” tanya Dara sedikit
melotot.
“Habis, elo seksi sih. Rugi dong kalo enggak
diliatin,” jawab Jaka polos.
“Huh! Dasar… mata keranjang,” umpat Dara.
Padahal di hatinya dia begitu senang mendengar Jaka
bicara begitu.
“Apa loe juga mau menutup body loe yang seksi
itu?” tanya Randy memancing.
“Benar, Ran. Gue juga mau mengenakan busana
muslim, biar kalian enggak bisa ngeliatin body gue
171
seenak mata keranjang kalian,” kata Dara sungguhsungguh.
“Eh, Ra? Yang mata keranjang itu kan si Jaka,
kok gue juga dibawa-bawa? Padahal, selama ini gue
enggak sadar tuh, kalo body-loe seksi,” bela Randy.
“Masa sih, si Randy enggak nyadar kalo body gue
seksi?” tanya Dara dalam hati enggak percaya.
“Heh, kok malah bengong, tuh buburnya udah
jadi,” tegur Jaka.
Mereka pun akhirnya sarapan bubur dengan
lahapnya. Pada saat itu Jaka sempat khawatir kalo
Dara benar-benar melaksanakan ucapannya. Dalam
hati dia pun jadi kepikiran, “Ra, sebenarnya gue agak
nyesel kalo elo sampe ngelaksanain ucapan loe tadi,
dengan begitu gue pasti enggak bisa ngeliat
kecantikan wajah loe sama keindahan body-loe lagi.
Tapi… Gue enggak akan nyesel kalo elo benar-benar
jadi milik gue, soalnya kecantikan wajah loe sama
keindahan body loe cuma buat gue seorang,
hehehe..” kata Jaka ngelantur dalam hati.
172
“Kenapa elo senyum-senyum sendirian, Ka?”
tanya Dara curiga.
“E-enggak kok, gu-gue cuma…”
“Pasti lagi mikir yang enggak-enggak?” potong
Randy.
“Sembarangan, orang gue lagi mengingat
perkataan kedua cowok tadi, makanya gue ngerasa
lucu, hehehe,” ucap Jaka berkelit.
Saat itu Dara cuma meliriknya. Namun di
benaknya ada pertanyaan menyangkut hal tersebut.
Sepulang makan bubur, Jaka cs kembali ke rumah
Dita.
Setibanya di rumah itu, Randy dan Dara langsung
ngobrol di ruang tamu. Melihat itu, Jaka pun cepatcepat
nimbrung lantaran dia agak jealous melihat
pujaan hatinya ngobrol sama cowok lain. Sementara
itu, Dita langsung ke ruang tengah nenonton TV.
“Eh, Ka. Kenapa sih setiap gue ngobrol berdua
sama Dara elo selalu ikut nimbrung. Mendingan sana
elo temenin Dita yang lagi nonton sendirian.”
173
“Ngomong-ngomong, emangnya kalian lagi
ngomongin apa sih?” tanya Jaka curiga.
“Kita lagi ngomongin soal agama kok, emangnya
elo pikir kita lagi ngomongin apa?” tanya Dara.
“Enggak… gue cuma mau tau aja, kalo dugaan
gue itu emang benar kalo kalian itu emang lagi
ngomongin soal agama. Dan karena itulah gue ikutan
nimbrung biar ilmu agama gue juga ikut nambah.”
“Kalo begitu, duduk deh! Ayo kita bahas soal niat
Dara ketika di warung tadi.”
Akhirnya ketika muda mudi itu pun ngobrol
bersama mengenai busana muslim. Dan enggak lama
kemudian, Dita ikutan nimbrung. Cewek itu sempat
kaget juga ketika tahu kalo Dara sungguh-sunguh
mau mengenakan busana muslim.
Seminggu kemudian, Jaka dan Randy tampak
terperangah melihat Dara yang udah mengenakan
busana muslim. Tubuhnya yang seksi udah tertutup
174
gaun muslim, kepalanya ditutup jilbab dan
mengenakan cadar.
“Gimana menurut kalian, seksi enggak?” tanya
Dara.
Jaka dan Randy cuma terpaku mendengar
pertanyaan itu, apa maksudnya? Begitulah pertanyaan
yang ada dibenak mereka masing-masing.
“Ra, apa elo benar-benar mau terus
menggunakan pakaian itu? Apa enggak bikin loe
menderita?” tanya Jaka agak kuatir.
“Emang sih, agak panas dan kurang luwes. Tapi,
gue mau membiasakannya kok,” ucap Dara sungguhsungguh.
“Ah, paling juga enggak lama,” komentar Randy
menguji.
“Gue mau berusaha, Ran. Yang penting gue coba
dulu, masalah kuat-enggak kuat kita liat aja nanti,”
kata Dara meyakinkan.
“Ra… gue kepingin tau, sebenarnya apa sih yang
membuat elo kepingin mengenakan busana muslim,”
tanya Jaka sungguh-sungguh.
175
“Ok, akan gue jawab tuntas. Pertama, gue enggak
mau pikiran para cowok menjadi ngeres. Kayak loe,
Ka. Gue yakin pikiran loe pasti suka ngeres.
Kedua, supaya gue enggak jadi cewek munafik,
sebenarnya gue suka bila cowok ngeliatin keindahan
body gue, tapi gue juga enggak mau bila mereka
sampai menikmatinya. Terus terang, gue risih kalo
ada cowok yang sampe begitu.
Nah… Karena mengenakan busana ini, gue
ngerasa punya tameng yang bisa ngejaga gue dari
perilaku menggoda. Dengan demikian keinginan suka
diliatin itu bakalan hilang dengan sendirinya.
Ketiga sebagai bukti kepada orang yang gue
cintai, kalo kecantikan dan keindahan body gue cuma
benar-benar buat dia, bukan buat orang lain. Dan
yang terpenting, semua ini adalah perintah Tuhan
yang jelas-jelas emang harus gue taati. Karena
sebagai seorang muslim, dari awal gue sudah berikrar
untuk mengakui Allah sebagai Tuhan gue dan
Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir. Ikrar atau
syahadat yang udah gue bawa sejak lahir itu punya
176
konsekwensi besar dalam kehidupan gue, yaitu
bahwa gue enggak akan patuh dan enggak tunduk
kepada siapapun kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketaatan mutlak ini mencakup ketaatan kepada
Kalam Ilahi yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya
lewat Hadits-hadits Shahih.
Nah, ketika Allah memerintahkan kepada kaum
muslimat untuk berhijab (menutup aurat) seperti yang
belum lama ini gue baca yaitu pada surat An-Nur 31
dan Al-Ahzab 59, maka di sinilah ikrar taat dan patuh
tadi diuji. Apakah muslimah akan taat ketika
diperintahkan berhijab, atau malah ogah dan menolak.
Kalau taat, elo pasti bisa menebak dia akan
mendapatkan pahala dan kalo menolak tentunya elo
juga bisa menyimpulkan kalo dia pasti berdosa karena
enggak taat kepada perintah Allah,” jelas Dara
panjang lebar.
Jaka dan Randy hanya mengangguk-angguk
mendengarkan penjelasan Dara.
“Kalo elo ke bioskop atau ke konser, apa elo tetap
memakainya?” tanya Jaka lagi.
177
“Kenapa enggak? Nonton film atau konser itu kan
manusiawi. Yang pentingkan gue enggak
menyebabkan ketiga hal tadi terlanggar, lagi pula…
gue kan nonton film buat menambah wawasan. Gue
kan udah bisa membedakan mana yang baik dan
mana yang enggak, kalo yang baik ya gue turuti, kalo
yang enggak ya… gue tinggalin. Kalo ternyata nonton
film atau konser malah membuat gue jauh dari nilainilai
agama tentu akan gue tinggalin. Terserah orang
mau menilai apa, yang pentingkan gue enggak
melakukan hal yang enggak-enggak. Ciuman atau
pelukan di tempat umum misalnya, soalnya kalo diliat
orang kan bisa membuat mereka kepingin.” jelas Dara
lagi panjang lebar.
“Jadi kalo ciuman dan pelukan enggak diliat
orang, enggak apa-apa?” tanya Randy.
“Kalau itu rahasia perusahaan,” jawab Dara asal.
“Kok, bisa begitu?” tanya Randy.
“Lah iya dong, itu tergantung gue. Kalo gue
pacaran pasti enggak mungkin bisa menolak
keinginan sang pacar—orang yang gue cintai. Tapi
178
kalo gue kepingin menghindari hal tersebut, ya… gue
enggak usah pacaran. Gampang kan?” Jelas Dara
kepada Randy.
“Jadi, elo mau yang gimana, Ra?” tanya Jaka
khawatir.
“Step by step lah, masa gue bisa sekaligus
berubah. Ya, enggak mungkin. Pokoknya gue mau
memulai dengan beberapa hal tadi, setelah itu baru
mau aku tingkatkan setahap demi setahap,” jawab
Dara.
Rupanya Dara emang bersungguh-sungguh untuk
merubah dirinya, dari wanita yang berpakaian seksi
menjadi seorang wanita muslim yang taat. Dia berniat
melaksanakannya setahap demi setahap.
179
Sembilan
etahun kemudian semenjak Dara mengenakan
busana muslim, Jaka makin mencintainya.
Cowok itu kayaknya udah sulit buat berpindah hati,
walaupun selama ini ada si Dita yang selalu berusaha
menarik perhatiannya.
Kini cowok itu sedang berduaan dengan orang
yang dicintainya. “Ra, elo tahu enggak, apa yang ada
di hati gue? Gue tu cinta banget sama elo. Sampesampe
gue enggak enak makan, enggak enak bobo,
and enggak enak…. Udah deh, pokoknya gue tu
enggak enak ngapa-ngapain. Hati ini rasanya
gelisaaaah terus. Apa lagi kalo elo lagi enggak ada,
rasanya enggak karuan, begini salah, begitu salah.
Pokoknya enggak enak banget deh. Elo tahu enggak?
Muka loe yang caem itu selalu aja kebayang. Tapi
sayangnya gue enggak bisa ngapa-ngapain. Di cium
juga enggak ada rasanya, lah wong cuma bayangan
S
180
doang. Tapi itu tu, body loe yang seksi udah bikin gue
pusing, udah bikin gue menghayal yang enggakenggak.
Jangan marah! Bukankah hal itu manusiawi
banget. Tul enggak? Sebagai cowok yang normal and
butuh sama kebutuhan biologis tentunya gue enggak
mungkin bisa menghindar. Eh, maksudnya bukan
enggak bisa, tapi suliiiit banget. Gue kan hanya
manusia biasa, bukan kiai, maupun ustad. Kayaknya,
gue masih suliiiit banget buat ngejaga pandangan,
yang kata Ustad Sanusi, bisa membuat hati ini jadi
hitam and keras membatu, hingga nikmat iman pun
enggak bisa lagi dirasain.
Ya, begitulah… Sorry ya, Ra! Gue kepaksa
banget kalo sampe ngebayangin elo yang enggakenggak.
Soalnya kalo enggak begitu, gue bisa jadi
gila, la, la, laaaa. Gue pernah coba ngalihin pikiran itu
ke hal lain, tapi tetap aja enggak bisa. Pokoknya yang
ada selalu aja, body loe, muka loe, and senyum loe
yang manis tentunya,” ungkap Jaka terus terang.
Dara terdiam, dia enggak tahu harus berkata apa
kepada cowok yang kini menatapnya dengan hangat.
181
Emang, sebagai cewek awam yang masih perlu
banyak belajar, Dara cuma bisa tersipu.
Dalam hati dia agak menyesal, kenapa harus ada
cowok yang sampai seperti itu. Apa tu cowok udah
enggak ada pikiran lain, selain memikirkan dia. Dan
apa dia enggak bisa menurunkan kadar libidonya
sedikit saja. Biar tu pikiran enggak ngeres melulu.
Andai saja dia dulu dia mengenakan busana
muslim, tentu cowok itu enggak akan sampai seperti
itu. Dia benar-benar menyesal karena membuat
cowok itu terlanjur melihat keindahan tubuhnya,
bahkan sempat membayangkannya yang enggakenggak.
Kini Dara merasa bersalah, dalam hati dia
kepingin banget menebusnya dengan menjadi
pacarnya. Namun di lain sisi, Dara merasa enggak
mungkin menjadi kekasih seorang yang menurutnya
begitu mata keranjang dan enggak bisa merawat diri.
Dia masih ragu apakah cowok itu bisa merubah
prilakunya yang menurut pandangannya masih jauh
dari nilai-nilai agama.
182
“Ra, kenapa diam. Apa elo enggak peduli ama
gue.”
“Bukan begitu, Ka. Gue sendiri juga masih
bingung.”
“Apa karena elo mencintai Randy?”
Dara terdiam. Sepertinya dia enggak mau
menjawab pertanyaan itu.
“Ra, Randy pernah bilang ke gue. Kalo dia enggak
mencintai elo,” jelas Jaka.
Mendengar itu, Dahi Dara pun langsung berkerut.
“Apa! Elo jangan mengada-ngada, Ka,” katanya
enggak percaya.
“Gue enggak mengada-ada, Ra. Itu emang
kenyataan. Kalo enggak percaya, tanya aja sendiri.”
Saat itu dara terdiam, dalam hati dia sempat
membatin. “Hmm… jadi apa yang gue duga selama ini
benar. Kalo Randy emang enggak suka sama gue.
Pantes selama ini sikapnya selalu dingin, kayaknya
dia emang enggak tertarik sama gue.”
183
“Udalah, Ra. Elo enggak perlu mikirin dia. Kenapa
sih elo enggak mencoba mencitai gue aja, yang jelas
jelas mencintai elo.”
Malam harinya, di sebuah kamar. Jaka tampak
sedang melamunkan sang pujaan hati. “Sayang…
kubegitu merindukanmu. Rindu akan tatapanmu, rindu
akan senyum manismu, dan rindu akan tawa
candamu. Sayang… kuingin mendekapmu,
merasakan hangat tubuhmu, menikmati harum
rambutmu, juga belaian lembutmu. Sayang… jika
tidak kumerana, gundah gulana, resah tak terkira.
Sepi… di kesendirianku… siang dan malam, di waktu
luang yang menyiksa…. Dingin… di malammalamku.…
disaat hujan yang lebat…. Sedih… tanpa
pelipur lara dikala duka. Galau… ketika hasrat
bergelora tanpa pelampiasan… Sejalan dengan waktu
yang terus bergulir, seiring dengan nafas yang tak
pernah berhenti berhembus, kuslalu
184
mengharapkanmu. Siang dan malam, di sela
kesibukan, di sela hiruk-pikuk, dan segala macam
rutinitas.”
Jaka terus melamunkan Dara, kayaknya dia udah
cinta mati dan begitu terobsesi dengan pujaan hatinya.
Sementara itu di tempat lain, Randy dan Dara sedang
berbincang-bincang.
“Ran, apa benar elo enggak cinta sama gue?”
“Iya, Ra. Sepertinya elo emang bukan cewek
idaman gue”
“Tapi, kenapa dulu di Mal elo ngikutin gue?”
“Ya, waktu pertama kali ngeliat elo, gue emang
suka. Tapi, untuk jatuh cinta kan bukan cuma ngeliat
penampilan saat itu, namun juga ngeliat tabiat elo,
sesuai enggak sama gue.”
Saat itu Dara tampak kecewa banget, wajahnya
yang cantik tampak begitu sedih. Sementara itu,
Randy merasa berdosa karena telah berkata dusta,
dalam hati cowok itu langsung membatin. “Maafin
gue, Ra. Sebenarnya gue cinta sama elo. Tapi
sayang, gue enggak mungkin pacaran sama elo.
185
Sebab, gue emang udah bertekad untuk enggak
pacaran, karena gue takut hal itu membawa gue
kepada hal-hal yang merugikan. Terus terang, Iman
gue masih lemah, dan karenanyalah gue lebih baik
mencegah daripada nantinya malah terperangkap.
Lagi pula, gue juga enggak mau menyankiti perasaan
Jaka yang sudah begitu cinta sama elo.”
Kedua muda-mudi itu terus terdiam, entah kenapa
sikap keduanya tiba-tiba saja berubah tak seakrab
dulu.
Sejak pertemuan malam itu, Dara udah enggak
memikirkan Randy lagi. Kini dia udah resmi menjadi
pacar Jaka, pemuda yang sangat mencintainya.
Setelah beberapa bulan pacaran, akhirnya Jaka
diperkenalkan oleh orang tua Dara. Dan sejak saat
itulah, Jaka sering berkunjung ke rumah Dara.
186
Saat ini pun, Jaka tengah berkunjung ke rumah
Dara. “Dara ada, Tante?” tanya pemuda itu kepada
ibunya Dara yang membukakan pintu.
“Wah, belum pulang kuliah tuh, Nak. Ayo silakan
masuk dulu!” tawar Ibunya Dara.
Enggak lama kemudian, Jaka pun masuk dan
duduk berbincang-bincang dengan Ibunya Dara
hingga waktu Juhur tiba.
“Maaf, Tante! Boleh saya numpang sholat di sini?”
“O, silakan, Nak! Mari Tante antar ke belakang!”
Dan setibanya di belakang, Jaka langsung
menggulung celana panjangnya untuk mengambil
Wudhu. Saat itu, tanpa sengaja Ibunya Dara melihat
sebuah tanda yang sangat dikenalnya, melekat di
betis pemuda itu. “Ta-tanda itu…” ucapnya dalam hati.
Ketika Jaka sedang menunaikan sholat Juhur, Ibu
Dara masih memikirkan perihal tanda yang dilihatnya.
“Hmm… apakah dia memang putraku? Ta-tanda
bekas luka itu, sama persis dengan milik putraku yang
hilang delapan tahun yang lalu? Eng… kalau begitu,
nanti akan kutanyakan perihal kedua orang tuanya.”
187
Benar saja, seusai sholat. Ibunya Dara langsung
mengintrogasi Jaka perihal kedua orang tuanya. Dan
setelah dirasa cukup. “Baiklah Nak Jaka. Lain waktu,
Tante ingin main ke rumah kamu, terus terang Tante
ingin kenal dengan mereka.”
“Saya senang sekali Tante bicara begitu, soalnya
kedua orang tuaku pun juga ingin berkenalan dengan
Tante dan Om.”
“O ya, Nak Jaka. Tante…”
Belum sempat Ibu Dara melanjutkan katakatanya.
Tiba-tiba dari luar rumah terdengar suara
salam yang cukup keras.
“Wa’allaikum salam!” ucap Jaka dan Ibu Dara
bersamaan.
“Nah, itu si Dara sudah pulang. Kalau begitu Tante
tinggal dulu ya.”
Enggak lama kemudian, Dara tampak memasuki
ruangan. “Eh… kamu, Ka. Udah lama?” tanyanya
seraya duduk di sebelah Jaka.
“Enggak kok, paling cuma satu jam…”
“O, ya. Kenapa kamu enggak telepon dulu, sih?”
188
“Sebenarnya aku enggak niat mampir. Tapi,
karena aku kangen dan kebetulan emang lagi lewat
sini. Ya… terpaksa deh.”
Saat itu dara cuma bisa tersenyum.
“Ra, aku laper nih. Kita makan di luar yuk!”
“Aduh, Ka. Aku capek nih. Baru juga pulang, masa
udah mau pergi lagi.”
“Kalo kamu laper, aku pesenin piza ya.”
Jaka mengangguk, soalnya saat itu dia emang
benar-benar lapar. Setelah memesan pizza melalui
delivery order, akhirnya Dara kembali berbincangbincang
dengan Jaka.
“Eh, Ka. Gimana kabarnya Randy.”
“Baik. O ya, nanti malam dia mengajak kita
menghadiri acara zikir bersama di Masjid Atin”
“Benarkah! Wah, aku seneng banget kalo kita bisa
pergi bersama-sama. O ya. Dita udah di kasih tahu
belum?”
“Belum, Ra. Kamu aja ya yang kasih tahu ya!”
Dara mengangguk. Dan enggak lama kemudian,
kedua muda-mudi itu udah kembali berbincang189
bincang mengenai hal-hal yang berhubungan dengan
agama. Sekarang ini Jaka cs emang udah jauh
berubah. Semenjak mereka berkomitmen untuk
memperbaiki diri, mereka udah enggak pernah lagi
berhura-hura. Keseharian mereka selalu diisi dengan
hal-hal yang jelas-jelas bermanfaat. Dan itu semua
karena mereka udah tergabung di dalam sebuah
pengajian tarbiyah yang selalu men-tune-up ahlak
mereka agar senantiasa berada di jalur yang benar.
Seminggu kemudian, Jaka dan dara tampak
sedang berbincang-bincang di sebuah kursi ayun yang
ada di halaman rumah Jaka. Pada halaman yang
cukup luas itu juga terdapat sebuah kolam renang
yang dikelilingi oleh indahnya berbagai macam
tanaman bunga.
“Ka, kayaknya kebalik ya. Bukankah seharusnya
orang tuamu yang seharusnya datang ke rumahku.
Tapi, kenapa sekarang malah orang tuaku yang
190
datang ke sini. “Eng… Ka! Sebenarnya kamu tahu
enggak, kalo mereka mau ngomongin apa?”
“Aku juga enggak tahu, Ra. Yang jelas mereka
pasti bukan mau ngomongin soal lamaran, enggak
mungkin kan orang tuamu datang buat melamar aku.
Hmm… Mungkin mereka cuma mau saling kenal aja
sesama calon besan.”
Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincang
soal pertemuan orang tua mereka, sementara itu di
ruang tamu. Orang tua Jaka dan Dara tampak sedang
serius membicarakan soal Jaka.
“Jadi benar, Jaka bukan anak kandung kalian?”
tanya Pak Bobby.
“Benar, Pak. Waktu itu Jaka kami temukan tengah
terombang-ambing di tengah lautan. Saat itu kami
yang belum dikaruniai seorang anak pun, akhirnya
memutuskan untuk membesarkannya selayaknya
anak kami sendiri. Dan kami pun memberinya nama
sesuai dengan nama yang ada di gelang perak yang
dikenakannya yaitu ‘Jaka Putra Kurnia’. Sebab nama
itu emang cocok sekali, karena dia emang sebagai
191
anak lelaki yang saat itu seakan emang dikaruniakan
untuk kami,” jelas orang tua angkat Jaka panjang
lebar.
“Kalau begitu, Jaka emang betul-betul anak kita,
Yah,” ucap istri Pak Bobby seraya menitikkan air
matanya.
“Kau benar, Bu. Sekarang pun aku sudah yakin
sekali kalau dia emang anakku,” timpal Pak Bobby
haru.
Hingga akhirnya para Orang tua itu pun mulai
ngebahas langkah yang terbaik untuk menyampaikan
kepada sepasang sejoli—Jaka dan Dara agar mau
menerima kenyataan yang pahit itu. Sementara itu di
taman belakang, Jaka dan Dara masih asyik
berbincang-bincang.
“Ka, aku mencintaimu,” ucap Dara tersipu.
“Aku pun demikian, Ra,” ucap Jaka seraya
tersenyum pada kekasihnya.
“Ka, terus terang aku benar-benar enggak
menyangka kalo ternyata aku bisa mencintaimu.
Padahal semula aku enggak yakin kalo aku bisa
192
mencintaimu. Namun karena kamu ternyata orang
yang sangat perhatian padaku, aku pun jadi sangat
mencintaimu. Kamu sama sekali enggak seperti
penampilanmu, perlakuanmu padaku benar-benar
kurasakan begitu tulus. Walaupun terkadang kamu
sering membuatku kesal, tapi kutahu kamu
melakukan itu karena sayang padaku.”
“Sayang… yang kamu katakan itu bukan
gombalan kan.”
Dara pun memandang Jaka dengan dahi agak
berkerut. “Hmm… Jadi, yang sering kamu katakan
padaku selama ini cuma sebuah gombalan?” tanya
Dara curiga.
“Aduh, Sayang… kenapa kamu malah menuduhku
begitu?”
“Udah, kamu enggak usah pake panggil aku
‘Sayang’ segala, cepat jawab pertanyaanku tadi!
“Ra, apakah yang aku ucapkan berdasarkan isi
lubuk hatiku yang terdalam itu gombalan?” Jaka
malah balik bertanya.
193
“Mana aku tahu, yang justru tahu itu kan kamu,”
jawab Dara ketus.
“Huh, terserah kamu deh! Kalo yang kuucapkan
dengan tulus itu kamu bilang suatu gombalan.
Sekarang aku enggak mau ambil pusing, jujur salah…
bohong apa lagi…”
“Ka, kok malah kamu yang marah?”
“Habis, kamu udah bikin aku kesal.”
“Kalo begitu, maafin aku ya, Ka! Terus terang,
bukan maksudku membuatmu kesal. Sebenarnya aku
cuma mau kepastian aja.”
“Sekarang, apa kamu udah mendapat kepastian
itu.”
Dara menggangguk.
“Kalo begitu, apa aku udah boleh emanggilmu
‘Sayang’?
Lagi-lagi Dara mengangguk, di bibirnya
tersungging sebuah senyuman manis.
“Syukur deh kalo begitu. Nah, Sayang… gimana
kalo…”
194
Belum sempat Jaka melanjutkan kata-katanya,
orang tua mereka terlihat datang menghampiri.
Kemudian mereka mengajak keduanya untuk ngobrol
di kursi yang ada di teras belakang. Di tempat itulah
orang tua mereka menjelaskan perihal jati diri Jaka.
“A-apa! Ja-jadi Dara adikku,” kata Jaka seakan
enggak percaya. Dalam hati cowok itu merasa seakan
akan tersambar petir karena merasa terkejut
sekaligus kepiluan yang amat sangat.
“Kuatkan hatimu, Nak. Itu memang suatu
kenyataan yang tidak bisa dipungkiri,” jelas lelaki yang
kini diketahui sebagai ayahnya. Kemudian lelaki itu
melanjutkan kata-katanya, “Nak? Apa kamu sudah
lupa dengan peristiwa ketika kapal yang kita tumpangi
tenggelam?” tanya ayahnya.
Jaka menggelengkan kepalanya. Melihat itu, sang
Ayah pun segera menceritakan peristiwa itu. “Dulu…
ketika kita tengah berlibur untuk merayakan ulang
tahun pernikahan ayah dan ibumu, kita berlayar
menuju ke sebuah pulau dengan menggunakan kapal
pesiar kecil. Saat itu kemalangan emang tidak bisa
195
diduga-duga, sebuah badai dahsyat yang tak
terdeteksi tiba-tiba datang dan mengamuk
mengombang-ambingkan kapal yang kita tumpangi
tanpa belas kasihan. Hingga akhirnya, kapal yang kita
tumpangi itu terbalik dan akhirnya tenggelam.
Untunglah saat itu kita semua sudah menggunakan
jaket pelampung sehingga kita tidak ikut tenggelam
bersama kapal itu. Dan di tengah gelombang dasyat
itu, ayah dan ibumu terus berusaha untuk tetap
berpegangan agar tidak terpisah. Tapi sungguh
sangat disayangkan, saat itu tiba-tiba saja sebuah
benda keras yang tertinggal dari kapal yang
tenggelam itu menghantam lengan ibumu. Tak ayal,
kamu yang saat itu sedang berada di gendongan
ibumu seketika terlepas dan menghilang bersama
gelombang yang terus bergulung-gulung. Saat itu
kami cuma bisa pasrah dan menyerahkan semuanya
kepada Sang Pencipta.
Mendengar cerita itu, Jaka cuma bisa menangis,
begitu pun dengan Dara—sepertinya cewek itu
enggak kuasa menahan kepiluan dihatinya.
196
“Ayah, Ibu… tolong tinggalkan kami berdua!” Pinta
Jaka sopan.
Mengerti akan hal itu, orang tua mereka pun
bergegas pergi ke ruang tamu. Sementara itu Jaka
dan Dara yang masih di teras belakang tampak saling
berpandangan. Saat itu Jaka terlihat menghapus air
matanya, kemudian dia pun mencoba untuk
tersenyum sambil menghapus air mata yang mengalir
di pipi adiknya. “Wahai bungaku yang cantik,
tersenyumlah dan jangan lagi menangis. Kehidupan
ini hanyalah sementara, sebuah program virtual reality
yang seakan nyata. Sekali lagi, semua itu hanyalah
dunia semu yang sengaja diciptakan Tuhan. Mirip
seperti film Matrix, dimana pada film itu mesinlah yang
menciptakannya. Tetapi pada kehidupan kita, Tuhanlah
yang menciptakannya, dengan tujuan yang mulia
untuk menguji ketaatan hamba-Nya.
Walaupun kita enggak bisa saling mencintai
sebagai sepasang kekasih, tapi kita saling mencintai
sebagai kakak dan adik. Terus terang, cintaku
kepadamu kini benar-benar cinta sejati yang tanpa
197
ada sedikit pun noda nafsu birahi yang menyertainya.
Cinta yang tulus dimana aku kepingin selalu
memberikan kasih sayang kepada adikku tercinta,
tanpa harus mengharap imbalan apapun.”
Saat itu juga, Dara langsung memeluk kakaknya
sambil meneteskan air mata. Di dalam pelukan
kakaknya itu, Dara merasakan perasaan yang benarbenar
membuatnya merasa bahagia banget. Saat itu
dia merasakan betul, kasih sayang seorang kakak
yang kini sedang mengusap-usap punggungnya,
murni perasaan sayang yang diharapkan bisa
meredakan kegundahan di hatinya.
198
Sepuluh
\
ua tahun kemudian, di sebuah teras rumah yang
cukup sejuk. Randy dan seorang cewek tampak
sedang duduk berdua. Kini cewek itu tengah tersipu
malu, wajahnya yang manis tampak merona. “Ah,
kamu bisa aja, Ran. Apa iya aku seperti yang kamu
bilang?” tanyanya dengan wajah masih tersipu-sipu.
“Sungguh Manis, aku enggak bohong.
Kecantikanmu adalah anugerah yang diberikan
Tuhan. Mmm… betapa bahagianya orang yang
diperkenankan untuk memilikinya.”
Mendadak, hujan lebat turun bersamaan dengan
senyum simpul yang tersungging di bibirnya. Guntur
tak henti-hentinya berbunyi, membuat jantung
keduanya berdebar kencang karena keterkejutan yang
tak terkira.
Lagi-lagi guntur berbunyi dengan kerasnya. Kali ini
berbunyi lebih keras dari yang sudah-sudah. Si Cewek
D
199
spontan terkejut dan mendekap Randy dengan erat.
“Ran, aku takut,” katanya seraya menatap cowok itu
dengan hangat.
Randy pun terkejut bersamaan dengan
kehangatan yang dirasakannya. “Jangan takut,
Manis… kamu aman bersamaku,” kata cowok itu
menenangkan.
Bersamaan dengan itu, jantung Randy terasa
berdebar kencang. “Ya Tuhan… haruskah aku
menghindar, atau terus terlena dengan hal yang
selama ini enggak pernah kurasakan lagi. Sebuah
kesempatan langka, yang aku sendiri enggak tahu
apakah akan terulang lagi. Ya Tuhan… berdosakah
aku jika terus begini, tanpa upaya untuk berpaling
sedikitpun,” Randy membatin.
Selama dalam pelukan itu, batin cowok itu terus
bergejolak, meronta dan bahkan ingin menangis.
Nuraninya terus membisikkan kata-kata yang sama,
Istigfar dan menghindarlah segera, kemudian mohon
ampun pada-Nya. Di antara kebimbangan itu, tiba-tiba
setan hadir di benaknya, kemudian mahluk laknat itu
200
membisikan argumen yang membuatnya merasa
benar. “Tidak apa-apa,” katanya. “Kau kan bermaksud
memberikan ketenangan padanya, dan hal itu adalah
kebaikan yang mulia.”
“Tapi… dia bukan muhrimmu, tidak ada alasan
untuk menyentuhnya,” batin cowok itu kembali
memperingatkan.
Lagi-lagi setan kembali berargumen, dan dia
begitu lihai menyampaikan segala bisikan sesatnya.
Sebagai seorang yang masih lemah iman, ditambah
dengan gejolak darah muda yang menggebu-gebu.
Akhirnya cowok itu pun menuruti bisikan yang
menyesatkan itu.
Karena udah kian terlena dan adanya
kesempatan, cowok itu pun akhirnya melupakan
Tuhan. Imannya udah runtuh, bersamaan dengan
kecupan mesra di bibirnya. Hati nuraninya pun udah
enggak berkata-kata, dia diam membisu bersama
kesedihannya, kayaknya dia udah begitu kecewa
dengan perbuatan yang dilakukan Randy.
201
Karena hati nuraninya udah diam, maka setan
dengan mudahnya bisa membisikkan kata-kata yang
menyesatkan ke dalam lubuk hatinya makin dalam.
Enggak ada lagi rasa berdosa, enggak ada lagi
kecemasan yang semula begitu kuat. Yang ada
hanyalah nafsu setan yang terus bergelora, hingga
akhirnya terjadilah apa yang paling ditakutinya
…perzinahan…
Dan setelah semua itu terjadi, penyesalan pun
datang dengan sendirinya. Sementara itu dia melihat
cewek yang bersamanya tengah menitikkan air mata
nista, penyesalan yang enggak terkira karena telah
berbuat dosa.
“Ya Tuhan…. Apa yang telah kulakukan? Apakah
Engkau masih mau mengampuniku,” batin cowok itu
menjerit. Hingga akhirnya cowok itu tersadar dari
mimpinya.
“Alhamdulillah ternyata cuma mimpi,” Randy
tampak gembira. “Hmm… kenapa aku bermimpi
seperti itu, apakah itu sebuah peringatan kalo aku
harus segera menikah. Hingga enggak ada lagi pikiran
202
kotor yang selalu menghantuiku, terutama bila melihat
body seksi, di mana pun berada. Baik yang
berpakaian mini, maupun yang berpakaian ketat.
Jeans ketat misalnya. Bagaimana pun juga, aku ini
laki-laki normal, aku bisa menduga apa yang ada di
balik semua itu ‘Perhiasan Dunia’ Indah memang…
Namun jika bukan hak tentu bisa menjadi
malapetaka.” Tiba-tiba saja cowok itu teringat ketika
dulu dia pernah pacaran. “Hmm… Apakah semua ini
karena aku pernah pacaran, sehingga dampak
negatifnya masih terus mempengaruhiku. Soalnya,
dulu ketika aku punya pacar, setiap hari selalu
bergelut dengan dosa. Ciuman, pelukan, dan
bermanja-manja tanpa ada yang menghalangi. Dan
ketika melakukan itu kuselalu teringat akan dosa,
hingga batinku pun tersiksa karenanya. Namun bila
enggak melakukan itu, kepalaku pun pusing tujuh
keliling. Suntuk, BT, dan masih banyak lagi. Rasanya
sulit untuk keluar dari candu yang kayaknya udah
mendarah daging. Terus terang, Aku enggak bisa
pacaran tanpa melakukan itu. Apalagi jika dia, orang
203
yang begitu kucintai selalu memberikan kesempatan.
Semula niatku cuma untuk penjajakan, namun
akhirnya tenggelam dalam lembah dosa hingga makin
dalam. Satu-satunya cara untuk bisa lepas dari jeratjerat
dosa adalah meninggalkannya, meninggalkan
orang yang begitu kucintai. Namun aku enggak bisa,
sehari aja enggak bertemu rasanya enggak karuan,
apalagi jika harus meninggalkannya. Pernah temanku
menyarankan untuk menikahinya, tapi itu enggak
mungkin. Sebab kami masih SMA, yang tak mungkin
pernikahan itu bisa direstui oleh orang tua kami.
Sungguh kedua orang tua kami udah melupakan
Tuhan. Padahal, Tuhan-lah yang menentukan
segalanya, bukannya mereka. Tampaknya mereka
lebih mengkhawatirkan masa depan kami yang
mereka duga akan hidup sengsara, daripada
mengkhatirkan kami yang terus terlibat dengan dosa.
Setelah sekian lama mencari kebenaran, akhirnya
aku menemukan sesuatu yang selama ini kupandang
“enggak mungkin” menjadi “mungkin.” Lalu, aku pun
menyadari bahwa segala petunjuk-Nya pastilah benar
204
dan enggak mungkin salah. Hingga enggak ada
alasan bagiku untuk menolak petunjuk-Nya, menuju
jalan yang lurus, apa pun alasannya. Sejak itulah
kubertekad untuk berubah, tentunya dengan mengikuti
petunjuk-Nya. Semula emang terasa pahit, namun
setelah sekian lama, aku pun mulai terbiasa. Dan
perlahan-lahan kebenaran itu terasa makin nyata.
Semua itu berkat “Proses” yang terus kujalani dengan
sungguh-sungguh, ikhlas, dan dengan doa yang tiada
henti. Walaupun berbagai ujian terus bergulir sejak
awal tekad itu, pasang surut iman pun terus terjadi,
hingga akhirnya aku bisa mengambil sikap untuk
berani meninggalkannya, meninggalkan gadis yang
begitu kucintai.
Malam itu, di ruang tamu yang temaram. Ketika
suasana udah makin hening, dan ketika jarum jam
udah menunjukkan pukul 11 malam. Aku dan dia
duduk berdua, saling bertatap mata dan tanpa
senyum sama sekali. “Sayang… rasanya enggak
mungkin kita terus begini. Terus terang, aku takut
hubungan kita ini sampai keluar jalur. Bukankah kamu
205
tahu kalo setan selalu mengintai kita, menunggu iman
kita menipis, hingga akhirnya memperdaya kita
dengan segala bisikannya yang menyesatkan. Dan
jika hal itu terjadi, apakah kamu yakin kalo aku akan
bisa bertanggung jawab. Kalau pun kamu enggak
hamil, apakah kamu yakin kalo kelak aku pasti
menikahimu. Ingatlah, bukahkah jodoh itu takdir
Tuhan. Bagaimana setelah lama kita pacaran, namun
Tuhan enggak menakdirkan kita berjodoh, apakah
engkau enggak akan menyesal setelah tubuhmu
kunikmati begitu rupa.
Sayang… terus terang aku takut jika hal itu terjadi
padamu. Gimana jika kamu udah enggak suci lagi,
apakah masih ada yang mau denganmu. Nah, agar
semua itu enggak terjadi, gimana kalo hubungan kita
sampai disini aja. Namun, putus hubungan bukan
berarti kita memutuskan tali silaturahmi. Putus yang
kumaksud adalah kita jangan bertemu lagi sampai
aku siap melamarmu. Sebab kalo enggak demikian,
aku khawatir jika nanti bertemu denganmu justru akan
semakin parah.
206
Kamu tahu kan, jika aku sudah begitu rindu dan
diberikan kesempatan bertemu, tentu aku akan sulit
menahan diri buat mengungkapkan kerinduanku itu.
Minimal aku pasti akan menciummu. Kalau setiap
bertemu denganmu akan seperti itu, aku khawatir
akan seperti dulu lagi. Masih ingatkan kamu ketika
pertama kali kita pacaran, mulanya pegangan tangan,
terus ciuman, dan akhirnya menjadi kebiasaan.
Jangankan bertemu, bicara denganmu lewat telepon
saja sudah membuatku melayang, karena disaat itu
wajahmu selalu terbayang. Terutama jika kamu bicara
manja dan berkata manis, sungguh telah membuatku
terlena. Jika sudah begitu, aku pasti ingin bertemu.
Dan jika sudah bertemu, lagi-lagi aku pasti akan
menciummu.
Sayang… untuk sementara kuingin melupakanmu,
walaupun kutahu rasanya enggak mungkin bisa.
Kuharap dengan begitu, aku enggak melulu
memikirkanmu. Kalaupun aku udah enggak bisa
menahan rindu padamu, maksimal aku akan menulis
surat buatmu, dan kuharap kamu juga begitu.
207
Sayang… seandainya dulu cinta kita enggak diawali
dengan pacaran, mungkin enggak akan sesulit ini
jadinya.
Sayang… percayalah, kalo aku udah siap aku
pasti akan melamarmu. Dan jika suatu saat aku belum
melamarmu hingga akhirnya kamu mempunyai pilihan
lain aku pun enggak keberatan, menikahlah
dengannya. Jika kamu menikah dengan alasan ibadah
aku enggak akan pernah mengangapmu berhianat,
aku justru akan senang banget. Aku sadar, kamu itu
adalah wanita, dan wanita mempunyai batas waktu
lebih cepat ketimbang pria. Enggak akan kubiarkan
kamu menungguku sampai menjadi perawan tua.
Sebab, aku menyadari ajal itu tiada yang tahu.
Bagaimana jika aku mati sebelum sempat
melamarmu.”
‘Bunga’, cewek pujaanku itu tampak terdiam, dari
kedua matanya tampak mengalir air mata kesedihan.
“Tapi, Kak! Aku enggak bisa hidup tanpamu. Rasanya
sulit jika aku harus jauh darimu, dan aku enggak
mungkin bisa tanpa berjumpa denganmu. Kak,
208
kenapa kakak bicara begitu. Bagaimana mungkin aku
hidup dengan pria yang enggak aku cintai?” katanya
sungguh-sungguh.
“Kamu pasti bisa. Bukankah cinta itu tumbuh
karena terbiasa. Siapa pun orangnya asal dia baik dan
beriman tentu bisa membuatmu bahagia. Janganlah
melihat dari segi fisik. Sebab, semua itu bisa berubah
setiap saat.
Bunga seperti mengerti, namun air matanya
enggak berhenti berderai. “Baiklah, Kak. Aku
mengerti, dan aku akan mengikuti semua ucapanmu
itu,” katanya sambil terisak.
Dalam hati aku bersyukur karena dia bisa
menerima putusanku itu, walaupun aku tahu hal itu
sangat menyakitkannya. Malam itu aku langsung
pulang ke rumah, lega rasanya karena bisa
mengambil putusan yang begitu berat. Sepertinya
beban berat yang selama ini kupikul udah enggak
membebani lagi. Aku pun tidur nyenyak malam itu,
hingga akhirnya azan Subuh berkumandang. Seusai
209
sholat aku pun enggak lupa berdoa hingga akhirnya
sinar mentari menerobos memasuki kamarku.
“Randy… Randy…!” seru temanku yang
menemuiku dengan wajah enggak karuan.
“Ada apa, Ka?” tanyaku penasaran.
“Bu-Bunga, Ran.”
“Bu-Bunga. Kenapa Bunga?” tanyaku khawatir.
“Bunga udah enggak ada, Ran. Bunga udah pergi
mendahului kita, dia pergi dengan sebilah silet yang
ditoreh di urat nadinya.”
“Innalillahi wa innailaihi rojiun,” ucapku terkejut.
“Bungaaa…! Apa yang telah kamu lakukan…?” Air
mataku pun berderai. “Kenapa? Kenapa kamu
lakukan itu?” tanyaku berkali-kali. “Dasar bodoh,
Dungu… kenapa kamu mengambil putusan itu.
Kenapa kamu enggak percaya akan kata-kataku.
Padahal semula aku udah menduga kalo kamu bisa
mengerti, namun ternyata aku keliru—kamu sama
sekali enggak memahaminya.
Oh Bunga… Maafkan aku! Enggak seharusnya
aku mengambil putusan secepat itu hingga
210
membuatmu putus asa. Aku yakin, kamu melakukan
itu karena kepingin menghilangkan penderitaan yang
kamu rasakan. Namun kamu keliru, kamu sama sekali
enggak menduga kalo hal itu justru akan makin
membuatmu menderita di alam sana.” Tiba-tiba air
mataku kembali berderai, terbayang siksa neraka
yang akan menimpa dirinya, dengan silet itulah dia
akan membunuh dirinya terus menerus. Nauzubilla
minzalik.
Kepedihan hati yang tak terperi dikala bungaku
pergi, merana dan tersiksa batinku tiada terkira.
Bagaikan irisan sembilu yang dikucuri air cuka tanpa
belas kasihan. Oh bungaku sayang, maafkan aku
yang tiada mengerti, yang tiada memahamimu.
Sungguh aku enggak bermaksud begitu, aku
menyayangimu, aku mencintaimu, tiada maksud untuk
menyakitimu.
Sesaat aku merasa bersalah, namun hati nuraniku
segera membenarkan tindakanku yang mengambil
putusan itu. ‘Kau telah melakukan hal yang benar
Randy, kau sama sekali tidak menanggung dosa
211
karena perbuatan itu. Bungalah yang bersalah, dan
dia emang harus mempertanggungjawabkan
perbuatannya. Namun Tuhan tentu tidak akan
semena-semena memberi hukuman, sebab Dia
adalah hakim yang paling adil. Randy… ambillah
hikmah dari semua ini. Kalau orang sudah cinta
maksiat, imannya pun akan runtuh hingga enggak
tersisa. Hingga dia merasa putus asa dari rahmat
Tuhannya.’ Begitulah hatinuraniku memberikan
alasan, hingga akhirnya aku bisa kuat menerima
cobaan yang berat itu.”
Waktu itu Bunga emang enggak mengerti,
walaupun saat itu bunga bilang ‘mengerti’, waktu itu
dalam hatinya Bunga justru merasa kalo Randy udah
enggak mencintainya lagi, dan semua yang
dikatakannya itu hanyalah sebagai alasan saja.
Apalagi saat itu Randy menganjurkan kepada bunga
untuk menikahi orang lain. Emang begitulah jalannya.
Sebab jika tidak, Randy tentu enggak bakal tahan dan
akhirnya kembali menemui Bunga—gadis yang begitu
212
dicintainya. Dan dengan kepergian Bunga itulah justru
menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya.
Semenjak kepergian Bunga, Randy makin
menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Hingga
akhirnya dia tetap sendiri hingga sekarang. Begitulah
Randy telah mengingat kembali masa lalunya yang
membuatnya berniat untuk melamar cewek yang
waktu itu pernah diikutinya di Mal, cewek yang
ternyata adiknya Jaka. Siapa lagi kalo bukan Dara,
cewek yang dulu pernah mencintainya.
“Oh Dara-ku Sayang… Kamu sungguh begitu
manis, ketika tersenyum sungguh sangat menawan.
Oh indahnya bungaku yang indah, semerbak harum
mewangi selalu menyertaimu. Sepertinya setiap saat
kuingin selalu bersamamu, berbagi manisnya cinta
yang senantiasa menyelimuti. Oh bungaku tersayang,
wajahmu selalu terbayang. Cantik dan penuh pesona.
Indah, penuh makna yang begitu dalam, menyeruak
ke lubuk hati terdalam,” ungkap cowok itu, sepertinya
dia udah enggak sabar lagi ingin segera
meminangnya.
213
Maklumlah, semenjak Randy mengetahui Dara
dan Jaka bersaudara, pemuda itu emang sempat
mengatakan isi hatinya kepada Dara. Kalau dia
emang mencintainya. Dan di saat itu pula, Randy yang
enggak mau ‘pacaran’ telah berjanji akan melamar
Dara secepatnya.
Kini pemuda itu sudah diberi peringatan lewat
mimpinya, dan sekarang enggak ada alasan bagi
cowok itu untuk menunda keinginannya. Lagi pula,
usaha MLM (Multi Level Marketing) yang
dijalankannya dengan cara Islami selama dua tahun
ini udah membuahkan hasil yang cukup lumayan.
Karenanyalah dia merasa udah benar-benar siap lahirbatin
untuk menikahi Dara. Sementara itu di tempat
lain, Dara sedang duduk sendiri, di tangannya terlihat
kotak teka-teki warisan kakeknya.
“Hmm… Kenapa aku masih belum bisa
membukanya. Apakah hatiku masih belum bersih.
Padahal selama ini aku udah berusaha untuk
membersihkannya.”
214
Sejenak Dara memikirkan hal itu sambil terus
mengutak-atik kotak teka-tekinya, hingga akhirnya,
“Ah, sudahlah… hatiku emang enggak mungkin
bersih. Sebab, udah banyak banget dosa-dosa yang
aku lakukan, sedangkan hal-hal baik yang selama ini
kulakukan sama sekali belum apa-apa. Semua itu
belum bisa membayar semua dosa-dosaku. Tapi, aku
yakin. Tuhan itu Maha Pengampun. Biarpun dosaku
sebesar gunung, ada harapan Beliau mau
mengampuninya. Ya Allah, Ampunkanlah segala
kekeliruanku selama ini. Aku emang udah terpedaya,
kebodohanku selama ini udah membuatku merasa
menjadi orang baik. Padahal, semua itu belum tentu
baik di mata-Mu. Aku emang sangat bodoh jika
merasa bisa membuka kotak ini, padahal sampai
matipun aku enggak mungkin tahu kalo hatiku udah
bersih atau enggak. Kini aku udah pasrah dan akan
selalu mengharap cinta-Mu. Kini aku udah enggak
peduli lagi, apakah kotak ini bisa kubuka atau enggak.
Yang terpenting buatku sekarang, adalah terus
berusaha agar bisa lebih bertakwa kepada-Mu dengan
215
benar-benar ikhlas, karena aku ini emang hanya
seorang hamba yang cuma bisa berharap dan
memohon belas kasih-Mu agar senantiasa bisa
mencintai-Mu. Dan aku sangat bersyukur karena
Engkau telah memberikan hidayah kepadaku,
sehingga aku bisa memahami semua ini.”
Mendadak TRAKK… kotak teka-teki itu terbuka.
Sesaat Dara sempat terpana dibuatnya. Ketika dia
udah enggak peduli dengan kotak itu ternyata kotak
itu malah bisa dibuka dengan mudahnya. Kini dia
tampak sedang membaca kalimat ajaib yang pernah
diberitahukan oleh Neneknya, yaitu kalimat yang bisa
membuatnya hidup bahagia.
Cucuku tersayang, keikhlasan dan rasa syukur
dalam menyikapi kehidupan adalah kunci
kebahagiaan. Sebab, keiklasan dan rasa syukur itu
merupakan ungkapan cinta kita yang sebenarnya
kepada Tuhan. Jika kamu benar-benar sudah ikhlas
dan senantiasa bersyukur, Insya Allah kamu akan
menjadi orang yang berbahagia, dunia dan akhirat.
216
Dara meneteskan airmatanya. Kini segala
pertanyaannya terjawab sudah, kebersihan hati adalah
buah dari keikhlasan dan rasa syukur. Pantas saja
selama ini dia enggak bisa membuka kotak itu,
rupanya dia belum benar-benar ikhlas dan tak pandai
bersyukur. Saat dia sudah tidak mengharapkan
terbuka kotak itu dan merasa bersyukur atas hidayah
yang Allah berikan. Saat itulah hatinya kian bersinar,
hingga akhirnya kotak itu bisa terbuka karena
kebersihan hatinya.
Seminggu kemudian, Randy benar-benar
mewujudkan niatnya. Dia bersama kedua orang
tuanya datang melamar Dara. Saat itu, Jaka yang
mengetahui kedatangan sahabatnya untuk melamar
Dara tampak senang banget. Dia benar-benar enggak
menyangka kalo sahabatnya itu akan menikahi
adiknya.
217
Jaka yang selama ini berpacaran dengan Dita,
akhirnya ingin mengikuti jejak sahabatnya, yaitu ingin
menikahi gadis yang kini sangat dicintainya. Selama
ini pun mereka enggak pacaran seperti orang
kebanyakan. Selama ini mereka cuma bertemu sekalisekali
dan enggak pernah jalan bareng. Jikalau
bertemu itu pun di siang hari, dimana di muka rumah
banyak orang yang berlalu lalang.
218
Assalam….
Mohon maaf jika pada tulisan ini terdapat
kesalahan di sana-sini, sebab saya hanyalah manusia
yang tak luput dari salah dan dosa. Saya menyadari
kalau segala kebenaran itu datangnya dari Allah SWT,
dan segala kesalahan tentulah berasal dari saya.
Karenanyalah, jika saya telah melakukan kekhilafan
karena kurangnya ilmu, mohon kiranya teman-teman
mau memberikan nasihat dan meluruskannya.
Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih
banyak.
Akhir kata, semoga cerita ini bisa bermanfaat buat
saya sendiri dan juga buat para pembaca. Amin…
Kritik dan saran bisa anda sampaikan melalui e-mail
Agus.briyan@gmail.com
Wassalam…
[ Cerita ini ditulis tahun 2000 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s